Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

Tumpukan Terakhir

Hidup di atas kasur plastik sisa pesta keluarga mapan adalah hal biasa bagiku. Hidup sebatang kara di tengah rerimbun sampah sudah bukan hal yang asing bagi diriku. Aku yang telah terbiasa mengais botol, kertas dan remah-remah yang menumpuk di belakang rumah plat merah itu untuk menukarkannya dengan sebotol air dan sebungkus nasi. Selebihnya saya peroleh dengan mengambil bekas makan orang-orang yang ditinggalkan di atas meja kedai pojok. 

Menjelang fajar, saya berangkat hanya bermodalkan goni sebagai wadah penampung harapan yang tercecer. Sebatang kayu untuk mmbolak-balikkan tumpukan yang menggunung. Botol plasik, botol kaca dan gelas plastik saya pilih yang belum terkoyak lalu kuendapkapkn pada dasar goni. Di baqah terik mentari yang menyengat keringatku bercucuran menetes pelahan bercampur nyanyian perut yang memekik keheningan.

Saya bukan satu-satunya anak yang mengorek tumpukan itu. Jumlah kami memang tak sebanyak gunung yang ditimbun orang-orang kota setiap pagi dan sore hari. Mulai dari anak kecil sampai tua renta baik pria maupun wanita mengendap melebur sampai tak bisa dikenali. Walau baunya menusuk hidung menghujam saraf tapi tidak ada yang bernjak menjauhi tempat iru kecuali goni mereka sudah penuh. Begitu terus dari hari ke hari.


bersambung....

"Dunia Mimpi"

Ketika terbangun
Sebagian hidupku tersingkir
Oleh dekapan mimpi
Yang tertinggal di balik bantal

Padahal Ingin kuulangi
Bagian per bagian yang kukehendaki
Namun memori bagai terkunci
Menolak untuk kembali

Entah,
   Memoriku yang tak kuasa
   Mengangkat tanda-tanda
Ataukah,
   Ingatanku memang sengaja
   Menyimpan milyaran bahasa

Ketika aku kembali
   Duniaku telah lari
   Mimpiku telah rapi
Dibungkus sunyi

"Menghadap Kopi"

Bila kopinya datang
Jangan lupa haturkan kalam
Agar pahitnya tenang
Memelukmu dari dalam

Ketika kopinya tandas
Sebelum bergegas
Jangan lupa haturkan pesan
Sebentuk pujian
Kepada pemilik kenikmatan

Sampai jumpa lagi...

"Terbawa Mimpi"

Baru kusadari
Setelah sekian kali mentari menepi
Hati ini masih sepi
Lenyap terbawa mimpi

"Segera"

Asal kau tahu
Awan di langit dadaku bergemuruh
Berkilat petir, menyambar
Ujung mahkotamu yang ragu
Akan kedatanganku

Bergegaslah buka jendelamu
Sebelum semuanya berlalu