Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Jalan Pulang"

Tatkala meninggi
Harga diri terpaut di awan tinggi
Sampai lupa sedang memijak bumi

Sepanjang ruas yang ditapaki
Kuharap suatu saat nanti
Kan berjumpa jalan kembali
Jalan yang dikehendaki

"Benang Waktu"

Gemercik air tiada henti berbunyi
sementara jangkrik dan kodok asyik bernyanyi
Walau mereka tak pernah peduli
Ada telinga yang berkenan menghampiri
Apalagi menikmati

Malam kian sepi
Meninggalkan hiruk pikuk siang hari
Hingga fajar menyapa kembali

Begitulah lembaran hari
Berputar mengelilingi
Akan terus terpenuhi
ataukah
Mengalir tanpa isi

"Temu Rasa"

Selembar waktu mulai membeku
Merekam jejak muasal yang bisu
Lantas membungkus rindu yang kerap merayu
Pada daun hijau di hamparan syahdu

Pikiran yang terpisah iri dan curiga
Telah terburai bahkan terlupa
Hati yang berlapis gelap dan bangga
Telah tergerus bahkan berpijar cahaya
Jiwa yang terancam dan tertikam
Telah berteduh dan kembali tenang

Hanya itu yang kurindu
Sebab di sanalah kita menyatu

"Menyoal Kopi"

Kali ini bercanda bersama sunyi
Hanya ditemani secangkir kopi

Diam-diam kopi bernyanyi sendiri:
Diriku tak mengenal tamu yg mendekat
Tak mngenal kepentingan yang melekat
Tak memaksa siapapun untuk tercurah nikmat
Tak menghukumi yang bersamanya
Tak menghujat yang di sebelahnya
Bahkan
Tak peduli pada kata yang menilainya

Begitulah secangkir rasa
Terkadang dituduh karena kurang gula
Terkadang dihujat karena tak sesuai selera
Terkadang dihina karena racun yang menumpanginya
Terkadang dibenci karena jejak di lain hari

Tetapi kopi tetaplah kopi
Untuk dinikmati pun disyukuri

"Geser Gusur"

Pagi menjelang siang di pojok warung kopi, datanglah para perwira dengan gagahnya seperti sedang memburu sesuatu. Sebagian memakai seragam dinas, sebagian lagi hanya memakai kaos oblong. Di depan meja kasir duduk seorang anak kumel dan kesal, keduanya saling bertatap mata bagaikan perjumpaan pertama sepasang kekasih. Sementara di bangku yang lain, anak berambut keriting duduk santai dengan pandangan yang tajam sembari mengerutkan kening. Maka mulailah dialog di antara mereka:
“Selamat siang, kok sepi ya?”
“iya Pak, maklum sibuk mencari nafkah buat anak cucu”
“Omonganmu lho, metuek”
“Mesan apa pak?”
“Jahe hangat”
“tidak ada pak”
“Jeruk dingin, atau yang manis-manis lah”
“kalau itu sawang aku ae pak...heehehhe”
“Lho terus yang ada apa dong”
“Akeh pak, lha wong pasare sampeyan gusur gitu”
“Gusur apane, mek mindah thok”
“Lha iku pak jadi bingung kulakan di mana”
“Itu kan masalah sampeyan, aku kan mau mesen minum”
“Iyo meseno wes pak”
“Iyo wes, teh sama kopi ireng”
“Ok pak santai tunggu sambil main catur ae, ono sing wani ta?”
“Lha sampeyan salah masuk pak kalo nanya gitu”
“Iya, ayo sopo sing wani?”
“Kulo Pak, ojo lali carane main lho pak”
“Di sini nggak ada penggusuran lho, maklum catur katanya main utek alias meras otak dengan strategi gitu”
“Ojo mbacot ae, langsung atur dan jalankan”
“Lho kene wes ngenteni kaet mau pak”
“Iyo yo...iki tak atur....hhehehehe”

Permainan catur pun dimulai. langkah demi langkah dilakukan. Seperti biasa suara yang lain ikut mengatur pemain. Sebentar diam, sebentar gaduh. suasana siang itu tak ubahnya seperti berita hoax yang lagi marak di media. Eh kok sampai ke sana ya...hehehhee...

