Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Sepasang Sepatu"

Ikatan antara Aku dan Kau
bagai sepasang sepatu
Tak sama namun serupa
Selalu beriringan meski tak bergandengan
Kiri dan kanan tak saling meniadakan

Ketika langkah kaki menapaki bumi
Menelusuri arah yang pasti
Kita selalu bergerak silih berganti

Kau dan aku pernah terpisah
Oleh rindu dan cemburu
Kala itu kau terlempar
Berjarak karena biak berarak

Ku mencarimu di setiap sudut
Ke balik padang yang tak tembus pandang
Ke ujung tebing yang mendulang hening
Ke dalam pelukan parit-parit sempit

Ketika waktu rela menunggu
Bersimbah ragu dalam sebuah regu
Saat itulah putus asaku merayu
Tetapi kuyakin pasti kan bertemu

Sekian lama kucari akhirnya bertatap jua
Sementara rintik hujan tak kunjung reda
Namun hadirmu laksana lingkar warna
Ketika pelangi datang merubah suasana

Kau sedialah di sisiku
Sebagai cahaya bagi gelapnya malammu

Aku adalah ruas lain bagimu
Seperti ketika cermin ada di hadapanku
Kau sebagai bayangnya
Sedang aku menjadi bendanya

Dan akhirnya akan menyatu
Dalam satu waktu

"Di Penghujung Waktu"

Entah sudah berapa lama waktu berlalu
Semenjak berjumpa kala itu
Puncak semeru menjadi saksi bisu
Akan janji setia untuk bersama selalu

Desas desus terselip di antara perdu
Ketika padang ilalang bergerak tak menentu
Sedang rumbai pagi masih menunggu
Di sepanjang tepi sunyi sebuah ranu

Tatkala burung-burung berkicau
Desau angin berkabar pedih nan sendu
Saat itulah ragu beradu
Mengetuk segenap relung yang pilu

Nun jauh di dalam taman impian
Kupu-kupu elok nan menawan
Serupa pelangi kala air dan sinar tengah berpelukan
Yang menoreh keindahan dan harapan

Ketika detak jam terhitung hari
janur dan selaksa mata akan bersaksi  bahwa ikrar dan lingkar di jari sebagai tali suci
Bagi dua insan tuk menjalani sepenuh hati
Menghimpun masa lalu, kini dan esok hari

Di penghujung waktu keduanya telah bersama
Sembilan dan dua belas sebagai bingkainya
Berkelana di rimba dunia yang hanya sementara
Untuk dapat hidup bahagia dan bergelimang sayang, juga sejahtera
Demi merengkuh nikmat dan ridho yang mahakuasa

Ya Robbi
Hanya kepadaMu kami kembali

"Rumah Sementara"

Kucari diary yang telah lama terbaring di lemari
Saban halaman kubuka perlahan
Bagai menimang-nimang seorang bayi:

Jauh di dalam sana, selaksa mimpi
Yang telah dan akan kugapai
Terukir indah nan rapi

Ruas jariku bergerak lembut
Dari satu huruf ke huruf
Melompat dari kalimat ke paragraf
Spasi dan bunyi kurekam dalam-dalam
Hingga jiwaku terbang di antara angan-angan dan kenyataan

Sampai ku berhenti
Tepat di halaman dua puluh empat
Di mana terpaut janji suci
Janji untuk sehidup semati

Tiada kusangka itulah hari ini
Hari yang telah lama dinanti-nanti:

Bagiku altar sudah terlampau sunyi
Ketika kami duduk bersebelahan
Sedang ayat suci sedang dilantunkan
Sebagai cahaya di lembar penyatuan

Kala sebuah cincin melingkar di jari
Tak terasa air mata membasahi pipi
Sementara saban mata yang ada Masih merekam dari segala sisi

Suara-suara telah seirama:
Halal, halal, halal
Berselang bunyi dengan nada berbeda:
Sah, sah, sah

Awal dan akhir dari mimpi-mimpi
Bergerak dari titik ini
Mimpi berpendar dari dunia imajinasi
Balik ke alam nyata yang hendak dibangun kembali

Detik demi detik akan disusuri
Kadang kala badai menyusup melalui ventilasi
Mengusik seluruh isi
Menerpa semua sisi
Tiang dan panji direngkuh sepenuh hati

Namun kala angin sepoi-sepoi menyelimuti
Teguh berdirilah dalam menghadapi
Sebab boleh jadi terselip cobaan
Terukir pesan-pesan yang hendak disampaikan

Hari berganti hari kan dilalui
Bersama-sama meniti langkah
Berharap sakinah dan mawaddah juga warahmah
Dari Tuhan mahapenyayang lagi pemurah

Masa ke masa silih berganti
Di bawah atap sunnah berdinding ibadah
Berharap berkah penuh hikmah
Walau hati dan laku berpindah-pindah
Hingga jiwa dan raga berpisah terbaring lemah berkalang tanah

Ya ilaihi rabbi
Hanya kepadaMu kami kembali

"Dari Hulu ke Hilir"

Tengah malam menjelang fajar
Kaum bersarung datang berduyun-duyun
Menanggalkan kemul berbalik arah menuju surau
Surau sederhana bergaya lama
Di sanalah mereka berkumpul begitu lama

Lama menimba ilmu dengan bercengkrama bersama
Bersama-sama menangkap suara
Suara hati dan ilmu sang kyai
Kyai yang meneruskan ajaran nabi
Nabi terakhir yang kita teladani

Wajahnya berseri-seri
Seperti bunga di musim semi
Tidak seperti kami yang hanya terberi
Oleh ingin yang memoles diri dengan warna warni

Kami hanyalah kaum yang pandai mengaku
Merasa Dekat dengan sang kekasih hati
Yakni manusia biasa yang memang benar-benar manusia seperti kami
Ketika dihitung masa, dirunut sanad engkau terlampau jauh dari kami

Di sisi lain kami laksana ranting ke sekian
Dari selaksa cabang yang merenggang meninggalkan batang
Dari terusan yang mengalir dari hulu ke hilir
Di tengah perjalanan berbaur dengan batuan, limbah dan lumpur

Kami latah bersumpah atas nama ajaran yang kau bawa
Lantaran sebagian kitab telah kami baca
Karena rasanya semua ibadah sudah terlaksana
Sebab sepertinya kami di jalan yang sama

O sang pelita
Kaulah cahaya sehangat purnama

Kami begitu bangga akan pesona dunia
Merasa bangga selama berkuasa
Merasa mulia ketika dipuja
Merasa hina jika tidak punya apa-apa
Merasa hebat walau sedang tersesat
Merasa hidup selamanya padahal sedang lupa

O baginda shalawat serta salam bagimu
Kami sungguh merindukanmu

Engkau panutan, sementara kami sekedar simpatisan
Engkau panduan, sedang kami hanyalah partisipan
Engkau lentera, namun kami cuma pembias cahaya
Engkau memanusiakan manusia, tetapi kami menistakan sesama

Ya kekasih Allah
Akhlakmu luhur ketimbang sekian jiwa yang terlahir

Akankah syafaatmu menyertai kami?

"Simfoni Pagi"

Kali ini kubicara melalui butir embun
yang melingkar di daun
Yang membeku bersama sunyinya malam

Di panggung yang sepi
Ayam-ayam mulai bernyanyi
Bagai simfoni di persimpangan malam dan pagi

Sementara lantunan jangkrik di semak belukar
Bergetar-getar bagaikan tarian senar gitar

Mereka berjumpa di badan suara
Kemudian menyulam irama jagat raya

O talas yang tak tersentuh basah
Lihatlah mutiara pagi mulai berseri
Tatkala bening berpendar
Lalu menyentuh jiwa yang keruh
Komposisi terus berganti
Hingga keduanya kembali

O rumput yang bermain bersama serangga
Menari-nari ala pesta dansa
Dengan tegar melepas nafas segar
Sementara di belakang sana
Asap mengepul tiada terkira

Pipa-pipa sedang berdendang:
Paru-paru hutan tinggal separuh
U lea u lei o le
Separuh lagi sudah ditaruh
U lei u lea u le

O kumbang yang bertandang meninggalkan sarang
Menuju istana utama: mahkota bunga
Dengan riang penuh suka cita
Sari-sari kini bertaruh di ujung paruh
Mencecap manis terkuras abis

Butir-butir gula bagai paduan suara:
Manismu tak semanis tebu
E ule lei u Leo
Habis sudah sepah jadi sampah
E lea ule a leu

Mentari hanya tersenyum lebar
Sedang semburat cahaya tampak tegar
Kala suaranya terdengar
Namun simfoni pagi tertidur
Berpendar lalu pudar



"Hari H"

Jauh-jauh hari siapkan diri
Ketika pendulum waktu berlari:
Perayaan hari-hari besar bertamu lagi

Sorak sorai begitu ramai:
Hore...hore..hore...

Anak-anak berlari-lari kesana kemari
Wajah mereka berseri-seri
Bahagia tiada tara
Duka lara seakan tak terbaca

Itulah di negeri kami...

Sementara di negeri seberang
Anak-anak masih berjuang
Mencari riang yang hilang
Sebab perang masih meradang

Pelor senapan datang bagai angin topan
Rudal jatuh seperti rintik-rintik hujan
Bom hancur sekitar pun lebur lalu terkubur
Ranjau tanam bak sedang bercocok tanam

Begitulah balada nun jauh di sana..

Andai hari biasa tak berbisa
Tak seperti ular yang haus menikam mangsa

Andai jiwa masih lebih berharga
Dari sebarel minyak dunia
Dari secangkir air pelepas dahaga
Dari selembar kain yang menutupi raga
Dari sebongkah aksesoris penghias citra
Dari segenggam makanan penambah tenaga
Dari sebaris kata pelengkap fatwa
Dari seuntai ideologi pengikat dunia

Dalam hati bergejolak jua:
Ah, sepertinya kami terlalu mengada-ada
Bisa berdiri pada hari H
Sudah sangat luar biasa
Apalagi bisa menghamba pada Tuhan yang mahasuci
Kala nuansa seperti ini

Apakah kami terlalu bermimpi?
Berharap api lekas mati
Berharap padi segera berisi
Berharap tembok masih berdiri tegak
Berharap uluran tangan bukan dipermainkan
Berharap lelap tidak didera kalap

Ya Robbi 'izzati
Kami yang berdiam di sini
Melalui bait-bait sunyi
Berharap kalian seperti kami

Akankah selalu seperti ini?

"Kembang Wangi"

Malam serasa berbeda jika kau ada di sana
Kau Sembunyi di balik buku yang kau baca
Ku hanya diam seribu bahasa
Ingin kueja kata-kata yang kau baca
Agar aku mengerti apa yang sedang kau rasa
Namun semakin ku mencoba
Diriku tak kunjung bisa menerka

Kau memang seperti mawar berduri
Semakin ku dekati, durimu kian menyakiti
Namun wangimu selalu bisa kunikmati
Walau aku tiada pernah mengerti
Laksana sedang sakau di atas kesadaran diri

Pagi serasa berbeda kalau kau ada di sana
Kau Sembunyi di balik laku yang cenderung kaku
Ku hanya terpaku bagai membatu
Namun sederhanamu selalu bisa buatku membisu
Walau ku tak kan pernah tahu
Bagai terbidik pelor tajam sang pemburu

Kau bagai fatamorgana di jalan yang mulus
Semakin ku dekati, bayangmu seakan-akan mulai terhapus
Namun hadirmu sungguh nyata
bagai kapur barus yang belum tergerus
Walau terkesan putih mulus
Seperti bayang-bayang yang gamang
Tuk lekas membekas paras yang telah terlepas

Di mana pun kau berada
Kau seperti paradoks yang selalu terjaga
Meski berada di sisi berbeda
Kau seperti pembeda di tengah gelap dan sunyinya rimba
Ketika padang cahaya sudah tak tertera

Ketika kurangkai semua
Kau telah tiada
Ketika kujalin yang tersisa
Kau seolah menjadi sia-sia
Ketika hilang seketika
Kau menjadi bayangan yang nyata
Lenyap nan fana

Hidup di manakah kita?

Tersiar kabar melalui dunia maya:
Publik ramai tunjuk sana dan sini
Emosi buncah bagai erupsi gunung berapi
Melahap segala yang dijumpai
Lantaran Kata-kata tanpa ekspresi
Sebab tanda-tanda tanpa bunyi
Tersebar melalui suara dan frekuensi
Sampai menunggangi kendali hati nurani

Seketika celah-celah terbuka lebar
Selebar lubang antara anyaman pagar
Namun suara-suara masih terdengar
Dari lidah dan bibir yang bergoyang
Lalu menusuk telinga yang sembarang menangkap getar
Kemudian angin genit pun tiba-tiba mengusik sabar

Kini nasi telah menjadi bubur
Citra yang gugur umpama daun pada musim gugur
Darah daging saudara telah hancur lebur
Dilumat badai sekelebat kilat bergemuruh guntur

Sekarang sudah terlanjur terlempar
Ke dunia luar yang sungguh liar
Yang Jauh berbeda dengan layar kaca Itulah dunia kita, realita
Dunia yang penuh dengan kata, tanda, suara, etika, dan semua yang ada
Dan yang telah tiada

Keduanya boleh jadi berubah semaunya
Bisa jadi merubah segalanya

Hidup di manakah kita?

