Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Warta Alam"

Air
Api
Angin
Tebing
Gelombang, dan
Gejala alam tak selalu terkendali
Bergerak dengan bahasanya sendiri
Mencari keseimbangan diri

"Suatu Malam.."

Bagaimana mungkin
Mengutuk malam yang diam-diam
Merapikan kenangan
Pada kantung-kantung ingatan

Bagaimana mungkin
Menghujat malam yang diam-diam
Membasuh keletihan
Pada tikar keterlelapan

Iya, bagaimana mungkin
Mengumpat malam yang diam-diam
Menata kekhusukan
Pada alas penghambaan

Dan, bagaimana mungkin
Menghina malam yang diam-diam
Mengatur kesungguhan
Para penghuni dan pegiat malam

Suatu malam
Dalam diam
Sebelum terbenam

"Konser Hujan"

Rintik hujan mengetuk atap
Melantunkan bait-bait hangat
Bagai orkestra bunyi
Pada panggung harmoni

Rintik hujan itu
Terjatuh lalu Berlabuh
dari hulu ke hilir
Menghantarkan pesan tersembunyi
Ketika kita asyik menikmati
Meresapi dengan segenap hati

"Hujan dan Rindu"

Hujan menimang rindu
Rindu meminang waktu
Keduanya menyatu
Menjadi kamu

Itulah yang kutahu

"Ritual Kopi"

Kopi tak peduli pada tamu yang menghampiri
Entah sekedar dinikmati
Dihindari maupun dijiwai
Sebab Ia telah merelakan diri
Dalam sebuah meditasi

Ia tak pernah mencaci maki
Menikam sesuka hati
Apalagi memuja diri
Sebab sunyi dan mencecapi adalah ritual suci
Yang tak pantas 'tuk dikotori

Tapi kopi sadar diri
Betapa segala bisa terjadi
Di kemudian hari


"Ah, Ternyata"

Ternyata
Rembulan punya sisi gelap
Yang berlindung
Di balik gemilang cahaya

Dan ternyata
Awan berwajah muram
Menimang kesuburan
Dalam rahim hujan

Ah, ternyata
Sisi mengemban isi
Isi mendekap sisi
Ah, ternyata
Keduanya laksana teka-teki

"Romantika Pekat"

Tempelkan bibirmu
   Pada bibirku
Kemudian
Tinggalkan jejakku
   Pada hatimu
Agar kau tahu
Betapa dalamnya diriku

Rekatkan hasratmu
   Pada pahitku
Kemudian
Derapkan tekadmu
   Pada pekatku
Agar kau mengerti
Betapa indahnya menjadi murni

Romantika pekat
Terlarut
Dalam hakikat

"Museum Tua"

Museum tua
Di sudut desa
Membeku
Menanti dikubur waktu

"Mengejar Angka"

Dunia terbagi ke dalam angka

Angka-angka menjadi rebutan
Merasuki kehidupan sang aktor utama: manusia
Angka telah berkuasa
Berhasil meracuni aktor utama
Dengan berbagai cara

Angka mengatur apa saja
Bahkan mengukur siapa saja

Dari yang terdalam hingga terluar
   Tak lepas dari persoalan angka
Dari yang tampak hingga yang metafisik
   Tak terabaikan oleh angka
Dari yang terdekat hingga terjauh
   Tak bebas dari kacamata angka

Angka-angka telah berkuasa

Lalu bercampur debu waktu
Menempel tanpa ragu
Tak peduli belia maupun tua
Tak peduli pria maupun wanita
Semua dilumuri dengan angka

Sampai detik ini juga
   Angka telah bernada
   Angka telah memangsa
Melenyapkan yang terlena


Amri dan Shollina, 2017

"Beranda Kita"

Di balik tenangnya kopi
Tertulis kisah terperi
   Tentang rasa yang dijaga
   Tentang janji yang dibina
   Tentang makna yang ditata
   Tentang citra yang diungkap indera
Hingga terbaring di dasar rasa

Akhirnya kita menjauhi beranda
Dengan warna yang terlukis di dada
Dan corak yang terpola di kepala
Entah bagaimana selanjutnya

Ingatlah! kawan
Beranda ini jadi saksi
Akan semua yang terjadi

"Gus Dur dan Seorang Pengembara"

Kala hari sedang terik
Seorang pengembara bernyanyi asyik
Berarak epik bernada apik

Di tengah rimba dia berjumpa gus dur:
Hai kisanak!
Hendak ke manakah paduka beranjak?
Pakaianmu kumal tak seperti artis terkenal
Wajahmu asing bagai turis keliling
Bawaanmu sedikit seperti orang pelit
Persis nasib rakyat yang terjepit
Oleh harga yang melangit
Atau
kau memang sengaja
tidak mau terlena

Apakah kau seorang pengelana?
Sepertinya jejakmu ada di mana-mana
Namun namamu sunyi dari berita
Rupanya kau tak peduli citra
Padahal banyak yang mencarinya
Entah jiwamu seperti apa
Tapi lihat pakaianmu cukup menutup raga

Wahai tuan
Apakah kau tidak punya jawaban
Atas sekian pertanyaan yang kuhaturkan?

Kenapa kau irit bicara?
Padahal lidah bisa menjadi senjata
Padahal dengan sepatah kata, dunia bisa goyah: pun patah
Padahal dengan setumpuk cerita   belantara kepala di bawah kuasa
Padahal sekedar bersumpah
mampu merubah sejarah
Padahal hanya bergirang kalimat
kita dapat bersekat-sekat: pun saling sikat
Padahal diam tak cukup heroik
Membalik kelam jadi lebih baik

Bagaimana kau menjawab?
Sedang kau enggan berucap
Jangan-jangan kau takut dibekap
Jangan-jangan kau....

Gus Dur membuka mulut
Lantas menimpali dengan lembut:
Gitu aja kok repot

Duh... bagaimana tidak repot?
Sementara Saudaraku semakin geliat
Mencicip yang bukan miliknya
meski tertutup sangat rapat
Kerabatku merasa dialah segalanya
Di luar porosnya harus mengitarinya
Tetanggaku memintal berlaksa-laksa siasat
Supaya yang lain turut tersesat
Kerabatku pasrah menerka anugerah
Padahal ajal seluas sepetak tanah

Duh... bagaimana tidak repot?
Saat lapar dan dahaga meronta-ronta
Angin sebelumnya rela malah berubah tega
Saat hasrat datang menggoda
Badai ingin sekuat putaran angin
Saat ruang diukur dengan uang
Topan ganas setajam kerikil cadas
Saat sudut sempit dibuat terjepit
Udara bebas sesulit menarik napas

Gus dur hanya melempar senyum simpul
Kemudian membalas dengan simpel:
Gitu aja kok repot

Sepertinya kau sedang dahaga
Mungkin kau lapar juga
Nikmati sajian yang ada di sana
Jangan lupa bersyukur dan berdoa

"Duh Gus, kok repot-repot"
Lengking suaranya bergeming lembut
Namun badannya melesat cepat

Gus dur tiba-tiba berkata:
"Kalau kau sibuk, kapan kau sempat
Kau ini bagaimana atau aku yang harus bagaimana"
Dawuh gus mus dalam sajaknya

Diam-diam gus dur tersenyum
Dengan wajah bercahaya