Sesekali kedua belah pihak mengeluarkan pernyataan yang membuat lawannya mati kutu. Terlebih lagi penonton turut andil dalam menambah ketajaman memangsa pihak tertentu. Makan memakan seringkali diperlihatkan agar musuh terjebak dan akhirnya mati. Kendati demikian catur tetaplah catur, permainan yang selalu mempertaruhkan menang dan kalah. Siapa yang menggunakan strategi yang baik dan tepat tentunya akan menang. Namun setelah permainan dimainkan, semuanya kembali melanjutkan cerita dalam satu nuansa yang dinikmati bersama.

Sampai menjelang malam, mereka kembali ke rutinitas masing-masing. Tanpa noda yang terselip di dalam dada.  



"Hadiah Untuk Kalian"

Hari ini tanpa basa basi
Kupalingkan muka darinya
Namun mereka membalasnya dengan wajah bercahaya
Juga dada terbuka

Ketika kuberanjak pergi
Si roda dua menggeliat menggoda
Karena jiwanya mati badannya tak berdaya
Tangan mereka pun bergegas menjamahnya
Penuh suka cita meski noda melekat di mana-mana
Walaupun akhirnya tetap kembali ke tangan empunya

Dalam diam kusadari
Diriku telah didekap kebodohan
Disekap keangkuhan
Dihujam keegoisan
Dilibas keterasingan
Hingga kubersandar di relung sunyi
Menatap diriku sendiri

Tapi berlaksa bait terus kukirimkan
Sebagai cahaya untuk kalian
Yang telah mengantarku pulang
Ke jalan yang kurindukan

Terima kasih...
Untuk selamanya...

"Beranda Kita"

Di balik tenangnya kopi
Tertulis kisah terperi
Tentang rasa yang dijaga
Tentang janji yang dibina
Tentang makna yang ditata
Tentang citra yang diungkap indera
Hingga terbaring di dasar rasa

Akhirnya kita meninggalkan beranda
Dengan warna yang terlukis di dada
Dan mekanisme terpola di kepala

"Meja Bisu"

Seperti sedia kala
Kala rindu melanda
Tangan terbuka merapal mantra
Sampai akhirnya
Bersatu di hadapan meja tua
Tanpa rasa
Tanpa suara

"Angka dan Kita"

Angka tak pernah berkata
Apalagi 'tuk bercerita
Hanya saja 'kan berbeda
Kala suara lain menjelma darinya
Atau
Nafas luar merasuk ke dalamnya

"Nostalgia Meja Bundar"

Lagi dan lagi
Nostalgia ini kita bina

Di atas meja yang sama
Sembarang rasa terjaga
Sekelabat cerita terbaca
Setumpuk asa terekam masa

Sampai akhirnya
Dahaga terbayar tuntas
Dengan torehan berbekas
Bersama jiwa yang meluas
Pun cinta tak terbatas

"Kisah Langit dan Bumi"

Tak perlu pandai
Hanya untuk berbangga diri
Tak perlu perkasa
Hanya untuk berkuasa
Sebab langit yang tinggi
Tak pernah berkata:
"Aku selalu lebih daripada bumi"

"Sajak Cahaya"

Mata di depan kaca
Menembus pandang
Menangkap dunia

Cermin di sekitar raga
Membagi dunia jadi dua
Mencitra sebagai makna

Sementara lensa di tengahnya
Menjembatani saban masa
Berupaya mengada
Dan ber-ada

"Berdiri di Tengah Badai"

Badai Kali ini
mengantarku pada kenangan kala itu
saat kau berdiri tegak di tengah dilema
sembarang mata hanya menelanjangimu
sembarang suara hanya menjeratmu
sementara aku dirajam takut
takut merajang tak berkesudahan

Andai kau tak terjebak di sana
di tengah geming padang gulita
pasti! senyummu merekah seperti sedia kala
senyum sempurna seperti purnama
yang dirindu oleh penunggu surga

Tapi kuyakin badai kan berlalu
seperti masa lalu
yang tegar menghadap masa depan

"Sajak Ikat"

Ternyata....
Teramat nyata
Lantaran: ada, jeda juga pola

"Bingkisan Perubahan"

Duh.. duh.. aduh
Ada yang aneh kala kau muncul
Kau datang secara tiba-tiba
Membawa bingkisan bertuliskan sabda
Di dalamnya terpatri khazanah bernapaskan perubahan

Sebenarnya untuk siapa saudara?
Namun kau hanya tersenyum dalam diam
Laksana rahasia di balik mantra

Dih.. Dih.. Dih
Sepertinya kau telah berjumpa mimpi-mimpi
Atau sedang dirundung rindu akan sesuatu?