"Tolonglah Kami"

Jangan biarkan kami terlena
Lega sewaktu berlaku tega
Bangga bergelimang dosa
Tenggelam dalam samudera nista
Merenggut nyawa yang tak berdosa
Bahkan menghalalkan segala cara
Hanya untuk menguasai yang fana
Bukan tuk ridho sang pencipta

Maka tolonglah kami
Dari pikiran yang tak terisi
Dari laku yang keji
Dari jiwa yang tidak murni
Dari raga yang hilang kendali
Dari hati yang mati

Hanya itu yang kunanti
Cintai dan ridhoilah kami

"Menyusuri Jejak"

Perjalanan adalah untaian pengalaman yang mengisahkan suatu misteri, peristiwa, proses, perjuangan, kenangan dan harapan. Kadang kala berjumpa dengan yang diharapkan dan diimpikan. Namun terkadang pula situasi dan kondisinya tidak sesuai, tiba-tiba hadir dalam kehidupan kita.

Sepanjang jalan yang penulis lalui, banyak tempat dan peristiwa yang bisa diamati dan dinikmati. Kampus yang megah dengan bangunan intelektual, spiritual dan ruang aktualisasinya. Sekitarnya banyak kos dan kontrakan yang penuh oleh orang yang berdomisili sementara baik untuk mencari ilmu atau bekerja. Sebelah kanannya terdapat toko kecil dan ruko bersebelahan dan di seberangnya ada mall,sehingga tampak adanya romansa persaingan. Entah yang mana yang akan mampu bertahan, tinggal menunggu waktu.

Setelah itu kendaraan yang kami tumpangi menambah lajunya, dipinggir jalan terlihat pengemis yang menengadahkan tangan kepada orang yang ditemui.  Pengamen melantunkan lagu dengan suara merdu dengan iringan bunyi gitar, jimbe dan ecek-ecek. Sedang rekannya yang lain keliling menghampiri pendengar sembari mengais uang recehnya. Terkadang yang dihampiri ikut bernyanyi seperti menikmati.

Kendaraan kami berhenti di pertigaan lampu merah. Polisi lalu lintas asyik mengatur lalu lalang kendaraan supaya lancar, karena seringkali terjadi kemacetan. Apalagi pagi hari saat itu merupakan weekend dan sedang ada karnaval. Jalan yang kapasitasnya bertambah sedikit tidak diimbangi dengan membeludaknya jumlah kendaraan yang turun ke jalan.

Lampu hijau pun menghitung mundur, kendaraan kami berangkat lagi. Di sebelah kiri kami sedang ada pembangunan perumahan elit. Bukan untuk kalangan kelas bawah namun bagi kalangan menengah ke atas. Tukang bangunan sibuk mendandaninya sesuai rencana awal. Padahal saat ini harga material dan kayu sedang melonjak tinggi, seperti naiknya harga daging saat bulan puasa. Naiknya cepat, tetapi turunnya lama. Maklum ikut merasakan dampaknya, hehehe.

Kemudian sekitar 20 meter terdapat rumah tua seperti tiada penghuninya. Temboknya tampak lusuh, rumputnya tinggi, kembagnya seolah tidak terawat, dan kursi di teras kotor dan tidak tertata. Sebelah rumah itu ada tanah lapang seperti lapangan sepakbola, namun tiang gawangnya berkarat seolah jarang dipakai. Rumput yang tumbuh di lapangan tersebut terbilang subur, yang di dalam garis tingginya hingga di atas mata kaki, sedangkan yang di luarnya setinggi lutut orang dewasa.

Dalam diam penulis memikirkan kondisi sepakbola di negeri ini. Tempat latihannya ada tetapi tidak bisa dipakai karena belum rampung dan kesandung kasus. Tempat pemusatan latihan yang digadang-gadang menjadi ikon baru tersebut sampai sekarang masih belum jelas nasibnya. Pengurus lembaga olahraga yang melontarkan jargon "Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat" tersebut, justru kasusnya tidak sehat. Tetapi tidak semuanya yang seperti itu, hanya segelintir oknum saja.

Kemudian di seberang jalan ada kantor dinas, yang bersebelahan dengan sekolah SD, SMP dan SMA, yang gerbangnya baru dibuka. Hanya ada pak kebun yang sedang bertugas, mengalahkan pejabat dinas yang kadang-kadang telat datang walau ada rapat tentang nasib rakyat. Tukang kebun seperti pegawai sungguhan yang berwenang mengurusi keindahan dan tatanan lingkungan. Seperti biasa di depan pagar, ada pedagang kaki lima yang berderetan.

Sepanjang trotoar, gerobak mereka menawarkan jajanan ringan untuk semua kalangan, harganya pun terjangkau. Pembeli yang datang mengantri seperti antrian BBM ketika sedang mengalami kelangkaan, akibat merebaknya wacana kenaikan harga bahan bakar kendaraan. Padahal banyak yang 'nakal' menumpuk bahan bakar itu dalam jumlah banyak di gudang-gudang kosong, sehingga kelangkaan pun terjadi, hampir setiap tahun seperti itu. Antrian seperti ini sudah biasa, namun tetap budaya tertib masih dipegang oleh warga, sambil menunggu mereka bertukar cerita.

penulis merasa seperti kembali ada kenangan masa pelajar dulu. Setelah beli jajanan kemudian duduk di depan kelas untuk menyantap bersama-sama. Tertawa, bercanda ria dan bermain bersama, karena saat itu, belum ramai yang punya gadget, hehehe. Kalau sekarang kan bisa main game sendiri meskipun sedang berkumpul dengan teman-teman.

Setelah itu, penulis melihat pondok di sebelah kiri jalan. Santri-santrinya memakai peci hitam dan sarung, dengan kitab dan polpen di tangannya. Mereka berasal dari berbagai daerah, sehingga karakter, bahasa dan coraknya berbeda-beda. Ada yang diantar keluarganya dan ada juga yang tidak. Mereka belajar ngaji, hidup mandiri dan mengabdi di lingkungan pondok tersebut.

Beberapa meter dari pondok tersebut ada pabrik gula. Seperti biasa, pabrik tersebut ramai dengan antrian truk pembawa tebu. Sopirnya rela menunggu sambil merokok tapi tidak meninggalkan truknya. Namun Ada pula yang mengantri dengan istirahat di warung kopi atau di tempat lain. Tanpa mereka mungkin kita tidak bisa menikmati manisnya gula.

Meski harga gula di pasaran merangkak naik tetapi tidak membuat status ekonomi mereka ikut naik. Para Petani memasrahkan hasil panennya ke pabrik melalui beberapa tahapan, yang cenderung mencekik mereka. Apalagi jika ada permainan pasar yang tidak sehat. Sepertinya bukan hanya komoditas tebu yang mengalami fenomena ini. Padahal ada yang bilang kalau kita negara 'agraria' dan 'maritim', tetapi masih kesulitan mendapatkan bahan-bahan pokok, seperti beras dan gula. Bahkan pemerintah masih (sering) membuka kran impornya dengan lebar. Bisa dikatakan bahwa faktor penentunya terlalu banyak dan rumit.

Ketika angin yang bertiup bertambah kencang, tiba-tiba truknya berguncang karena jalannya bergelombang. Sontak seketika teman-teman perempuan berteriak, yang tidur menjadi terbangun, sedang yang laki-laki sebagian sholawat dan bernyanyi. Seolah truknya menjadi tempat konser artis luar negeri yang sering diikuti (menjadi tren setter) oleh anak muda. Kalau tidak mengikuti tren katanya tidak kekinian.

Saat itu terjadi, penulis melihat di sebelah kiri ada masjid jami' dengan ukiran kaligrafi di dindingnya. Ternyata masjid itu pernah menjadj posko pengabdian masyarakat (akronim: PM) oleh mahasiswa UIN Malang. Masjid tersebut tempat dilaksanakan pengajian rutinan, kegiatan keagamaan dan diniyah oleh warga setempat. Gerbangnya terbuka bagi pendatang yang mau beribadah dan beristirahat sejenak dari perjalanan jauh.

Tidak jauh dari sana, ada jembatan yang besinya telah berkarat. Melihat kondisinya, jembatan tersebut dibangun sudah puluhan tahun. Di bawahnya, sungai mengalirkan air ke sawah milik petani. Konon dahulu airnya bisa dipakai mandi dan minum, karena masih bersih dan bening. Namun saat ini sudah jauh berbeda, penuh dengan lumpur dan sampah yang dibuang ke sana.

Setelah melewati jembatan, kami melihat sawah dengan hamparan padi, pohon pisang, rumput gajah dan petani yang istirahat bersama istri dan anaknya di rumah-rumahan sawah yang beratapkan jerami. Kakinya masih menyisakan lumpur kering yang tampak putih. Mereka makan bersama dengan lauk seadanya, tapi wajahnya tampak bahagia, berseri-seri dan energinya pun kembali. Sosoknya pun mengendap di balik daun-daun, ketika kami melewati kebun di sebelah kiri dan kanan kami.

Udara segar dan sejuk ketika melewati kebun muncul dari rindangnya pepohonan dan semak belukar. Warna daunnya masih hijau dan tanamannya beragam. Berbeda dengan di pusat kota, hutan beton, kaca dan plastik mengganti tanaman organik. Kemudian sampailah kami di bibir pantai. Angin laut, pasir dan batu karang menyapa dengan tenang. Tidak terkecuali debur ombak yang bernyanyi gembira.

Di sana keakraban, kebersamaan dan persaudaraan kami terasa meski hanya dengan permainan sederhana dan kumpul bersama. Asal, bahasa, warna kulit dan jabatan memang berbeda, namun dalam bingkai yang sama; satu rasa, cita dan nuansa, seolah tiada yang berbeda. Semua saling membantu, mendukung, melebur dan belajar bersama.

Kekurangan anggota yang lain ditutupi dengan kelebihan yang lain, melalui tegur sapa dan kerjasama. Sesuatu yang terlupa untuk dibawa, mulai dipikirkan dan diselesaikan bersama. Keriuhan, kebimbangan, keburu-buruan, keletihan, dan kejengkelan terkadang terlukis di raut wajah mereka. Namun hanya menjadi bumbu semata, tanpa memendamnya berlarut-larut. Karena semua itu larut bersama cerita, suara, canda tawa, dan usaha mereka.

Mereka mencontohkan adanya miniatur kecil sebuah negara. Negara yang pemerintah, rakyat, perangkat dan sistemnya berjalan beriringan, bergandengan dan terintegrasi dengan baik untuk tujuan tertentu. Bukan yang mengagungkan kekuasaan, memperlebar gap dan perselisihan, membiarkan ketimpangan dan ketidakadilan, membiasakan kecurangan dan saling menjatuhkan, serta menghilangkan kepercayaan di antara mereka dan meninggalkan tujuan utama.

Seperti biasa akhir acara ditutup dengan foto bersama, ibadah berjamaah, kemas barang bergotong royong, mandi dan kumpul lagi. Kemudian satu persatu naik truk, dimana yang takut atau tidak bisa naiki truk, dibantu oleh teman-temannya yang lain. Sebelum berangkat semua berdoa dan bersholawat. Dan akhirnya beranjak pulang.

Malam bertambah gelap, peserta sebagian tidur, sementara yang lain bertukar cerita dan bernyanyi bersama. Sedangkan penulis sibuk melihat kiri dan kanan jalan. Keluar dari hutan, sebuah desa mengalami pemadaman serentak. Akhirnya mereka terpaksa menggunakan lampu minyak sebagai penerangan. Sehingga menambah romantisnya suasana desa.

Sejenak ku terlelap dan terbangun ketika truk memasuki kota. Warung-warung pinggir jalan mulai ramai dengan pengunjung sendirian dan berpasangan. Gerobak nasi goreng, sempol, cilok, jus, martabak, dan aneka kuliner lain seakan tidak mau ketinggalan. Jalanan pun semakin macet karena banyaknya kendaraan yang tumpah ke jalan, dan trotoar penuh sebagai cabang parkiran.

Kuliner di kota memang beraneka rupa dari tradisional hingga kekinian, baik yang berada di restauran, foodcourt, kantin, warung remang-remang, kedai kecil, warkop, mall, dan warung makan pinggir jalan. Wajah malam di kota cenderung ramai hingga menjemput pagi. Begitulah seterusnya, sehingga banyak orang kota yang merindukan suasana desa dan destinasi wisata.

Malam dan pagi dengan segala gejala dan isinya memberikan warna tersendiri. Itulah untaian kisah yang kami lalui. Jejak langkah tidak berhenti sampai di sini, dari bangun lalu tidur, dan bangun lagi. Semoga ada Hikmah di balik semua ini.

