Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Poster Wajahmu"

Selintas pandang di seberang jalan
wajahmu masih terpasang.
Memancar sinar, mengundang.
Entah, sampai kapan mampu bertahan
menghuni papan tambatan
dalam kesendirian.

Menjelang tanggal;
aneka momentum bertandang
bayang panjang seliweran menjuru sarang
memburu bidak-bidak tunggal
agar geming tak kenal kata tertinggal.

Burung-burung berdendang.
Butir embun bergegas pulang
mengemas malam dalam kardus siang.
Hangatnya terngiang-ngiang.
Menyusup pori-pori, menyusun belulang.

Tanggal telah tanggal
gugur ke dalam pangkuan.
Wajahmu yang tipis ditarik-turunkan, oleh tangan kanan yang sedari awal memasang badan.
Tapi kemudian dijadikan lesehan pada sebuah ritual.

Sementara nun di seberang
kerlap-kerlip gelas perayaan bergoyang-goyang.
Tumpah-ruah menyesakkan jalan
hanya menyisakan istana keranjingan
dan aroma kerancuan.

Poster wajahmu memudar
bagaikan pupur yang luntur
karena mukamu hendak muncul
walau pernah sebeku kubangan lumpur

Poster yang lalu terharu-biru
Ketika terpasang lagi poster baru

"Yaaah, padahal tak lucu, cukup lah hanya aku..."

"Nisan Angka"

"Jangan pernah ragukan kami", tegas Angka di hadapan jutaan kepala.
Yang bergeming seperti sebuah arca.

Setelah kalimat terakhir ini,
angka-angka berlaku sebagai candu.
Memasuki jaringan tepi dan sum-sum mimpi.
Merasuki apa pun yang ia mau.

Angka telah berkuasa.
Hingga meracuni siapa saja
dengan sembarang cara.

Angka mengatur apa saja
bahkan mengukur siapa saja.
Dari yang terdalam hingga terluar.
Dari yang kasat mata hingga titik buta.
Dari yang dekat hingga jauh amat.

Angka-angka telah berkuasa.

Ia bercampur debu waktu.
Menempel tanpa ragu.
   Tak peduli belia maupun tua.
   Tak peduli pria maupun wanita.
Semua dilumuri dengan aromanya.

Sampai detik ini juga;
   Angka telah bernada.
   Angka telah memangsa.
Melenyapkan yang terlena.

"Kita lah Angka, sebelum ada yang lainnya"
"Andai saja ....."
lirih suara Angka ketika ajal menjemputnya.

"Tali Baru"

Tali di lingkar kepalamu
Terpaku bagaikan sebuah tugu
Yang termangu merapal waktu
Menunggu kafilah datang bertamu

Ia terikat
Begitu erat
Tapi tak menjerat

Puncaknya menyundul awan
Hingga menggundul langit berkabut
Lingkarnya mengitari titik rawan
Membentuk tarian ritmis paling lembut

Ia mengikat
Begitu hangat
Tapi tak menyengat

Sebelum petang tiba
     Ikat itu masih baru
Seperti sedia kala
     Entah bagaimana dengan kau

Sebelum pagi pergi
     Ikat itu tetap di situ
Seperti pertama kali
     Entah bagaimana dengan kau

"Surat dari Buku"

Salamku kepadamu.

Bagimu yang berbuku-buku
Bagimu yang mengeram sumbu
Bagimu yang memeram tabu
Bagimu yang mendekam kaku

Untukmu yang berpacu melepas beku
Untukmu yang sedang melawan bisu

Kepadamu yang menjadi dirimu
Kepadamu yang hanya untukmu

Hormatku kepadamu,
sebelum diriku, satu persatu
kembali bersatu
Menutup buku

Semoga engkau
tak seperti aku.

"Rumus Fi"

Bayangku berkubang
tergenang kenangan.
Padahal segenap badan
telah tumbuh dan berkembang.
Merayakan hari depan.

*

Tubuhku pongah
terpasung dinding berbayang-bayang.
Padahal seluruh jiwa
telah tegak berdiri dan kerap berlari.
Demi menghidupkan mimpi dan mengakarkan diri.

*

Namaku memiliki jantung.
Tergantung dari lakon ke lakon.
Bergelantungan dari titik ke titik, dari satu ufuk ke ufuk lain.
Padahal sepenuh hati
telah berjuang bagaimana semestinya.
Supaya menjadi seutuhnya.

*

Rumus Fi mencipta jalinan
bersilang dan bersalin
saling menentukan
saling menghidupkan.