Dari berlaksa-laksa kata
yang bersanding rupa tokohnya
Dan bertakhta latar empunya
Terpancar energi tak biasa
Sampai-sampai lidah tak kuasa berucap apa-apa

Walaupun begitu
Semoga semesta bergandeng tangan bersama-sama

Ternyata memang bingkisan istimewa...

Kini bingkisan itu kan terbuka
Tepat di awal masa tercipta
Entah isinya apa
Namun harapan nyata melekat padanya

Dalam diam kau pun hanya tersenyum
Sembari membukanya pelan-pelan
Dan ternyata...

"Sepertinya tak berhenti sampai di sini"

Begitulah pesan singkat
Yang terbaring di sana
Dan matamu pun mulai berkaca-kaca
Sebening mata air tanpa noda
Bahkan kian manja
Bagaikan bayi di pelukan ibunya


"Sowan ke Rumah Sendiri"

Apalah hamba di belantara semesta
Ketika hanya dilihat dari satu sudut
Padahal sisi lain pantas dirunut

Siapalah daku di rimba dunia
Ketika hanya dipandang sebelah mata
Padahal indera tak cuma satu

Mulai membuka diri
Dari tabir yang menyelimuti

Kenapa saya dikira begini
Kalau sekedar terpaut atribusi, juga teori
Padahal tak segalanya dapat terkira

Bagaimana pula diri mengaku sejati
Kalau bertolak melawan yang hakiki
Lantaran seringkali luput diri

Tabir hilang seketika
Dalam taman kilauan cahaya...

"Berebut Nomor Urut"

cuit... ciii.. cucuit..
sorak sorai bergemuruh
terpental dari dinding yang tersentuh
ketika paslonnya meracik teluh
di hadapan sayap yang tengah bertaruh

tuh, ini calonku, pantas peroleh nomor satu
   sembari menepuk dada dengan bangga
nah, itu calonku, cocok pegang nomor dua
   sembari memberi hormat dengan tunduk kepala
wah, dia calonku, tepat sekali dengan nomor tiga
   sembari menyampaikan salam dengan tepuk tangan

hore.. rehore.. horere
   calonku yang bakal menang
   suaranya pasti melampaui perhitungan
ya ding.. eh dong.. dung
   calonku tak mungkin kalah
   pemilihnya pasti melebihi perkiraan
duh.. aduh.. aduduh
   calonku tidak akan dapat diimbangi
   pencoblosnya pasti jauh di atas harapan

nomor urut... oh.. nomor urutku
kau memang cukup hebat
bikin urat kepala enggan mengkerut
bikin semangat cepat melesat
bikin hasrat dapat menjerat
bikin tenang kan menjadi berang
bikin awalnya rekat kembali bersekat
bikin yang lumpuh kan segera pulih

Di sisi lain sang calon terus memasang badan
memainkan peran
meneruskan percaturan
hingga samar-samar mana peran
dan
mana kenyataan

Sementara angka-angka mulai berbicara
dengan berlaksa tanda yang terbaca
dengan bahasa yang mudah diterka
hingga beragam tafsir bebas berkelana
hingga beraneka cara bebas mengembara
di antara kepastian yang tak kunjung tiba

Dan sampai pada akhirnya
ditebas oleh sebilah waktu
yang seringkali tak pandang bulu




"Jamuan Literasi"

Tatkala mentari menyingsingkan lengan
Kita bersila bersama di tengah sepetak ruangan
Menikmati nyanyian kerabat suara yang didendangkan
Sembari mencicip jajanan lokal yang disuguhkan