"Merindukan Lindu"

Menjelang pertengahan malam, tiba-tiba gempa menggoyang dengan kekuatan 6,2 skala Richter. Gejala alam tersebut seringkali terjadi di negeri ini. Saat gempa berlangsung sebagian orang berlomba-lomba keluar dari bangunan bertingkat, karena khawatir roboh. Ada yang sibuk update status dulu, kemudian menyelamatkan diri. Banyak yang tergopoh-gopoh mencari tempat yang tinggi karena takut terjadi tsunami. Bahkan ada pula yang tidak tahu kalau gempa sedang terjadi, karena asyik dengan aktifitasnya masing-masing.

Namun bagi petugas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (akronim: BNPB) ini adalah tugas kemanusiaan yang memerlukan penanganan secepat mungkin. Mereka harus melihat data dan langsung terjun ke lapangan untuk memastikan keadaan. Karena nyawa manusia sangat berharga. Dinas-dinas yang terkait biasanya ikut membantu melancarkan proses penanganan, penampungan dan pendampingan.

Namun gempa kali ini tidak begitu terdengar, hanya setengah hari kemudian pudar. Gelombang berita atau media seakan melebihi kekuatan gempa sehingga mampu mengalihkan gejala alam tersebut ke gejala sosial, politik, hukum dan budaya. Boleh jadi gempa yang menakutkan dan mengkhawatirkan telah pergi jauh, dan diganti hiburan seperti biasa. Sebentar penat, senang sejenak kemudian penat lagi.

Bagi pihak tertentu, gempa ini merupakan musibah atau teguran dari Tuhan. Pihak yang lain beranggapan kalau gempa ini hanya gejala alam biasa. Apa pun tafsiran masing-masing tepat benar sesuai sudut pandang atau alasan dari argumentasinya. Namun bertengkar untuk memperebutkan pihak yang benar -- tidaklah bijaksana, karena pertolongan pertama atau menyelamatkan jiwa korban (tindakan kemanusiaan) lah yang lebih baik.

Entah, bagaimana nasib para korban yang terkena musibah tersebut, kabarnya masih simpang siur. Pastinya mereka sedang merasakan kepedihan, kedinginan, kekhawatiran dan trauma yang mendalam. Untuk itu alangkah lebih elok jika bahu membahu membantu mereka. Walaupun mereka bukan saudara sedarah, sesuku, se-iman, bahasa dan budaya yang berbeda, tetapi masih bersaudara sesama manusia, hamba dan makhluk ciptaan Tuhan.

Perlu kiranya kita mengedepankan rasa persaudaraan, kemanusiaan dan kebersamaan, tanpa menungganginya dengan kepentingan, kedengkian dan kefanatikan. Sehingga situasi dan kondisi akan lebih cepat teratasi dan terkendali. Tentunya semua pihak harus terlibat, baik dengan menjadi relawan, donatur, tim SAR, grup Dapur umum, penjaga tenda pengungsian dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, gempa bumi (jawa: lindu) ini suatu saat akan menjadi ladang kerinduan bagi kita semua. Rindu akan indahnya keberagaman dan semangat gotong royong. Namun bukan berarti harus menunggu datangnya sang lindu, baru hidup rukun. Kerukunan merupakan salah satu jalan untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan.

Apakah ini terlalu muluk? Tentu tidak, jika kita berani melaksanakannya tanpa menonjolkan biang perselisihan. Tapi akan muluk jika selalu dibenturkan dan tidak diwujudkan. Perbedaan seringkali menjadi duri yang tajam sekaligus momok menakutkan untuk berani menerima keberagaman yang ada. Lantas bagaimanakah kita menyikapinya? Tentunya tergantung pada pribadi masing-masing.

Peristiwa atau tujuan lain seringkali menjadi media pemersatu bagi dua kubu yang sedang berjauhan. Boleh jadi gempa atau lindu kali ini adalah salah satunya. Itulah secuil hikmah di balik semua ini,semoga bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kami merindukanmu wahai Lindu, Tapi kami lebih mengharapkan kerukunan, kebersamaan, kesatuan dan kemajuan, tanpa kehadiranmu"

"Senjata Media berwajah Ganda"

Perkembangan media baik cetak maupun online dewasa ini sangat pesat. Media menjadi kiblat baru yang mengarahkan dan merubah pandangan dan kondisi sosial, politik dan budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Media dengan segala aspeknya menggerakkan pengguna, perancang, pemilik dan penciptanya untuk saling mempengaruhi dalam tingkat kesadaran tertentu.

Media dalam banyak referensi menjadi gerbang informasi, jembatan komunikasi, penyambung lidah, penentu kebenaran, penghias fenomena, penghukum dan penilai, penambah dan penguat referensi, perekat hubungan, pembelajar, pengarah dan penuntun, penghasut, pencetak, ruang kerja, marketing dan branding, dan lain-lain.

Dari sekian banyak hal terkait media, barangkali ada sesuatu yang positif dan negatif yang bisa direspon atau diambil. Bahkan boleh saja untuk tidak dipedulikan sama sekali. Semua itu tergantung dari pribadi masing-masing, mau di dalam lingkaran media, di orbit media atau di luarnya saja.

Media dalam hubungannya dengan aspek yang lain - sangat terkait bahkan tidak bisa dipisahkan. Misalnya, media dan politik, media menjadi kontrol terhadap dunia perpolitikan di wilayah tertentu. Kepentingan politik dan politik kepentingan akan mudah diketahui melalui media. Kuantitas dan kualitas berita seputar tokoh atau parpol tertentu akan lebih dominan dibandingkan yang lain. Hal ini tergantung dari kedekatan, transaksi, dan ikatan pihak yang berpengaruh dengan media tersebut.

Media dengan budaya misalnya, budaya baru cenderung akan lebih nge-tren ketika media telah mengangkat dan mengasuhnya dengan baik, melalui settingan tertentu. Sehingga masyarakat luas akan mudah merasa kalau tidak ikut-ikutan, akan dicap tidak kekinian atau ketinggalan zaman. Walaupun budaya tersebut belum tentu baik dan sesuai dengan kondisi mereka.

Dalam kondisi tertentu, isu SARA yang tayang melalui media seringkali menjadi ladang bagi pihak tertentu untuk mengambil keuntungan. Misalnya yang belakangan ini terjadi, beberapa orang merasa bahwa harus ikut menyampaikan pendapat atau kritiknya terkait isu agama di halaman media sosialnya. Entah itu dengan cara yang beretika dan tepat, ataupun tidak. Hal ini dapat membuat khalayak terprovokasi untuk melakukan pembelaan maupun perlawanan. Bahkan mampu memecah masyarakat ke dalam beberapa kelompok, baik kecil maupun besar.

Maka dari itu diperlukan proses penyaringan, verifikasi atau analisa terlebih dahulu terhadap informasi yang diterima. Jangan sampai membiasakan klik dan sebar tanpa membacanya dengan cermat. Padahal informasi tersebut mengandung ujaran kebencian, penipuan, penghasutan, dan konten lain yang negatif. Satu klik bisa mendidik, bisa juga mencekik; satu kali sebar mampu mengajar, juga menghajar.

Hal ini sering terjadi, sehingga menimbulkan keresahan, kegaduhan, perselisihan, bahkan rusaknya persaudaraan, persatuan dan kesatuan. Boleh jadi karena kecerobohan kita akan membuat orang lain rugi dan celaka. Terlebih lagi jika hal itu berdampak secara luas dan sistemik. Maka berhati-hati dan bijaksanalah dalam memanfaatkan media.

Media seperti belati yang sangat tajam, bisa jadi menusuk yang di dekatnya atau yang memegangnya. Namun belati tersebut bisa digunakan untuk mengiris makanan, memotong batang, mencincang daging, dan keperluan lain dalam kehidupan sehari-hari. Belati tersebut harus disiapkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Jika yang memegang tidak mengerti fungsinya atau salah dalam menempatkan manfaatnya maka akan berakibat fatal.

"Media merupakan senjata yang ampuh jika disepuh, tetapi sangat rapuh jika berada di tangan penempuh yang salah asuh"

"Bunga yang Beku"

Di bawah cahaya rembulan angin datang menusuk tulang
Iblis putih sedang menutup pandangan
Kesunyian malam mengikis kehangatan
Tiba-tiba kau datang tanpa senyuman
Seketika malam membeku laksana gumpalan
Bertahan bak gunung es di kutub selatan
Meski ku belai dengan rayuan
Ku berikan sekuntum wewangian
Ku dirikan istana megah dan berlapis berlian
Tiada sedikit pun kau berubah haluan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam rumah impian
Temanilah daku ke taman keindahan
Di sana hanya ada cinta dan kedamaian
Bukan permusuhan dan perang berkelanjutan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam pelukan
Temanilah daku terbang melintasi awan
Di sana hanya ada persaudaraan dan kebersamaan
Bukan ketakutan dan perpecahan

Wahai bungaku
Kembalilah ke atas pangkuan
Temanilah daku melayang ke alam harapan
Di sana hanya ada perjuangan dan kerelaan
Bukan kekhawatiran dan keterpurukan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam ingatan
Temanilah daku menyusuri bekunya pikiran
Di sana tampak ada kemampuan dan keluasan
Bukan kedangkalan dan kefanatikan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam jiwa
Temanilah daku meresapi cahaya
Di sana hanya ada kenikmatan dan keutuhan
Bukan kemurkaan dan kesesatan

Wahai bunga yang beku
Kembalilah kepadaku
Tetaplah di sisiku
Karena hanya kau jalanku
Sekaligus tongkat dan alat bagiku

"Pahlawan milik siapa?"

Sebentar lagi hari bersejarah terulang kembali, 10 November. Orang-orang biasa menyebutnya dengan "hari pahlawan". Pahlawan bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Lantas manakah pahlawan yang sesuai dengan tanggal tersebut?

Sebelumnya mari kita simak definisi pahlawan. Menurut KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 33 tahun 1964 tentang penetapan, penghargaan, dan pembinaan terhadap pahlawan Bab I Pasal 1, yang dimaksud dengan pahlawan dalam peraturan ini adalah sebagai berikut.

(1) Warga Negara Republik Indonesia yang gugur, tewas atau meninggal dunia akibat tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa penjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan bangsa. (2) Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridhai dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan bangsa dan dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya.

Menurut pengertian tersebut, maka untuk menjadi seorang pahlawan nasional harus memenuhi syarat atau kategori tertentu. Syarat tersebut ada dua: syarat umum dan syarat khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 26 UU No. 20/2009, yaitu:

Syarat umum (Pasal 25 UU No. 20/2009): WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI; Memiliki integritas moral dan keteladanan; Berjasa terhadap bangsa dan negara; Berkelakuan baik; Setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara; dan Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

Adapun Syarat khusus diatur pada Pasal 26. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan yang semasa hidupnya: (a) pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa; (b) tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; (c) melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya; (d) pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara; (e) pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa; (f) memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau (g) melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Untuk itu setiap orang atau kelompok berhak dan berkesempatan mengajukan pahlawan berdasarkan penilaian dan pertimbangannya. Pengajuan tersebut mengikuti prosedur tertentu yang telah diatur oleh pemerintah. Namun kadang kala akan menimbulkan pro dan kontra pada proses pencalonan, terkait tokoh yang dicalonkan.

Hal ini terjadi karena tokoh tersebut kontroversial, tersandera kasus yang menggantung, adanya kepentingan, menimbulkan konflik, berpengaruh secara signifikan atau sistemik, dan kontribusinya. Pemberian gelar tersebut menghabiskan waktu yang cukup lama. Karena bukan gelar yang asal-asalan atau sekedar hiburan. Namun boleh jadi gelar tersebut setelah disematkan akan dicabut kembali, jika tidak sesuai atau melanggar syarat tersebut.

Sebenarnya seberapa sakti kah gelar pahlawan yang diberikan kepada seseorang. Apakah kemudian gelar itu membawa perubahan yang baik atau sebaliknya? Akankah dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk kepentingan sesaatnya? apakah hanya tambahan semata? Apakah akan lupa dengan gelar pahlawan yang telah diraih?

Pertanyaan tersebut akan menemukan jawabannya sendiri di kemudian hari. Tentunya kita berharap indonesia tetap meneruskan semangat juang dan pengabdiannya untuk negeri ini. Terlebih di segala aspek kehidupan baik berbangsa, bernegara, berbudaya dan beragama.

Pahlawan bukan milik satu atau dua orang. Namun terlampau menokohkannya akan membuat generasi ke depan akan fanatik dan lupa. Sehingga pahlawan bukan hanya menjadi simbol dan monumen mati yang kering dengan pelajaran, kebaikan dan instrumen masa depan. Semoga pahlawan tidak akan berhenti sampai di sini.

"Sumpah itu (bukan) Sampah"

Wahai lembaran sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang Di tangan kami tertumpah darah-darah rakyat
Tulang belulang mereka hancur berserakan berhamburan di tanah
Tanah bekas keringat-keringat jerih payah
Lumbung dan hartanya telah terkuras habis
Oleh Iming-iming balas budi dari sisa
Yang kami curi
Kau sengsara pun kami tiada sedikit peduli
Sebab kau rela mati di tangan temanmu sendiri dan rakyat pribumi
Kaum berdasi dan lintah luar negeri

Wahai bait-bait sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang hutan rindang, kami ganti dengan hutan buatan yang megah menjulang
Sehingga tampak dari kacanya tubuh-tubuh ringkih yang menahan kelaparan kepedihan dan kesengsaraan
Wajah mereka meringis menepis tangis
Yang sebentar lagi habis kemudian mengemis

Wahai barisan sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang Proyek abal-abal yang berjubel di atas kertas tebal
Hanya untuk mengisi kantong kami menjadi tebal
Walau hanya dengan bermuka tebal
Sedikit bulus seolah memang tulus
Asal jalannya mulus tanpa ada yang jegal
Meski kalian kian kurus
Kami tak sudi tuk ikut mengurus
Yang penting aksesoris kami berbaris Pakaian kami elegan, menawan dan merk kenamaan
Rumah kami luas, tinggi nan megah Mobil kami banyak, bening dan mahal
Asal hidup kami semakin bagus dan tidak asal-asalan

Wahai suara sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang suara rakyat, kami cekik atas nama kebenaran
Tumpukan aspirasi mereka tertahan di tangan perwakilan
Terhalang dinding-dinding kekuasaan
Berkali-kali turun aksi tuk merebut hak kami
Namun semua itu hanyalah suara bising yang tampak tak berisi
Sebab pos-pos penting telah diisi dan digerogoti
Kerobohan kalian adalah anugerah tuk mengakar kuasa yang kian kokoh
Kecerobohan kalian kan jadi celah yang mudah tuk dikecoh

Wahai penggalan sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Padahal dulu kami yang memutar balikkan sejarah
Menjerat dengan data buta
Memasukkan kalian ke lubang pro kontra
Hingga dalang di baliknya tertawa sepuasnya

Andai sumpah ini bukanlah serapah bukan pula sebagai sampah
Masih pantaskah kami bersumpah?

"Seandainya Saya (bukan) Pahlawan"

Dulu bersatu padu merebut 'merdeka'
Semangat juang berkobar dimana-mana
Pekik suara membumbung di udara
Coretan perlawanan terukir di tembok-tembok dan jalan raya
Di spanduk dan selebaran yang ditebar bak spora
Di pagar dan atap rumah yang terjangkau mata

Angkat senjata hantam jantungnya
Serbu menyerbu di medan laga
Gegap gempita menggugat rasa
Komat kamit merapal kata
Mengajak semesta tuk bergerak bersama
Sebab angka telah jauh berbeda

Jeritan pedih tertembak pelor dan ledakan bom penjajah
Bercampur darah yang tertumpah di tanah
Mengalir bagai bara lahar yang terlampau merah
Tangis perih merembah ke sekujur tubuh
Meregang nyawa di ujung galah
Hanya untuk masa depan yang cerah

Jasad-jasad berserakan di haribaan
Terbaring dalam kerelaan
Tulang belulang hancur berhamburan
Terpisah dari jiwa yang mencari jalan
Namun gugurmu masih melekat di ingatan
Di antara suara-suara yang diluapkan
Di dalam karya yang dihadirkan
Di tengah perubahan yang bergerak ke depan

Kini kau telah tiada
Mendahului kita semua
Pahlawan yang ada beragam warna dan rupa
Karena orang terdekatnya
Untuk kawan dan lawannya
Demi kepentingan sesaatnya
Namun Pahlawanku berlaku apa adanya
Walau terkadang lupa kalau dia pahlawan jua

"Dia"

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata-kata
seindah dirimu
Aku bukan raja yang terbiasa bersikap tegas
seperti dirimu
Aku bukan orator yang handal meramu wicara tatkala bersuara
selancang dirimu
Aku bukan seniman yang lihai menata estetika
Sebaik dirimu

Tapi izinkanlah aku selalu mencintamu di dalam setiap hembusan nafasku
Izinkanlah aku berbagi warna dalam barisan pelangi hidupmu
Izinkanlah aku merindu melalui bait-bait doa di setiap ibadahku
Izinkanlah aku mendampingi di beragam keadaanku
Izinkanlah aku bersama melalui  lembaran ceritaku
Izinkanlah aku hadir di tengah-tengah perjalanan waktumu
Dan izinkanlah aku menjadi seorang yang layak untukmu
Untuk sanak familimu
Untuk negerimu
Juga dunia akhiratmu

"Batas Samar di Antara Kita"

Belakangan ini tersiar kabar akan ada aksi besar-besaran di Ibukota, Jakarta. Aksi yang akan berlangsung pada 4 November 2016 mendatang bertemakan aksi bela islam, menolak penistaan agama. Hal ini didasari pernyataan gubernur Jakarta, biasa disapa Ahok, beberapa waktu lalu. Massa yang akan turun jalan tersebut berkisar antara ratusan bahkan ribuan orang. Berapa pun jumlahnya akan terasa nantinya.

Menurut penulis, pesertanya adalah kebanyakan orang islam, namun boleh jadi ada penumpang lain yang ikut-ikutan. Penumpang ideologis, organis bahkan praktis. Sepertinya pakaian yang menunjukkan identitas mereka ketika turun jalan hari itu adalah berwarna putih. Latar belakang pemilihan warna pakaiannya hanya yang mengkonsep dan yang ikutlah yang lebih tahu. Yang penulis bisa katakan, "bukan unsur kebetulan".

Mendengar kabar tersebut, aparat berwenang sudah bersiap-siap merapatkan barisan untuk menerjunkan personilnya. Tidak mau ketinggalan, media sudah mempertimbangkan angle berita yang akan diangkat dan disiarkan. Masyarakat sekitar pun sudah berpikir untuk mencari jalan alternatif agar tidak kena macet. Padahal jakarta sudah terbiasa dengan kemacetan. Pedagang pinggir jalan juga sudah menambah kuantitas barang dagangannya, karena berharap mendapat tambahan penghasilan dari massa yang datang.

Kalau terjadi aksi pada hari itu, sudah dipastikan jakarta menjadi tambah ramai. Atribut dan sorak-sorai jargon yang diluapkan ke udara tidak hanya tersiar di sekitar ibu kota, melainkan hingga ke pelosok desa. Orang-orang yang awalnya membicarakan persoalan air yang macet, banjir yang meluap ke bahu jalan, sawah yang gagal panen, pemilu yang sebentar lagi tiba, kasus pembunuhan jesica-mirna, koruptor yang tertangkap basah, pejabat yang melakukan pungli, mahasiswa yang menuntut kasus kejahatan HAM, beralih ke bahasan terkait aksi itu. Aksi tersebut seakan menjadi magnet baru di awal november ini.

Mengingat ramainya obrolan terkait aksi tersebut, perlu kiranya kita menepi bersama sunyi dan merenungkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Pergi camping bersama keluarga atau teman ke pantai atau gunung yang lebih sepi dan udaranya menyegarkan, menjadi pilihan. Di tempat itu kita bisa menghilangkan penat, mempererat persaudaraan, belajar memahami orang lain, belajar kesederhanaan, menghargai perbedaan, menikmati perjalanan, kebersamaan, suasana alam dan bermain bersama.

Daripada menyebar ujaran kebencian, menebar virus berbau SARA, merusak ketertiban dan fasilitas umum, membenci satu sama lain, memperluas pertikaian dan keberpisahan, dan terlebih lagi merongrong kedaulatan negara. Di satu sisi kita bisa puas dengan perlakuan kita, namun di sisi lain bisa mengganggu orang lain. Bukankah kita juga tidak senang diperlakukan seperti itu.

Hal ini penulis sampaikan karena di beberapa media sosial (akronim: medsos) sudah ada yang menghujat Ahok habis-habisan. Pihak lain yang pro Ahok mendukungnya habis-habisan pula. Pengguna medsos seakan terpecah ke dalam dua kubu yang entah diinginkan secara sadar apa tidak, tapi itulah yang terjadi. Sehingga gesekan antara keduanya masih terus terjadi dan boleh jadi berdampak ke orang lain di luar kubu itu.

Namun penulis membayangkan kalau ada keterkaitan dengan isu-isu lain yang lebih serius, boleh dikatakan ini bukanlah masalah sepele. Namun jika tidak ada hubungannya dengan yang lain, ini bisa segera diselesaikan oleh pihak yang menuntut dan yang dituntut dengan cara damai atau jalan hukum, tanpa mengikut sertakan masyarakat luas. Karena kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan sendiri atau golongannya.

Penulis berharap apapun yang terjadi sebelum dan sesudah aksi tersebut, tidak membuat kita kian anarkis, arogan, tidak adil, merasa paling hebat dan benar, terpecah belah, tidak suka berdialog, saling menjatuhkan, suka diadu domba dan mencari kambing hitam serta berbalik arah menjauhi norma dan ajaran yang selama ini kita yakini masing-masing. Aksi tersebut disadari atau tidak, akan mengukir sejarah di negeri ini. Sejarah yang kita buat dan saksikan sendiri, apa pun itu. Entah hari ini, esok hari atau lusa nanti.

"Mari kita sama-sama untuk tidak berhenti mengintrospeksi diri, belajar lagi, dan kembali"

"Maaf! Jangan ganggu, sedang ada sidang"

Akhir-akhir ini media cukup fokus dengan drama sidang pembunuhan dengan racun sianida. Sidang tersebut akhirnya sampai juga di babak akhir, vonis. Sidang yang panjang dan melelahkan bagi keluarga korban, tersangka, jaksa dan hakim. Juga bagi penonton yang berada di luar sana. Seakan-akan sidang ini berkata, "Maaf! Jangan ganggu, sedang ada sidang".

Sidang tersebut menjadi menu utama yang menyembunyikan persoalan yang lain. Padahal di luar sana banyak kasus yang boleh jadi lebih menarik, menegangkan, menyenangkan bahkan memperihatinkan yang layak disiarkan. Namun yang pantas menurut kita, belum tentu layak menurut media.

Melihat sidang tersebut mngingatkan penulis pada salah satu komik jepang karya Gosho Aoyama, detectif conan. Di beberapa episode, ada kasus pembunuhan yang menggunakan racun seperti pada kasus jesica-mirna. Di adegannya pertemanan mereka tampak biasa-biasa saja. Namun di tengah pesta jamuan makan, salah satu dari mereka tersungkur setelah mengkonsumsi hidangan di atas meja tersebut. Seketika yang ada di sana berakting sebaik mungkin agar tidak dituduh sebagai pelakunya.

Dalam adegan tersebut teman-temannya ada yang segera menyentuh korban, yang lain nelepon polisi, yang lain masih berdiri di sekitar korban. Untuk menghindari kontak langsung dengan korban, teman-temannya diinterogasi di ruangan yang berbeda. Tidak ketinggalan conan sebagai tokoh utama, selalu mendengarkan informasi proses penyelidikan dan pencarian bukti. Bahkan conan mencari titik celah yang bisa menjadi bukti utama dan penentu.

Conan memang anak nakal yang suka berkeliaran mencari kebenaran. Pikirannya kian tajam ketika membelah bias deduksi dan area samar yang ditinggalkan pelaku. Apa yang dilakukan tak ubahnya untuk segera menuntaskan perkara yang telah terjadi. Tanpa membiarkannya mengambang dan dicampuri tangan-tangan yang berpihak pada kesalahan. Misalnya penghilangan bukti utama dan saksi kunci.

Melihat kemiripan yang terjadi pada kasus jesica dan serial conan. Penulis memandang bahwa ada bagian yang sengaja ditutupi dengan baik oleh pelaku yakni bukti utama seperti sedotan, CCTV, gelas, tisue, wadah, celana dan karyawan. Sedangkan bukti yang lain dan keterangan saksi ahli yang profesional merupakan tambahan semata. Misalnya profil personal, hubungan antar pribadi, rutinitas serta komunikasi yang terjalin antara keluarga dan teman dekatnya. Hal ini bisa dilakukan dengan mendata faktor seperti manusia, waktu, tempat, peristiwa, komunikasi dan konflik.

Kasus pembunuhan dengan menggunakan racun, bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, Munir juga dibunuh dengan racun arsenic ketika berada di dalam pesawat, dosisnya pun bisa dibilang tepat dan terencana dengan matang. Entah, karena banyak yang benci atau takut padanya.

Namun sampai sekarang kasus tersebut belum usai. Kalau dibuat drama persidangan seperti pada kasus jesica-mirna, mungkin sidangnya sudah ratusan atau bahkan ribuan kali. Kalau ada conan di dunia nyata mungkin sudah bisa dipecahkan kasus pembunuhan seperti ini. Lantas harus menunggu tokoh fiktif untuk memecahkan misteri ini, itu tidak mungkin. Karena ini bukan kasus fiktif namun kejadian nyata yang difiksikan oleh pihak tertentu.

Di sisi lain, penulis juga membayangkan adanya keterlibatan organisasi hitam (baca: mafia kasus dan mafia fakta) yang sengaja membuat kita semua bingung dan jenuh. Kalau dilihat sekilas bahwa kedua pembunuhan tersebut diawali oleh unsur kedekatan, kebencian, ketakutan dan kesempatan. Bisa jadi hal tersebut yang melatar belakangi niat untuk melakukan pembunuhan.