Tak terasa nasib literasi sedang diperbincangkan
Tak terasa masa depan literasi tengah didiskusikan
Dan tak terasa harapan literasi telah digoreskan

Hingga literasi membumi
Dan tak terpaut di awan tinggi

Di tengah ruangan itu
Melodi dan puisi bersatu dalam lagu
Seakan enggan dikoyak-koyak waktu

Di balik tembok itu
Aksara dan angka asyik bertemu
Seakan enggan dituduh tak padu

Wahai literasi
Hiduplah terus hingga nanti
Jangan sampai kau mati

"Negeri Lapor"

Negeriku, negeri lapor
Orang-orang bebas melapor
Lapor ah lapor bagai hujan meteor
Lapor ah lapor bagai perang teror

Negeriku, negeri lapor
Semangat pelapor membara seperti kompor
Sontak terlapor merasa kena bakar
Sehingga tutur kotor pun terlempar
Sebab jelaga di dada terlampau berkobar

Negeriku, ya negeri lapor
Setumpuk laporan mengantri di meja kantor
Sederet nama pun mendadak tersohor
Seakan bias ujaran menjadi virus menular
Dan merusak akar mengikis akur

Lapor eh lapor
Karamnya jamuan berpikir
Lapor eh lapor
Kandasnya hidangan berkelakar

Andai namanya berganti negeri tak lapor
Pasti lapor tak jadi rekor
Sebab akan butuh banyak rakor
Sebab nantinya tambah molor
Sebab bakal bikin tekor

Negeriku, memang negeri lapor

"Anak Kembala"

Di tengah asrinya sabana
anak kembala berbaring berselimut angin
Seluas pandang tumbuh ilalang di tepian
Di sana sapi, kambing, kuda, dan domba  bercengkerama
Menunduk pada hijaunya alam

ketika lamunan sang pengembala melayang jauh
Mimpinya menari-nari menyibak padang
Lalu mengendap di daun-daun yang dikunyah hewan
Wajahnya girang sebab perut asuhannya kenyang

Sesekali mereka bersendawa
bertukar cerita sembari melahap makanannya:
"Tuan kita baik ya, sedia menunggang waktu hanya untuk mengasuh kita", kata sapi betina
"kita tak pantas kurus supaya dia lebih terurus", sahut kambing muda
"iya benar, kita harus bertenaga supaya tak kalah sama motor milik temanya", tangkas si kuda
"Sudahlah, santai saja, yang penting sesuai harapan keluarganya", timbal si domba

Anak kembala tiba-tiba terbangun
kemudian menggeliat seraya berkata:
Ayo! bersiaplah, kita kembali ke rumah
Jangan terlalu rakus nanti kalian bisa muntah
Rumput yang lain adalah jatah tetangga sebelah

Sampai jumpa... sabana...



"Negeri Tretetet"

Umtretetet
Kata-kata yang buncah seketika
Kala matamu menatap layar kaca
Sambil menggeleng-gelengkan kepala
Masih terus kau merapalnya

Karena terheran
Kuberanikan diri tuk bertanya:
Hai, Saudara, kenapa kepalamu begitu?

Umtretetet
Negeri kita semakin aneh...

Oladala
Aneh-aneh saja kau ini
Padahal tiada yang aneh dengan negeri ini
Mungkin pikiranmu yang aneh
Atau
Memang yang tengah kau pikirkan yang aneh

Umtretetet
Yah..yah..yah..
Aneh ya!

Hemmm...
Keduanya gelengkan kepala

"Kalau hanya.."

Kalau hanya bungkus yang kau beri
   Lantas akan terisi dengan apa?
Kalau hanya isi yang kau cari
   Lantas akan tertutup dengan apa?

Bukankah pada keduanya
tersimpan suatu rahasia?

Kalau hanya dunia yang kau puja
   Lantas di alam baka kan peroleh apa?
Kalau hanya akhirat yang kau damba
   Lantas persiapan di duniamu bagaimana?

Bukankah keduanya terikat oleh suatu sekat?

Iya
Kalau hanya...