Saat mengerjakan tulisan ini pun, asumsi di ruang publik kian bermunculan. Di antaranya: apakah jesica benar-benar bersalah? Bisa jadi orang lain yang melakukannya? Kalau iya, Atas inisiatifnya sendiri atau disuruh orang lain? apakah alasan utamanya hanya karena pernah sakit hati, benci, atau alasan besar lain? Informasi apakah yang belum publik ketahui dari keduanya? apakah ini hanya pembunuhan biasa atau pembunuhan luar biasa? Dan lain-lain.

Namun semua ini hanya bisa dijawab oleh pihak yang berwenang melalui pengadilan dan kejujuran. Kasus Jesica-mirna berakhir di meja hijau dengan vonis 20 Tahun penjara. Tentunya vonis ini mengundang respon positif dan negatif baik dari simpatisan kedua belah pihak, pengacara, pengamat dan masyarakat luas. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan drama tersebut.

Drama racun ini bukan lagi menjadi racun bagi kedua belah pihak, tetapi juga meracuni pikiran khalayak ramai dengan asumsi yang beragam dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. Rasa simpatik kita juga akan terus berada dalam kebimbangan dan ketidak percayaan. Pada akhirnya drama ini akan semakin berkembang dan rumit jika tidak segera disudahi. Semoga saja racun ini tidak merasuk ke hati nurani kita, sebagai senjata yang memusnahkan. Meski demikian, kasus ini bisa membawa pelajaran dan perbaikan di kemudian hari. Semoga saja.

"Sepenggal Surat untuk Status"

Hei kau
Yang cinta tuna bukan tuna cinta
Lambaikan tanganmu
Angkat wajahmu
Busungkan dadamu
Buang keraguan yang kau cumbu
Tunjukkan pada mereka
Bahwa kau mampu
Tak terpedaya candu-candu

Hei kau
Yang buta asmara bukan asmara membabi buta
Lepaskan tanganmu
Bukalah matamu
Kepakkan sayapmu
Terbanglah semampumu
Lepaskan belenggu-belenggu di sekitarmu
Buktikan pada dunia
Bahwa kau kuat
Tak terjerat hasrat semu yang memikat

Hei kau
Yang buta aksara bukan aksara buta
Pakailah akal pikiranmu
Tajamkan inderamu
Luaskan wawasanmu
Lunakkan rasamu
Kuatkan mentalmu
Besarkan jiwamu
Beritakan kepada mereka
bahwa kau masih bisa
Tak berhenti sampai di sini

Hei kau
Yang buta karya bukan karya buta yang membutakan semua
Gunakan ilmumu
Cerminkan nuranimu
Bentangkan imajinasimu
Luweskan kreasimu
Kerahkan segenap energimu
Perlihatkan kepada mereka
Bahwa kau masih sedia
Tak berakhir di nafas terakhir

Untuk yang ada di sana
Ku kirimkan Sepenggal surat yang telah terpenggal
Di antara ruang yang tak kan pernah kekal

Meski kau tidak punya status
Arungilah semesta
Kemudian ajarkan kepada mereka
Tentang yang ada dan tiada
Dan Tentang semua

"Sebatang Tubuh"

Wahai batang tubuh yang menjelma di tengah kesendirian
Kirimkan bait-bait tepi kepada sang kesunyian
Sunyi senyapmu yang hilang dari bayang keramaian
Mengusik malam yang menghitam
Menampar gelombang yang datang menghadang

Walau hanyalah tubuh yang sepi
Namun hadirmu adalah api
Yang mengobarkan darah juang berapi-api
Tiadamu adalah histori
Yang terukir di memori
Gerakmu adalah teknologi
prototype perubah mimpi-mimpi
Menjadi sesuatu yang berarti

"Tombol Move on Sulit Ditekan"

Tepat hari ini, 25 Oktober, peristiwa itu menimpa keluarga kami. Sehari sebelumnya suasana mencekam karena ada yang mati dikeroyok. Menurut penuturan mas buntil, yang jualan nasi goreng depan toko sebelah TKP, "Ada Orang dikeroyok, tapi kurang tahu siapa, dia mati seketika, mungkin dia melakukan suatu kesalahan". Tetapi menurut saksi yang lain berbeda. Menurut pak Siong yang pakai kaca mata, "Orangnya tidak bersalah, memang dia punya ikatan darah dengan tokoh yang dianggap 'kiri' itu. Sedangkan dia baru sampai tiga hari yang lalu dari tanah rantau, kuliah". Beliau melanjutkan, "coba lihat pakainnya, beda kan!". Itulah sepenggal cerita yang termuat di koran desa.

Kami pun ikut ketakutan jika sewaktu-waktu orang yang masih masih punya dendam itu ke sini. Identitasnya mereka tidak jelas. Tidak ada bekas yang tersisa alias kelas kakap. Semua akses masuk ke rumah kami tutup baik gerbang utama, pintu depan dan jendela. Bahkan ventilasi juga tertutup meski tidak rapat.

Malam itu, kami sekeluarga kumpul di ruang tengah sambil nonton tv. Adik yang awalnya nonton kartun disuruh pindahkan ke chanel yang lain oleh ibu, syukur kalau berita kejadian itu ditayangkan. Karena penasaran ibu, citra dan kiyek berbincang-bincang sedang yang lain fokus megang Hp. Berikut obrolannya:

Citra: ibu kok takut sih, padahal kan orang yang jadi dalangnya itu sudah berlari jauh, entah kemana
Ibu: iya takut nak, kalau terjadi apa-apa dengan kita bagaimana, hayo!
Citra: iya bu, tadi kan sudah ditutup semua. Untung-untung masih di sisakan lubang angin buat nafas
Ibu: iya sih, yang penting sudah sedikit aman
Kiyek: lagian yang buat ibu ketakutan kan bukan orang itu, tapi kekhawatiran ibu saja yang berlebihan
(Tiba-tiba bapak angkat bicara)
Bapak: bagaimana nasib keluarganya yang lain ya?
Citra: iya pak, kasihan mereka padahal pada saat peristiwa masa lalu itu, keluarganya tidak ikutan
Ibu: semoga nasibnya baik-baik saja, tidak seperti orang yang kemarin
Bapak: keberadaan mereka pun antah berantah, ada yang mengganti identitasnya, ada yang pergi ke tanah seberang, ada yang sengaja diam, ada yang masih di negeri ini, tapi entah dimana kita tidak tahu.
Adik: kak, ambilin minum dong, haus nih, yang di kulkas ya
Citra: iya sebentar dek
Bapak: padahal orang yang bersalah masih belum diadili sampai detik ini dan kasusnya masih dibiarkan mengambang. Keluarga korban juga masih trauma.
Kiyek: seharusnya kan harus dihukum pak, keluarga korban harus diberi kepastian dan jaminan keamanan, kebebasan dan kesejahateraan seperti yang lainnya.
Adik: Bu, dipindah ya, tv-nya ramai bu
Ibu: biarin dulu dek, ibu masih nunggu beritanya
Adik: iya dah adik di kamar saja (wajah kesel)
Bapak: Baca bukunya sebentar dek, jangan lupa berdoa sebelum tidur
(Tanpa menjawab anak itu beranjak ke kamarnya, dia buka bukunya sambil berkata, "Ibu kok senang liat keributan di tv itu, padahal kartunnya lagi seru")
Kiyek: Dia kok dikeroyok seperti itu Pak, apakah dia benar-benar terlibat peristiwa yang dulu itu?
Bapak: dia kan baru anak kemarin, umurnya masih muda, masak bisa terlibat. Atas dasar apa dia dipersalahkan, tidak ada kan!
Kiyek: bisa jadi dia keturunan yang terlibat itu pak
Bapak: masak mau menghakimi orang yang tidak tahu apa-apa, kan lucu
Citra: terus kita sebagai generasi sekarang harus bagaimana pak?
Bapak: kita harus berani meluruskan sejarah, menjelaskan dengan cara yang baik, jujur dan tepat, memaafkan, mengadili yanh bersalah, bersikap adil, memperbaiki diri sendiri, mengembalikan hak korban, jangan sampai mengulangi hal yang sama untuk kemudian hari, menjadikan masa lalu sebagai pelajaran serta mempersiapkan masa depan
Kiyek: tapi sampai kapan pak?
Bapak: sampai kita semua berani melakukannya untuk diri kita, orang lain dan negeri ini
Ibu: ibu khawatir kalau suatu saat itu terjadi lagi, kayak yang barusan diberitakan itu, banyak yang arogan
Citra: sudahlah bu, ibu khawatirnya kayak orang phobia saja
Kiyek: kalau masih ada yang merasa paling benar, sentimen dan fanatik, bakal terjadi lagi bu. Ya semoga saja tidak bu.
Ibu: ya sudah, ibu masak dulu
Citra: ayo bu, saya bantu biar lebih cepat
(Perut bapak tiba-tiba bernyanyi seperti suara perlawanan melawan penindasan dan ketidakadilan)
Kiyek: iya bu, lapar banget seolah-olah mengangkat beban berat yang dipikul korban dan negeri ini

Waktu berjalan tanpa henti, hanya jarum jam di dinding yang tetap pada posisinya, karena kehabisan energi. Seketika suasana hening tanpa suara, yang ada hanya suara angin yang menabrak genteng, air akuarium yan berputar tiada henti dan televisi yang masih suka bicara sendiri.

Beberapa menit kemudian peristiwa semalam disiarkan di tivi lokal. Bapak dan kiyek segera mengalihkan perhatiannya ke tivi. Keduanya seperti patung besar yang tidak bergerak meski angin menyentuhnya. Telinga dan mata mereka fokus dengan apa yang diberitakan.

Ibu dan citra menghidangkan makan malam bagai lomba lari marathon. Karena tidak mau ketinggalan, seperti menu wajib yang tidak boleh terlewatkan. Walaupun semuanya sudah siap menyantap sajian yang telah dimasak, namun mereka masih diam seribu bahasa. Media tivi mengarahkan dan mengalahkan lapar mereka.

Ketika berita usai, Kiyek tiba-tiba mengatakan, "Beritanya kok berat sebelah ya? Barusan saya media lain, faktanya tidak seperti itu". Sembari menaruh nasi dari bakul ke piringnya, dia masih berujar, "masak beda media, beda faktanya". Bapak menimbali perkataan anaknya, "makan dulu, Nak, nanti selesai makan bisa dilanjutkan". Dia pun menanggapi hanya dengan anggukan kepala seperlunya.

Setelah makan, semuanya berkumpul kembali di depan tivi. Kali ini mereka seperti sibuk sendiri: ibu merapikan pakaian, citra mengerjakan tugas kuliah, bapak memasang lukisan di dinding, adik tidur pulas dan kiyek baca buku. Suasana ini terjadi hampir setiap malam sampai mereka undur diri satu persatu.

Kiyek yang sibuk bercengkrama dengan bukunya berhenti di sebuah halaman. Wajahnya seperti keheranan sambil membandingkan dengan 5 buku yang isinya tentang peristiwa yang sama, namun fakta dan data yang disampaikan berbeda. Awalnya dia berpikir kejanggalan ini didasari sudut pandang yang berbeda. Namun ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Keesokan harinya, kakak tersebut bergegas untuk mencari referensi tambahan ke perpustakaan. Di sana dia menemukan 5 buah buku yang dikarang oleh orang yang pernah bersinggungan dan terlibat dalam peristiwa tersebut. Wajahnya sumringah kegirangan bagai menerima hadiah nobel disiplin ilmu tertentu. Sedangkan yang lain masih bersiap-siap untuk berangkat ketika wajahnya seperti itu.

Dia duduk di kursi pojok yang telah tersedia bagi pembaca. Kemudian dia mengeluarkan pena berwarna dari tasnya untuk menandai bagian yang penting baginya. Cara bacanya sedikit berbeda tidak seperti kemarin malam. Pada bagian tertentu dia membaca pelan, cermat dan hati-hati seolah berjalan di atas jembatan gantung di atas sungai sebelah desanya, yang dilalui oleh pelajar waktu ke sekolah. Karena memang hanya jembatan itu akses terdekat bagi mereka, meskipun kondisinya memperihatinkan.

Setelah memperoleh catatan uang diharapkan, dia kemudian pulang membawa beberapa buku dan jurnal tambahan untuk meyakinkan dirinya tentang peristiwa kelam masa lalu. Sesampainya di rumah mereka kembali berkumpul seperti biasa.

Malam ini seperti tidak ada yang beda, meski kejadian kemarin belum usai jadi perbincangan warga. Sebagian warga menyesalkan pengroyokan itu, yang lain masih ada yang bertanya-tanya, ada yang tidak peduli karena bukan sanak familinya dan ada juga yang berjuang melaporkan ke pihak yang berwenang. Pihak yang berusaha mencari keadilan tentunya dari keluarga yang bersangkutan dan yang merasa prihatin.

Hingga larut malam, orang-orang masih sibuk diskusikan peristiwa naas itu. Mereka larut bersama malam yang tampak lengang. Suaranya tambah lantang saat jumlahnya semakin banyak. Persis seperti kerumunan orang di pasar yang menjajakan barang dagangannya. Mereka tanpa sadar membuka ruang cerita hingga menyebar ke mana-mana.

Tetapi kakak itu tidak peduli kepada mereka, seolah seorang arkeolog yang mendapati tumpukan tanah menjadi data sejarah. Dia terus berkutat dengan lembaran yang bacanya. Terkadang wajahnya sedih kala membayangkan nasib korban yang mengalami tekanan dan kekerasan. Wajahnya tampak geram ketika memikirkan dalang dan orang yang sebenarnya bersalah, namun masih berkeliaran dan menggerogoti dari dalam. Pernah suatu waktu, wajahnya penuh harap dengan penyelesaian peristiwa itu dan gambaran di masa depan yang lebih baik.

Peristiwa itu telah berlalu namun masih terasa. Ketika hari ini tiba, banyak orang yang mengenangnya dengan tabur bunga, aksi turun jalan, nyalakan lilin, forum diskusi atau kajian, pendampingan terhadap korban, rekonsiliasi, pencarian fakta, dan lain-lain. Namun semuanya kembali kepada diri masing-masing. Apakah akan terus membiarkan tombol 'move on' yang ada hilang begitu saja atau sulit untuk ditekan? Ataukah berani dan rela menyelesaikannya untuk kebaikan masa depan? Kita tunggu saja akhir ceritanya.


"Bermimpi Punya Gelar"

Malam terasa semakin dingin saat menjamu teman dengan secangkir kafein. Angin berhembus seperti seorang ibu menimang anaknya. Hingga akhirnya terlelap dan bermimpi banyak hal. Di dalam taman mimpi yang beragam rupa dan warna itu, wajahnya pun ikut berubah-ubah, ada salah satu adegan yang sepertinya menarik karena wajahnya tersenyum manja, yakni ketika bertahta di atas kursi goyang yang bernama gelar.

Gelar tersebut terdiri dari gelar fisik, gelar intelektual (studi), gelar kerja, gelar usaha, gelar karya, gelar tokoh, dan banyak lagi. Gelar ini menempel pada nama, pakaian, benda dan diri setiap orang. Sehingga menjadi pengenal, pembeda, penegas bahkan penentu status (strata) atau nasib orang tersebut.

Sebagian contoh yang bisa penulis sebutkan, misalnya gelar sarjana S1 sains ditempeli S.Si (S.Sc) di belakang namanya, gelar pahlawan bagi tokoh yang berjasa atau ditokohkan oleh sekelompok orang (baca : negara) di wilayah tertentu disematkan pada orangnya, yang berbadan gemuk diberi sebutan 'gentong' dan sebagainya. Dalam memperoleh gelar tersebut bisa langsung (tanpa usaha) dan ada yang membutuhkan kerja keras, kreatifitas, kesabaran dan proses yang lama.

Kadangkala gelar yang telah disematkan kepada seseorang akan merubah atau mempengaruhi orang tersebut. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang merasa menjadi beban, ada yang semakin giat berusaha, ada yang merasa berkewajiban seperti gelar yang didapatkan, ada santai dan tidak peduli, ada yang kian rendah hati, ada yang bangga luar biasa dan ada juga orang yang enggan diberi gelar.

Ketika penulis memiliki sederetan gelar di depan dan di belakang namanya, maka saat itu terjadi dua hal yaitu bangga tiada tara atau semakin rendah hati. Kala bangga yang menjadi-jadi, dunia seperti milik sendiri sedang yang lain sekedar numpang, hilangnya kontrol diri dan puncaknya lupa diri.  Namun saat rendah hati yang disemai, maka rasa syukur akan bertambah, tidak takabbur dan angkuh. Kita tinggal memilih terlena oleh rasa bangga atau rela menerima dengan penuh kerendahan hati.

Tiba-tiba suara ibu itu terdengar lirih, "Nak, bangun, hujan sebentar lagi turun, awan mulai mendung". Anak itu menyahut, "Sebentar, masih ngantuk bu". Ibu itu hanya tersenyum melihat anaknya yang sedang terbaring di pangkuannya. Hati ibunya tenang seolah urusan dapur rumah tangganya menghilang.

Waktu kian berlalu, tidurnya pun semakin pulas seperti sedang dihipnotis. Ibunya tertidur juga dengan bersandar pada tembok di belakangnya. Agar Anak ini tidak terbangun. Anak polos ini merangkai kembali mimpi-minpi yang tadi telah dilalui menjadi satu sesi. Berikut rangkaian ceritanya:

Wulan: Cit, kamu enak ya punya gelar banyak, dari A sampai Z
Citra: nggak enak Lan, dianggap bisa semua sama orang-orang
Boneng: iya Cit, kan bisa ngibulin orang pakai gelar itu, heheheh
Holler: ah elu neng bisanya ngomong doang
Bokar: lho gelar itu apa sih? (Muka bingung sambil garuk-garuk kepala)
Bojek: ah kalian belum tahu sih, kakakku gelarnya lebih banyak daripada Citra, berjejer pulau-pulau...hahaahah
Holler: kayak latihan baris berbaris saja (nada ketus)
Bokar: gelar itu seperti gadis ya, dari tadi kalian rebutkan terus
Bokar: pasti bohay ya, mulus seperti gitar spanyol
(Mereka serentak terdiam kala pak satpam dan ketua RT patroli, sembari menyeruput kopi dan menyantap gorenganb di piring batik)
Pak Bejo (pak RT): permisi
Semua: silahkan, hati-hati Pak
Bokar: Pak numpang tanya, gelar itu apa sih? (Wajah bingung)
Bojek: ah elu kampungan banget
Pak RT: begini lo, gelar itu capaian atau sandangan yang kita peroleh sendiri atau diberikan orang lain, macamnya juga banyak...
Pak RT: saya pamit dulu ya, mau patroli dulu, selamat malam
(Keduanya beranjak menjauhi mereka sambil timbal balik nyebut masalah warganya satu persatu)
Holler: tuh kan sudah saya bilang, pak RT saja sok tahu, gelagatnya saja yang sok hebat
Bojek: iya, ya, tapi kalau tidak hebat kok bisa dapat gelar Pak RT yang budiman
Holler: siapa tahu..iya mungkin ada yang disembunyikan dari kita, warganya
Wulan: kalian ini ribut terus, bukannya semangat meraih gelar seperti Citra, malah ribut tidak karuan, ngomongin orang pula
(Pipi Citra merah merona, tubuhnya seperti tak lagi menginjak bumi, mengawang-awang bersama hembusan angin)
Boneng: kamu juga sama Lan, sudah tahu mereka ribut, kok nambah ramai
Citra: gelar saya banyak, coba lihat di kartu identitas saya, tetapi saya memang tidak mau pamer

Obrolan mereka lenyap seketika, saat ibu tersebut membangunkan anaknya untuk beranjak sholat. Dari balik jendela terdengar suara kokok ayam yang bertengker di dahan kian membesar. Surau dan masjid berlomba-lomba mengumandangkan adzan dengan pengeras suara. Seruan itu memekik udara dengan frekuensi tertentu, kemudian menyusup melalui celah angin sampai akhirnya didengar telinga.

Anak itu pun terbangun meski matanya enggan terbuka. Dia hanya bisa duduk merenggangkan kakinya, sedangkan ibunya siap-siap ke surau bersama keluarga yang lain. Setelah membuka mata, dia pun bingung seribu bahasa, menoleh ke kiri dan kanan penuh keheranan,

"ke mana anak-anak tadi ya? Padahal saya mau bertanya juga", gumamnya.

Semakin lama dia semakin heran bagaikan orang sedang mabuk kepayang,

"Apakah saya tadi bermimpi ya? Tapi kok seperti nyata" ujarnya.

Dia berdiri lalu berlari tergopoh-gopoh lantas mengecek pos ronda di deket rumahnya. Di sana dia mendapati sisa minum dan piring kosong dengan minyak di permukaanya. Ada bekas sepatu boat juga.

"Lho, ini kan bekas orang-orang yang di dalam mimpiku barusan, apakah ini benar-benar terjadi? Masak aku bermimpi?", katanya,

Anak itu pun duduk di pos ronda sambil merenungi apa yang sedang terjadi. Jari jemarinya merenggut setiap helai rambutnya hingga tampak seperti pejabat yang baru masuk rumah sakit jiwa (akronim, RSJ), karena kalah dalam pemilu bulan lalu - banyak uang pelicin yang digelontorkan dan terlalu sering berjabat tangan untuk menyulap suara.

Ia mondar mandir menanti ada orang lewat seperti dalam mimpinya. Waktu pun berjalan tidak berhenti. Akhirnya dia berangkat ke surau untuk beribadah walau sudah tidak bisa berjamaah. Orang-orang turun dari surau sedang dia baru melepas sandalnya. Di kamar mandi, kepalanya diguyur derasnya air keran, dilanjut berwudhu dengan pelan-pelan dan sholat. Akhirnya Ia menjadi orang terakhir yang sholat di sana.

"Aku kok bingung gelar-gelar yang dibicarakan anak-anak itu, padahal tanpa bergelar pun aku tetap bisa bermimpi punya gelar",ujarnya

"Ah, sudahlah, hidup sederhana saja kan tidak apa-apa",tambahnya

Namun kok ada yang bilang, "bermimpilah setinggi langit", padahal saya yang mimpi seperti ini saja sudah kayak orang gila. Saya sedang tidak waras, kurang mikir keras, atau memang sudah gila. Pikiranku kok bisa kacau ya gara-gara gelar yang belum saya kejar, apalagi mereka yang sudah punya gelar berjejer-jejer. Aneh memang.

Jikalau suatu saat nanti gelar datang kepadaku, aku berharap tidak seperti itu. Gelar boleh jadi mengangkat diri ini, namun semoga kita bisa kembali. Gelar hadir di antara kita, ku hanya berharap  tidak akan lupa.

"Santri Miring"

Sore ini hujan turun deras sekali. Sembari menanti reda, jari jemari berjalan mengiringi status orang-orang di media sosial. Ada yang ramai menyambut hari santri, ada yang curhat masalah pribadi, ada yang sibuk menyampaikan nasib wong 'cilik', ada yang pamer agenda safari politik, dan banyak lagi.

Kali ini penulis akan fokus dengan hari santri. Dimana, Santri adalah orang yang menuntut ilmu atau mengenyam pendidikan (proses belajar) khusus dengan berpegang teguh pada nilai-nilai atau ajaran agama (baca : islam) di lingkungan pondok. Pengajarnya adalah seorang kyai, alim ulama atau ustadz yang berkompeten di bidangnya dan memiliki perangai yang luhur. Di beberapa daerah kyai tersebut memiliki sebutan yang berbeda-beda. Kyai-kyai tersebut menjadi teladan, tokoh masyarakat dan sekaligus guru bagi santrinya.

Santri mengaji dan mengkaji berbagai ilmu agama berdasarkan arahan dan bimbingan para kyai. Biasanya proses belajar mengajar dilakukan di 'langgar' atau musholla, aula atau kelas sederhana. Komunikasi antara kyai dan santri terjalin secara terus menerus baik langsung maupun tidak langsung.

Adapun materi yang didalami seputar al-Quran, hadits, kitab-kitab tafsir, akhlak, fikih, syara', dan lain-lain. Ilmu yang dipelajari ini secara tidak langsung membentuk karakter dan perangai para santri. Ditambahi dengan contoh konkret yang diteladankan sang guru, kyai.

Dunia pesantren memiliki aspek internal dan eksternal. Aspek internal meliputi intelektual, spiritual, sosial dan skill. Sedangkan aspek eksternal adalah interaksi dengan dunia luar seperti masyarakat sekitar, sosial, budaya, politik dan lain-lain. Untuk itu santri yang sedang atau telah menjalani proses 'mondok' senantiasa memegang teguh ilmu yang diperoleh dan menggunakannya untuk kemaslahatan umat.

Kemudian hari mereka dituntut untuk bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi serta perkembangan masyarakat luas. Kehadirannya di tengah-tengah masyarakat bukan menjadi orang yang sok alim, merasa pandai, semena-mena, cepat menyalahkan dan mengkafirkan orang lain. Namun, mereka menjadi sosok yang membaur dan pandai bergaul, menegakkan ajaran agama dengan cara yang baik dan tepat serta menjadi teladan bagi individu yang lain.

Sosok santri identik dengan gaya hidup sederhana: pakai sarung, peci (laki-laki), kerudung (perempuan), kemeja, koko, kitab, makan bersama, gotong royong, dan lain-lain. Karena pada dasarnya ajaran agama (islam) melarang untuk berlebih-lebihan dalam segala hal. Seperti kalimat yang sering kita jumpai, suka seperlunya dan benci sewajarnya.

Seorang santri juga harus mencintai tanah airnya, tradisi (budaya) lokal seperti yang dicontohkan wali songo, berjuang untuk kebaikan dan kebenaran, menerima perbedaan tanpa merusak persaudaraan dan kesetaraan, tidak berhenti belajar dan memengang teguh ilmu yang diperoleh untuk kemaslahatan umat.

Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren dan santri harus lebih dinamis tanpa meninggalkan kultur yang ada. Misalnya, kurikulum pondok ditambahi sesuai dengan kebutuhan, kenyataan di lapangan dan tantangan ke depan. Di samping itu, Santri diharapkan bisa memanfaatkan teknologi dan media lain sebagai penunjang dalam meningkatkan skill, wawasan dan pengalamannya. Sehingga tidak keliru memahami teks, terlebih lagi konteks tertentu.