"Pesan dari langit"

Menerka senja
Pesan awan di balik hujan

"Patung Gus Dur"

Di tangan sosok pemahat kayu
Sebatang jati jelma patungmu
Kau ditata olehnya sedemikian rupa
Bagai menimang-nimang anaknya
Sehingga pukau berlaksa-laksa mata

Suatu waktu, ketika dibuka bagi umum
Beragam muka menatapmu yang terus tersenyum
Kupu-kupu dan burung-burung
yang bertandang ke seberang taman
Merasa iri dengan warna warni orang yang berdatangan:
"Kok bisa rukun dan bersatu ya" tandas sang burung
"Seperti pelangi di sayapku saja" sahut kupu-kupu yang sedang terbang
"Andai, kita seperti mereka, taman pasti tak bakal murung" ucap anak burung

Ketika kerumunan berteduh di samping patung
Sang pemahat memilih bersandar di bawah pohon
Sembari melantunkan 'syiir tanpo waton'
Tiba-tiba air matanya jatuh
Katup suaranya terbuka begitu pelan: "Syukur kau datang"

"Jembatan waktu"

Bulan berjalan begitu cepat
Purnama termangu di ujung tongkat
Dentang arloji masih presisi dan tepat
Namun langkahku serasa tersendat-sendat

Kalender terbata-bata menerangkan semua
Semenjak januari sampai desember menua
Beraneka warna terekam ingatan purba

Parade kisah dirundung kasih
Rajut cerita dirubung berita
Pesona rupa ditumpang citra
Balada lama didekap mala
Catatan baru disergap haru
Deretan sarat diseret hasrat

Tatkala musim hampir berakhir
Tak sengaja kita bertatap muka
Lantas gelas waktu ikut berkelakar
Di atas meja rindu peraduan rasa

Seperti yang dulu kau selalu haus tema
Setali topik melebar ke mana-mana
Senggol kiri sikut kanan sudah biasa
Entah berapa kata telah kau baca
Entah berapa orang telah kau anggap saudara
Entah berapa kali aksi telah kau jalani
Entah berapa cara telah kau coba
Entah berapa karya telah kau cipta
Entah, kau masih seperti dulu

Iya, kau masih sama, saudara
Meski telah lama berkelana
Meski telah banyak ornamen yang berbeda
Meski telah bertumpuk gelar di dada
Meski statusmu sudah di atas rata-rata
Kau memang masih sama
Iya, kau tetap sama

"Akademia 2"

Di seberang sungai pinggiran desa
Berdiri gedung tua beratap segitiga
Kemiringannya serupa menara pisa
Di halamannya berkibar bendera pusaka
Warna dindingnya pudar dimakan usia

Untuk sampai menyentuh gerbangnya
Anak-anak berangkat semenjak pagi buta
Berjalan melewati setapak berhasta-hasta
Kadang-kadang duri-duri bersembunyi Merasuk memeram diri dalam kulit ari
Kemudian membusuk seperti erupsi gunung berapi
Kadang-kadang tersandung kerikil dan batu
Memetakan luka menganga juga membiru
Kadang-kadang terguyur hujan tersengat panas
Meninggalkan belang dan demam mengganas

Semuanya datang kemudian hilang
Seperti siklus berulang-ulang

Namun terus tegar dan sabar
Karena imam syafi'i pernah berkata:
"Jika tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka terimalah perihnya kebodohan"
Karena memang semuanya perlu proses

Ada yang memikul tulang
Melawan badai gelombang
Walau nyawa yang akan hilang
Ada yang mengejar ijasah
Menukar nominal dengan kertas
Supaya status lebih berkelas
Ada yang menambatkan diri
Mengabdi tiada henti
Meski tetap bersanding sepi
Ada yang membusungkan dada
Merasa serba mampu segalanya
Sementara yang lain dianggap kecambah muda
Ada yang merunduk seperti padi
Meskipun sudah lebat berisi

Dentang waktu berdengung lagi
Dan terus berulang kembali...