Seperti yang dipertontonkan oleh beberapa kalangan belakangan ini.  Mereka mengklaim dirinya yang paling benar dan bertindak arogan. Kecenderungan ini terjadi karena menurunnya semangat belajar, pandangan yang sempit, fanatik, berlebih-lebihan serta keliru dalam menafsirkan dan memahami suatu teks.

"Sarung dan Peci boleh miring asalkan pikiran dan hati jangan sampai kering"

"Panggung Sementara"

Suatu hari menjelang pagi, ternyata televisi masih menyala dan berbicara sendiri. Saat terbangun, salah satu media memberitakan perihal perebutan kursi DKI 1. Seketika teringat langsung pada pentas teater di kampus UM tadi malam. Pentas tersebut bercerita tentang seorang tokoh yang otoriter dalam mengurusi dapurnya, sehingga rakyatnya terbelenggu, dan tragedi-tragedi lain yang bersinggungan dengan tokoh ini.

Baru bangun saja televisi sudah menyodorkan hidangan seperti ini. Kemudian datang lagi berita tentang gelagat partai politik dalam menentukan calon pilihan yang diusung dalam pentas pemilu. Dalam rangkaian gelar demokrasi ini, seringkali diikuti oleh bumbu-bumbu lain yakni isu SARA. Bumbu  yang tidak pernah terlewatkan dalam setiap perhelatan demokrasi.

Bayang-bayang berita tersebut menimbulkan pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Apakah ini permainan politik? Ataukah hanya sandiwara dalam teater? apakah politik memang seperti teater? Ataukah teater merupakan bagian dari politik? Aktornya apakah sama atau tidak?

Dunia politik dan teater adalah dua hal yang berbeda. Namun dari keduanya memiliki kemiripan terutama terkait publik atau penonton. Penonton bisa berlaku aktif atau pasif, bisa dilihat dari keterlibatan ataupun pengaruhnya.

Dalam dunia teater, apa yang tampak di panggung adalah seni peran atau tontonan, sedangkan di panggung politik, apa yang terlihat di panggung adalah yang dianggap mewakili lakon "sesungguhnya" yang dimiliki sang aktor. Akhirnya publik bebas memahami dan menafsirkan lakon yang sedang, telah terjadi atau bahkan terjadi.

Aktor dalam pertunjukan teater terbentuk oleh latihan yang rutin dan menerus, sehingga mampu mendalami atau menjiwai lakon yang diperankan. Namun dalam politik, aktor bisa muncul dalam waktu yang singkat tergantung kendaraan politik, manuver, ikatan kedekatan, bahkan mahar yang mampu dikeluarkan. Kendati demikian, Aktor di dunia yang berbeda ini masih bergantung pada publik (objek) yang dituju.

Suara aktor bisa terdengar, terasa bahkan mampu mempengaruhi telinga dan pandangan khalayak ramai melalui polesan media. Media berhak memilah-milih lantas mengudarakan bagian mana yang sesuai dengan mereka, meski tanpa menghiraukan siapa penerima pesan yang disampaikan. Oleh sebab itu, aktor yang tampil boleh jadi merupakan aktor 'fiktif' yang dihadirkan oleh media, bukan pilihan sadar masyarakat luas.

Aktor yang dekat dengan media akan memiliki peluang yang lebih banyak untuk di publish dibandingkan yang tidak memiliki hubungan. Walaupun dia kurang kompeten, tidak berdedikasi, elektabilitas rendah, pendatang baru atau orang titipan. Sehingga seringkali yang terjadi adalah aktor yang layak akan tereliminasi dengan sendirinya. Sedangkan yang tidak atau kurang layak malah langgeng di wajah media.

Parodi politik bukanlah ladang yang kejam tetapi itulah yang terjadi, dipertontonkan secara bebas dan lugas, karena memang dianggap biasa. Meskipun ada pihak koalisi, oposisi dan kelompok yang tidak peduli namun kepentingan yang digulirkan atau dimainkan adalah sesuatu yang pasti. Pasti diraih atau beralih, dikejar mati-matian atau asal-asalan, menambah lawan atau kawan, bertukar pilihan atau berebut bagian.

Kedua panggung tersebut menampilkan ekspresi wajah, gesture dan ritma yang berbeda di setiap pertunjukannya. Aktor dalam teater setelah pementasan akan menanggalkan perannya dan kembali ke diri semula, sedangkan aktor politik cenderung memakai perannya secara terus menerus agar dipandang pantas hingga pentas politik usai. Namun bukan berarti dilarang untuk belajar seni peran, melainkan aktor harus menyadari  dirinya, otentik.

Di sisi lain, publik harus sadar akan haknya dalam menilai, menimbang dan menentukan pilihannya. Tanpa ada unsur paksaan dari pihak luar, keadaan yang dibuat-buat dan regulasi yang berat sebelah. Publik juga ikut berperan mengawasi jalannya proses demokrasi.

Tidak kalah penting yakni pihak pembuat regulasi, pelaksana dan pengawas. Jangan sampai pihak tersebut ditunggangi oleh 'remote' tertentu. Karena pihak inilah yang memastikan jalannya proses demokrasi yang jujur, bersih, adil, bebas dan terbuka.

Pihak lain yang juga berperan adalah tim sukses. Tim yang dibentuk oleh pihak tertentu, dengan menyiapkan taktik dan strategi pemenangan baik di level bawah sampai atas. Panggung akan terlihat seperti medan perang dalam seni perang Sun Tzu. Siapapun yang keluar sebagai juara harus saling mendukung, menghargai dan merelakan.

Akan tetapi, Jika sedari awal sudah ada yang bermain kotor dan licik, maka akan mengganggu dan menimbulkan konflik baik horisontal maupun vertikal selama dan sesudah perhelatan demokrasi. Namun jika dengan cara yang baik dan tidak melanggar aturan maka prosesnya akan lancar, aman, dan damai.

Akhirnya, panggung politik dan teater adalah panggung sementara. Panggung yang bertahan dalam kurun waktu tertentu. Namun yang terpenting adalah panggung dan aksesorisnya harus mampu menjawab harapan masyarakat, cita-cita luhur, tujuan bersama,  kepentingan dan kemakmuran rakyat. Seperti jargon yang sering disuarakan: dari, oleh dan untuk rakyat.

"Mencari Jalan Lain"

Ruas jalan merangkak perlahan
Sedang kendaraan yang tumpah di jalanan bagaikan balapan
Citra Pusing tujuh keliling mencari jalan
Dika pun geleng kepala keheranan
Sembari bergegas tancap gas
Berkutat menyusuri celah yang ketat
Telat sedikit nanti pasti rugi
Kalau Buru-buru malah celaka
alias setor nyawa
Bergerak pelan akan ketinggalan
Namun Menanti sunyi tuk beranjak pergi
Bagai bermimpi di siang hari

Kini Trotoar-trotoar mulai memar
Diinjak ban-ban yang gemar
Digusur penumpang-penumpang liar
Pada Akhirnya jalan terasa tak cukup lebar
Meski seringkali diperlebar

Nampak di atas bahu jalan
Jembatan melayang-layang
Terbang dari seberang ke seberang
Lampunya remang-remang
Lantainya berlubang-lubang
Dindingnya sedikit bolong
Sampai orang pun takut menyebrang
Sebab perkara tak kenal malam maupun siang bolong

Ketika statistik berbicara
Publik hanya terpana
Namun itulah realita
Kita hanya menonton seksama
Melalui Berita-berita yang dibuka media
Melalui cerita-cerita yang dibawa pengendara
Dan melalui tinta-tinta yang diukir oleh perangkai kata

"Memori"

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Kau penuhi lalu kau tinggal pergi
Tanpa peduli sesak yang kian terasa
Duka lara mengakar di dada

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
burukku kau biarkan membusuk
Dagingku kau tusuk-tusuk
Tulang rusukku kau buat remuk

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Diam-diam kau sibuk mencari
Lingkar jari yang ku beri seolah tak berarti
Kau hanyutkan di deras banjir yang menggenangi

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Barang bumi yang ku gali
Batang hutan yang ku tebangi
Isi laut yang ku habisi
Kau ambil lalu minta tambahan lagi
Sudahlah sampai di sini
Kau memang tak mau mengerti

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Lidahmu manis mengutak-atik teori
Otakmu asyik menyulut interpretasi
Di balik tangan segalanya kau manipulasi
Kebohonganmu seringkali kau tutupi
Dengan data-data yang kau olah sendiri

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Tak ada lagi yang bisa ku beri
Tinggal tulang terbungkus kulit ari
Tinggal nama yang menempel di diri
Tanpa Gelar yang menempel tiap hari
Hanya untukmu seorang diri

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Hati-hati lah kalau suatu saat nanti
Itu terjadi saat kita bertukar posisi

"September"

Bulan september datang bulan
Tragedi tertimbun di bawah reruntuhan
Berbilang-bilang tiada terbilang
Silang menyilang ditinggal belang

Luka September masih tersisa
Bergelimang air mata di pusara phobia
Mengelus jejak yang tergores luka
Ditimang-timang rayuan manja sang penguasa

Memori September dikenang dimana-mana
Massa aksi tumpah di jalan raya
Bendera setengah tiang berkibar seperlunya
Cahaya lilin berpijar menembus gulita
Di Sekitarnya bertabur bunga-bunga
Dan Rangkaian kata-kata bersanding dengannya

September lalu telah menepi
Bulan baru telah menanti
Setidaknya sisakan selembar rela di hati
Tuk menjawab teka-teki
Yang telah lama mati

September oh september
Bawalah mimpi yang nyata
Di dalam ruang realita
Bukan deretan yang menjebak
Di atas alam nyata yang sama

"Aduhai Kekasih"

Aduhai kekasih
Sepertinya letih, tersenyumlah
Biarlah bibir merahmu merekah
Tak usah resah berkeluh kesah

Aduhai kekasih
Sepertinya gerah, tertawalah
Lepaslah geram yang bercongkol di dalam
Tak usah bimbang kalau suara sumbang datang

Aduhai kekasih
Sepertinya susah, sabarlah
Sematkan diri lalu jalani yang telah diyakini
Tak perlu ragu andai cukup mampu
lalu lalang rintang yang menghadang pasti berlalu
Seperti perjalanan waktu

Aduhai kekasih
Sepertinya gelisah, tenanglah
Peluklah tonggak yang berdiri tegak dengan erat-erat
Tak perlu jengah apalagi berkilah
Dia menusukmu saat lengah
Pastikan kau tak kalah

Hai kau yang sedang di sana
Aku memanggilmu
Dengan suara yang mengetuk telingamu
Dengan simbol yang tersebar di sekitarmu
Dengan gerak yang menyertai keberadaanmu
Dengan bahasa yang menjalin interaksimu
Dengan konvensi yang melingkupi posisimu
Dengan sistem yang mengatur polamu
semuanya hanya untukmu

Aduhai kekasih
Kemarilah!

"Pil Pemilu"

Jungkir balik jejal pendapat
Turun ke bawah menjaring rakyat
Mulai dari Atraksi magic seperti akrobat
Orasi panggung yang memikat
Wacana manis penebus niat
Manuver kocak ala capung nekat
Amplop wasiat bagi saku terdekat
Jabat berjabat tangan pejabat
Safari momental di kala sempat
Kendati lupa setelah dilihat

Sorak sorai tumpah di jalanan
Lambaian tangan di atas bangunan
Di pohon-pohon berjejeran bagai selebaran
Di tiang-tiang melawan ancaman
Di halaman bahkan lapangan Teriak kegirangan
Dari kejauhan hanya terlihat tangan-tangan yang dicalonkan
Simpatisan rebutan sikut kiri kanan
Injak menginjak tiada terelakkan

Kediaman suksesi tak mau diam menanti juara
Langkah strategis dirangkai sedemikian rupa
Pasukan disebar ke lumbung suara
Sedang Layar kaca sibuk mengudara
Berita-berita seakan medan laga
Rakyat merasa sepertinya itu-itu saja
Tanggapannya beraneka rupa
Ada yang pesimis seolah tak percaya
Ada yang ketus berujar "ini hanya tipu daya, Saya juga bisa melakukannya"
Ada yang ceria jagoannya masuk bursa
Ada yang pasrah sebab pesta demokrasi semakin gila
Ada yang merasa seolah tidak terjadi apa-apa
Ada yang yakin jika saatnya tiba pasti berubah juga

Sang calon pun datang
Bagai tokoh utama di suatu wayang
Rakyat tenang sejenak kemudian hilang
Seperti meneguk pil penenang
Sekarang tenang eh besoknya datang

Di sudut kota tampak bekas coretan pahlawan dulu kala
Entah apa yang tertulis di sana
Tulisannya samar-samar ditelan masa
Di perbatasan desa terdengar asa warga
Di tengah belantara tersiar balada rimba
Di sepanjang pantai, perahu nelayan bersandar pada negara

Pil pemilu kami menunggumu
Aksi nyata dari bait-bait janjimu
Janji yang telah melayang di antara kita

Kini kau telah jadi
Jangan sampai menjadi-jadi
Mengobar api di negeri sendiri
Menjual negeri untuk diri sendiri
Mencekik kami untuk sanak famili
Memperkosa ibu pertiwi demi nafsu sendiri

Kini kau telah di sana
Jangan pernah berpura-pura
Sekarang bersumpah setia
kemudian hari lupa
Tanpa sisa

"Kurban yang Tergadaikan"

Detik-detik menjelang 'Idul Adha
Sebagian menghadap ilahi
Menunaikan ibadah haji
Setelah sekian lama menanti
Sebab menunggu nomor antri
Yang lain menghamba lewat puasa
Sedekah dan kurban ditunaikan bagi sesama
Karena tidak semua bernasib sama

Hari raya kurban sebentar lagi
Orang-orang sibuk menyiapkan diri
Hewan sembelihan siap didandani
Mereka cantik seperti putri
Sehat dan Gemuk bagai atlet berisi
Meski leher berjumpa belati
Dia masih memasrahkan diri

Kulit Daging dan tulang dibagi-bagi
Hingga tak satu pun yang terlewati
Walau ada pula yang iri hati
Bahkan sakit hati
Tapi yang berbesar hati
Bahagia berhari-hari

Kurban memang untuk berbagi
Bukan malah menyakiti
Apalagi pamer diri

Kurban tidak hanya soal hewan
Akan tetapi sebuah pengorbanan
Ujian kesabaran dan ketabahan
Bahkan penghambaan di hadapan Tuhan

"Papan Nama"

Oh pejuang
Aku tidak kunjung paham
Kenapa orang berjuang dan bertahan
Padahal nyawa dipertaruhkan
Tak sedikit yang hilang
Berjarak dengan ruang setelah dibuang
Bahkan ada yang mati
Dilahap api
Disayat belati
Ditelan racun
Dipenggal jagal
Ditimbun tanah
Entah apa lagi

Namun jangan khawatir
kau tak kan terlupakan
Suara lantangmu terbang di udara
Memekik telinga mendobrak dada
Merawat ingatan yang pura-pura lupa
Melawan lupa yang sadarnya tak lama

Wahai pejuang
Sedikit lancang ku sampaikan
Nisan baktimu tak akan lekang
Meski tulisannya hilang
Karena kau masih ada
Hidup di balik kekejaman yang diabaikan
Di tengah ketakutan yang ditangguhkan
Di antara kebohongan yang disembunyikan

"Nyanyian Seorang Tahanan"

Kini ku hanya bisa diam
Dengan mata tertutup
Mulut dikunci rapat
Tangan di ikat erat
Hanya terdengar suara bisikan
Langkah yang agak berat
Lalu ku digiring entah kemana
Sampai akhirnya menjelma
di tengah ruang minim cahaya

Semua tampak gelap
Baunya pengap
Tanpa tikar
Tanpa hiasan
Tanpa perabotan

Rupanya Ku di buang dari tatapan
Beranjak ke ruang ratapan
Hujatan tiada terlewatkan
Ancaman tiada ketinggalan
Peluru datang bagai sengatan
Ditendang ditekan santapan harian
Dilecehkan diabaikan menu tambahan
Terkadang berjumpa penyesalan

Hari berganti hari
Ukiran dinding penghitung hari
Berjalan tanpa disadari
Bertahan dari gelombang takut
Senandung Batin yang karut marut
Cemas yang kian larut
Ketika suara sumbang menjemput
Rasanya urat ku dicabut
Tercerabut lalu hanyut

Sepanjang cerita ku lukis semesta
Darah luka sebagai tintanya
Tulang belulang tiang kuasnya
Tubuh ringkihku lembar medianya
Sampai akhirnya
Angan-angan yang terdalam bersuara
Hanya ini yang ku wariskan
Nyanyian klasik yang mengusik

Walau Tak terbayang olehku
Waktu kan mengingatku
Ataukah lantas melupakanku

Biarlah
Ku serahkan semua
Hingga ada jawabannya

"Lempar Batu Sembunyi Tangan"

Berulang kali kau bilang aku kepala batu
Sedang batu belum tentu mau
Batu diam tidak mau tahu
Batu kan tidak punya nafsu
Kalau dipikir-pikir kitalah yang membatu

Ah sudahlah
Kau seperti melempar batu sembunyi tangan
Ambil buang kemudian cuci tangan
Takut disalahkan
Maunya selalu dibenarkan
Khawatir dijerumuskan
Padahal mau diluruskan

Ya sudahlah
Aku seperti ngotot bela diri
Padahal belum tahu pasti
Mungkin percaya diri terlalu dini
Berlagak orang paling suci
Ha...ha..ha..
Kalau tidak begini
Aku tidak akan punya jati diri
Ya biar tampak punya harga diri

Bicara kanan kena kiri
sentil samping sisi lain miring
Sentuh atas yang bawah panas
Tekan bawah bagian atas gerah
Tunjuk depan yang belakang rentan
Teriak ke pojok yang tengah terpojok
Sebut tengah yang pojok jadi lengah

Ya Biarlah
Memang seperti itu
Nanti juga akan kembali


"Pergilah"

Dari tadi rasa ini menusukku
Menghujam di sela rusukku
Tak kau biarkan ku lengah
Meski sekujur tubuh terlampau lelah
Menjauhlah!
jangan pernah kembali

tiada sudi kah datang belas kasih
Pada jiwa yang gerah nan jengah
Adakah Segenggam curahan hati
Bagi ku yang setia menanti
Hingga waktunya tiba
Ku masih di sini

Namun kau melangkah pergi
Menjauhi tegak ku berdiri
Kau memang tidak peduli
Kau berlari tiada henti
Sedang aku hidup seperti mati

Waktu kian berlalu
Gemuruh batin kian menggebu
Dalam bimbang ku menunggu
Rasaku yang tak tahu malu
Ataukah dirimu yang tidak mau tahu

Pergilah!
Jangan pernah kembali
Biarkan ku hampa
Sendiri di tengah sunyi
Tanpa simpati juga empati
Apalagi tendensi

"Menggapai Mimpi"

Secangkir kopi inspirasi
Menemani meja inovasi
Terbang dengan sayap imajinasi
Merajut benang-benang kreasi
'Tuk menggapai mimpi yang berarti

"Musim apa ini?"

Apakah ini sedang musim gugur?
Bom yang meledak kian menjamur
Rasa takut yang menteror tak kunjung kabur
Darah mengalir bercampur debu kotor
Seakan jasad pantas tuk hancur

Apakah ini sedang musim panas?
Sepertinya kekerasan kian mengganas
Yang lemah setiap detik ditindas
Hak yang lain terus dirampas
Yang melawan langsung dilibas

Apakah ini sedang musim paceklik?
Harga bahan pokok kian mencekik
Oknum X ramai bermain licik
Yang untung tertawa di belakang publik
Sedang Rakyat kecil dihantui rasa panik

Apakah ini sedang musim dingin?
Rasanya penguasa kian berdarah dingin
Jerit tangis mengembara bersama angin
Menggigil di antara beku kepedulian
Yang bersembunyi dalam kegelapan

Apakah ini sedang musim kemarau?
Tampaknya kebakaran kian mengajak bergurau
Air surut seakan tak kenal rindu
Seiring panen yang mulai layu
Juga wabah datang terburu-buru

Sesungguhnya...
Musim apa ini?

"Rindu"

Malam ini
Dia terlelap
Terjaga dalam selimut malam
Menari-nari di taman mimpi

Malam ini
Pesonanya kian memancar
Bersinar bagaikan kunang-kunang
Terbang melayang di tengah gulita

Malam ini
Bintang-bintang tertawa
Purnama tersenyum di sana
Lihatlah! Angkasa sedang bercerita

Malam ini
Hembusan angin selembut sutera
Daun-daun menyapa dari balik jendela
Padang ilalang goyang bersama
Bergeraklah! Hutan berdansa pula

Malam ini
Debur ombak bercanda di bahu karang
Bergulung gemuruh di hamparan pasir
Buih-buih yang sejenak terdampar
Dengarlah! pantai ini bernyanyi

Malam ini
Bunga-bunga tak sabar menanti fajar
Radar kelelawar pun terbuka lebar
Hingga mentari senyum kembali
Rasakanlah! Dunia sedang menyapa


Selembar malam
Hanya untukmu
Dari rindu yang sedang memburu


"Seperti di Tengah Belantara"

pohon-pepohonan ditanam pilah-pilih
yang tak berguna dibuang seperti sampah
hutan buatan ditimang bak anak asuh
batang gelondongan terapung siap dikayuh

hewan-hewan bingung tak tahu arah
menapaki semak belukar sampai terengah-engah
mencari pelindung di hutan lindung
sebab saudaranya bengong di dalam kurung

kebun binatang mulai meradang
penghuni bilik tak lagi garang
jatah makan dirubung lambung kenyang
mimpi buruk pun menyerang dari belakang

burung-burung berlatih di tangan mahir
mabuk kepayang nyanyikan petuah mandor
kicauan merdu hanya sebatas rindu
sayap berbulu seolah hiasan palsu

citra kambing sudah tak aman
sebab mengkambing hitamkan jadi senjata andalan
serigala berbulu domba turut rebut keuntungan
tak peduli lawan juga kawan asal kebagian

Oh belantara
Sampai kapan ini terjadi?



"Jejak Tertahan"

Dari fajar hingga senja
   Berjuang melawan diri
   Mengekang serpihan kotoran
   Yang bercongkol dalam pikiran
   Yang berlapis dalam dada

Dari sanalah mulai terbuka
Tak ada yang berbeda
Apalagi terpisah

Dari fajar hingga senja
   Menundukkan diri
   Merengkuh derajat tinggi
   Tanpa iri dengki
   Tanpa caci maki
   Apalagi berbangga hati

Dari fajar hingga senja
   Mengembara dengan nafas puasa
   Menapaki ruas jalan
   Hanya untuk ridho yang kuasa

Dari fajar berjumpa senja
   Menghamba menjadi yg dicinta
   Seperti yang telah dicontohkannya
   Bukan yang dimurka
   Bukan pula yang tersesat

"Air"

Segar hembusan angin pagi
Kala jendela mulai terbuka
Seperti terlahir kembali
Bahagia tiada tara

Sembari melepas dahaga
Seteguk air begitu berharga
Hibernasi istilah orang kimia

Nun jauh di seberang sana
Setetes H2O seperti mutiara
Sebab begitu sulit meraihnya
Namun
Lain halnya di halaman kami
Air mancur bergaya tiada henti
Kolam renang bagaikan samudera

Beda dengan negeri tetangga
Mata air warga dijual ke mana-mana
Sering pula menjadi sumber air mata

Ada juga yang meronta-ronta
Seolah banjir langganan saja
Dan
Tsunami datang secara tiba-tiba

"Sahabat Pena"

suaramu sembunyi dibalik sunyi
namamu tertulis di nisan bakti
memorimu termangu dari hari ke hari
senyummu terlukis di paras pertiwi
semangatmu berkobar lintas generasi
warnamu haru biru perisai sakti
bintangmu kelap kelip malam hari

Wahai sahabat pena
Ajari kami tentang tinta
Kata tak lagi bermakna

Wahai sahabat pena
Ajari kami tentang cerita
Sebab bicara tak lagi bermakna

Wahai sahabat pena
Ajari kami tentang persepsi
Sebab ilusi menjadi-jadi

Wahai sahabat pena
Ajari kami tentang teori
Konsepsi seperti buah manipulasi

Wahai sahabat pena
Ajari kami tentang lembar data
Realita seperti racikan rekayasa

Oh sahabat pena
Dimanakah engkau berada

Apakah engkau lupa...





"Berlalu"

Lompat melompat
katak pun terus melompat
meski ruas tambah lebar
aspal semakin menebal
cahaya terang benderang

lompat melompat
langkah sudah tak terbilang
meski aral menghadang
roda kendaraan melintang
getir nadi tak hilang

hingga terlindas
menjadi mayat berserakan

akhirnya
hanya nama yang berlalu
tinggal lah fosil masa lampau
dan kenangan masa lalu

"Suara Perlawanan"

Ketika suara ku dibungkam
Tangan ku dikekang
Langkah ku dihadang
Tubuh ku ditikam
pandangan ku dilarang
ide ku di jegal
karya ku dibuang
jiwa ku tak dapat ruang
Tapi ada yang tak kan hilang
KEBENARAN!
Karena Engkau bukanlah Tuhan

"Oh"

         Lho
Kok             bisa
Untung        saja
Kok          enggak
Tidak            tahu
Masak             sih
Iya                  kok
Kok            begitu
Ow              walah
Ok tidak apa-apa
Begitu saja kok
           Oh
            O

"Menipu Cermin"

Aku seperti bayangan
Sembunyi di balik kenyataan
Seolah bukan seperti kepalsuan
Hadir dalam wayang keutuhan
Masih serupa meski berkebalikan
Sudut proyeksi munculkan perbedaan
Cermin bagaikan dalang pertunjukan
Lekas menampakkan
Ataukah
Bebas mencampakkan