Bertahap-tahap dan berkelanjutan
Hingga kembali ke peraduan

Pesan Rindu

Benih cahaya di depan mata
Di sanalah terbitnya pelita
Muhammad bin Abdullah namanya
Pencerah untuk alam semesta

Ketika waktunya tiba:
Orang-orang berduyun-duyun merayakan hadirnya
Lantunan shalawat menggema dimana-mana
Getar asma terdengar sampai  angkasa
Jagat raya sungguh mendambanya

Desau angin bercerita:
Umat islam sedang berlomba-lomba
Menghadap Tuhan yang mahaesa

Pendulum waktu berdenyut lembut
Selembut kalimat jelma azimat

Andai kami merupa sepertimu
Sudah persiskah dengan perangaimu?
Andai kami mengklaim sama denganmu
Sudah persiskah dengan ajaran yang kau bawa?
Andai kami berpakaian seperti yang kau pakai
Sudah sesuaikah dengan tuntunan yang kau beri?
Andai kami mengaku sebagai sebenar-benarnya pengikutmu
Sudah murnikah penghambaan kami kepada TuhanMu-??

Sudah sampai di sini
Sudah pantaskah syafaatmu bersama kami?

"Halaman"

Nada sendu nyanyian rindu
Dari seruling bambu yang mengalun syahdu
Di halaman rumah tempo dulu
Tua muda pria wanita duduk bersama
Bercanda ria bertukar cerita

Sementara alam pun bernostalgia:
Kicauan burung-burung yang bertengger di ranting pohon
Bersahutan dengan Alunan bunyi dari gesekan dedaunan
Bertalu-talu laksana simfoni rindu
Di konser masyhur nan merdu

Lantaran rindu termangu di ujung rambut
Memori yang bersemayam kembali teringat
Seketika air mata mengalir pelan nan lembut
Kudekap erat waktu yang tersekat
Seakan diriku kembali sakau berat

Saat jiwaku terjerembab seketika ku teringat
Bahwa perpisahan dan perjumpaan cuma sesaat
Bahwa lupa dan ingat bergandeng erat
Bahwa paradoks adalah keniscayaan yang melekat: pun mengikat

Oh halamanku
Aku sungguh merindukanmu
Masihkah kau seperti yang dulu?

"Terasing dari Tanah Sendiri"

Ketika kubuka mata pena
Sinar surya telah beranjak dewasa
Sedang badanku masih tak berdaya
Lantaran terjebak mimpi di alam sana

Segaris cahaya menjalar dari sela jendela
Sedang diriku tengah berselimut gelap
Bersahabat dekat dengan kamar persegi yang pengap

Ketika media sosial berdering kencang
Badanku terbang melesat kencang
Jari jemari meraba ke tiap lekukan
Maka dunia maya terasa lebih nyata
Ketimbang ruang bertatap muka

Jauh di dalam sana
Sosialita tampak akrab dengan tetangganya
Entah belum atau telah dikenalnya
Entah dari lawan atau kawannya
Entah dari kaum yang sama atau berbeda

Jauh di dalam sana
Cela mencela dan tuduh menuduh jadi sarapan biasa
Paksa memaksa seperti lebih terasa
Menghukumi
Berebut benar menjadi menu utama

Jauh di dalam sana
Sebagian orang menjual asetnya:
Sebagai muara menumpuk harta
Supaya bisa ongkang-ongkang kaki di hari tua
Sebagian lagi menjual diri dan kerabatnya:
Sebagai penutup malu status keluarga
Sebagai pemuas hasrat semata
Sebagai penebus biang lapar dan dahaga
Sebagian pula berbagi budaya, berita dan cerita:
Sebagai penambah wawasan semata
Sebagai pengendali isu dan wacana
Sebagai gerbang arus budaya

Jauh di dalam sana
Yang jauh serasa dekat
Yang dekat serasa jauh
Akankah berlaku bijaksana atau malah teperdaya?

Usai menutup layar kaca
Kumelangkah pergi ke alam realita
Menghabisi hari di ruang kerja
Menelusuri waktu dengan karya
Di tengah dinamika masyarakat yang ada

Karena mutiara tidak terbentuk dengan sendirinya
Kecuali atas kehendakNya

"Akademia"

Terik hari masih menganga
Memeram diri di lapis berongga
Di antara tas dan buku yang kubawa
Di dalam pena yang penuh tinta
Di lembaran yang terukir kata-kata
Di punggung batu dan kayu yang tertera rupa dan tanda
Di pakaian dan jejak yang terbaring warna dan bahasa

Dengannya aku merangkai ilmu
Mengasah akal sebagai modal
Supaya amal jelma bekal

Saban hari memasuki kelas
Menyemai diri di ruang luas nan bebas
Di hadapan lembar papan pengantar
Di atas bangku setegar tungku
Di bawah atap peneduh acap

Dengannya aku menjelajahi semesta
Memintal karya dari serpihan cipta
Menjalin karsa dari percikan asa
Merajut daya dari pecahan kuasa

Usia tak akan bertahan lama
Namun masih ada waktu tersisa
hingga menutup usia
Sebab tanpa akal: bakal hampa
Sebab tanpa ilmu: tidak bermakna
Sebab tanpa amal: tak akan berguna

"Sepedas Cabai Rawit"

Akulah si mungil dari sebidang tanah
Yang bakal menjarah manismu ketika lengah
Melumat bibirmu hingga memerah
Walau kutahu kau tak segera pasrah

Kala kulitku serupa lumut
Kau lumat diriku sembari dihuni takut
Ha hu ha hu tak lekas buat kau terhasut
Ha hu ha hu tak kunjung buat kau bertaubat

Kala bajuku berubah merah: cerah
Kau kunyah badanku walau sedikit resah
Ha hu ha hu tak cepat buat kau pasrah
Ha hu ha hu tak langsung buat kau kalah

Namun ketika musim tak bersahabat
Kami melesat secepat kilat
Seakan tengah mengendarai roket
Padahal duduk setia di dalam angkut

Bakul-bakul bimbang keheranan
Orang-orang bingung tak karuan
Bumbu-bumbu linglung tidak sepadan
Gudang-gudang pangling kelabakan
Badan dan istana sontak kepanasan

Si mungil bergurau kelewatan

Tatkala cabai muda senang bergaya
Kami geleng kepala seperti manusia
Tradisi mana yang tengah dibawa:  penuh bangga
Padahal kami tidak berbuat apa-apa

Orang tua dirundung gelisah
Sebab khawatir anaknya salah arah
Rukun warga tampak terkekeh-kekeh
Sebab takut tetangganya sumber fitnah
Pengampu dinas bergegas pasang pasukan ke ujung galah
Sebab tak sudi daerahnya kena masalah

Si mungil jelma rambu peringatan!

Untung si mungil hanya beralih warna
Bilamana dia berubah rupa:
Tak kan dikenali seperti sebelumnya
Karena boleh jadi sekedar menutup luka
Karena mungkin sebatas mengelabui mata
Karena bisa pula terbungkus sesuatu di baliknya
Karena mungkin akan jauh lebih berbahaya

Bilamana dia berubah rasa:
Tak kan dinikmati seperti sedia kala
Sebab pedasnya tak lekat padanya
Sebab lidah telah akrab dengannya
Sebab jemari petani rela menantinya
Sebab pasar tumpah merindukannya

Hai mungil jangan nakal
apalagi bebal
Meski kau pedas
tapi kau tak cukup ganas
Seganas kami yang cepat panas

Maka diamlah di sini
Bersanding serasi dengan kami
Yang terpaku tertegun sepi
Mengharap kau kembali

"Sajak Gus Dur"

Kala hari sedang terik
Pengembara cilik bernyanyi asyik
Berarak epik bernada apik

Di tengah rimba dia berjumpa si Puna:
Hai kisanak
Hendak Kemanakah paduka beranjak?
Pakaianmu kumal tak seperti artis terkenal
Wajahmu asing bagai turis keliling
Bawaanmu sedikit seperti orang pelit
Persis nasib rakyat yang terjepit oleh harga yang melangit
Atau kau memang sengaja tidak mau terlena

Apakah kau seorang pengelana?
Sepertinya jejakmu ada dimana-mana
Namun namamu sunyi dari berita
Rupanya kau tak peduli citra
Padahal banyak yang mencarinya
Entah jiwamu seperti apa
Tapi lihat pakaianmu hanya menutup raga

Wahai tuan
Apakah kau tidak punya jawaban
Atas sekian pertanyaan yang kuhaturkan?

Kenapa kau irit bicara?
Padahal lidah bisa menjadi senjata
Padahal dengan sepatah kata, dunia bisa goyah: pun patah
Padahal dengan setumpuk cerita, belantara kepala di bawah kuasa
Padahal sekedar bersumpah mampu merubah sejarah
Padahal hanya bergirang kalimat, kita dapat bersekat-sekat: pun saling sikat
Padahal diam tak cukup membalik kelam

Bagaimana kau menjawab?
Sedang kau enggan berucap

Gus Dur membuka mulut
Lantas menimpali dengan lembut:
Gitu aja kok repot

Duh...bagaimana tidak repot?
Sementara Saudaraku semakin geliat
Mencicip bukan miliknya meski sangat tertutup rapat
Kerabatku merasa dialah segalanya
Di luar porosnya harus mengitarinya
Tetanggaku memintal berlaksa-laksa siasat
Supaya yang lain turut tersesat
Kerabatku pasrah menerka anugerah
Padahal ajal seluas sepetak tanah

Duh...bagaimana tidak repot?
Saat lapar dan dahaga meronta-ronta
Angin sebelumnya rela malah berubah tega
Saat hasrat datang menggoda
Badai ingin sekuat putaran angin
Saat ruang diukur dengan uang
Topan ganas setajam kerikil cadas
Saat sudut sempit dibuat terjepit
Udara bebas sesulit menarik nafas

Gus Dur hanya melempar senyum simpul
Kemudian membalas dengan simpel:
Gitu aja kok repot

Sepertinya kau sedang dahaga
Mungkin kau lapar jua
Nikmati sajian yang ada di sana
Jangan lupa bersyukur dan berdoa

"Duh Gus, kok repot-repot"
Lengking suaranya bergeming lembut
Namun badannya melesat cepat

Gus Dur tiba-tiba berkata:
Kalau kau sibuk, kapan kau sempat
Kau ini bagaimana atau aku yang harus bagaimana
kata gus mus dalam sajaknya

"Gadis Penunggu"

Kududuk di atas kayu tua
Menunggu hujan tak kunjung reda
Dan kau hanya sedia
Menata piring di atas meja

Ketika pendatang berhamburan
Kau bergegas menukil pertanyaan
Mau pesan apa tuan?

Senyummu menabur berlaksa kesan
Sebab racikanmu terselip pesan
Teduh wajahmu menebar tenang
Sebab jamuanmu tertudung riang

Tatkala pengelana telah berlalu
Parasmu masih tertungkup malu
Padahal kaulah pembilas pilu
Padahal kaulah pembasuh ragu

Ketika sunyi bersandar di bangku
Kau tertunduk menatap buku
Berlembar-lembar kau telusuri
Berbaris-baris kau dalami
Seakan-akan kau dan buku telah menyatu

Sementara aku hanya termangu
Melukismu melalui bait-bait sepi
Lantaran tiada sanggup menegurmu
Andai nyanyian hatiku sampai padamu

Kuingin hidup bersanding denganmu
Hanya bersamamu
Hingga ajal memelukku

"Isyarat Malam"

Di bawah lampu temaram
Khayalanku mengeram
Terbayang parasmu yang rupawan
Anganku terbang melintasi awan:

Kau bagaikan isyarat kondang
Di panggung sunyi yang kugoyang
Di atas sana kau terekam
Oleh selaksa mata yang memandang

Ketika mata elang menikam tajam
Kau mengelak mengibas senyuman
Bagai sayembara di atas gelanggang

Suara melayang-layang di relung malam
Desau angin terkesiap kencang
Daun-daun pun gugur beterbangan

Segera kurangkul dirimu ke balik layar
Lantas melesat serupa kelelawar
Berbalik arah menjauhi relung sunyi
Karena dawai pagi membangunkan mentari

Seketika jejak embun tersipu malu
Memandang apus kecupku pada wajahmu
Lantaran nyanyian alam yang bertalu-talu
Menegur risauku tuk lekas berlalu

Sekarang bangunlah dari tidur panjangmu
Kemudian jernihkan jiwamu
Dan beningkan sukmamu
Jangan terlena dengan panggung malam itu
Jangan terbuai oleh ombak yang menderu

Masa depan telah menunggu
Hingga waktu berada di belakangmu