Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Maaf! Jangan ganggu, sedang ada sidang"

Akhir-akhir ini media cukup fokus dengan drama sidang pembunuhan dengan racun sianida. Sidang tersebut akhirnya sampai juga di babak akhir, vonis. Sidang yang panjang dan melelahkan bagi keluarga korban, tersangka, jaksa dan hakim. Juga bagi penonton yang berada di luar sana. Seakan-akan sidang ini berkata, "Maaf! Jangan ganggu, sedang ada sidang".

Sidang tersebut menjadi menu utama yang menyembunyikan persoalan yang lain. Padahal di luar sana banyak kasus yang boleh jadi lebih menarik, menegangkan, menyenangkan bahkan memperihatinkan yang layak disiarkan. Namun yang pantas menurut kita, belum tentu layak menurut media.

Melihat sidang tersebut mngingatkan penulis pada salah satu komik jepang karya Gosho Aoyama, detectif conan. Di beberapa episode, ada kasus pembunuhan yang menggunakan racun seperti pada kasus jesica-mirna. Di adegannya pertemanan mereka tampak biasa-biasa saja. Namun di tengah pesta jamuan makan, salah satu dari mereka tersungkur setelah mengkonsumsi hidangan di atas meja tersebut. Seketika yang ada di sana berakting sebaik mungkin agar tidak dituduh sebagai pelakunya.

Dalam adegan tersebut teman-temannya ada yang segera menyentuh korban, yang lain nelepon polisi, yang lain masih berdiri di sekitar korban. Untuk menghindari kontak langsung dengan korban, teman-temannya diinterogasi di ruangan yang berbeda. Tidak ketinggalan conan sebagai tokoh utama, selalu mendengarkan informasi proses penyelidikan dan pencarian bukti. Bahkan conan mencari titik celah yang bisa menjadi bukti utama dan penentu.

Conan memang anak nakal yang suka berkeliaran mencari kebenaran. Pikirannya kian tajam ketika membelah bias deduksi dan area samar yang ditinggalkan pelaku. Apa yang dilakukan tak ubahnya untuk segera menuntaskan perkara yang telah terjadi. Tanpa membiarkannya mengambang dan dicampuri tangan-tangan yang berpihak pada kesalahan. Misalnya penghilangan bukti utama dan saksi kunci.

Melihat kemiripan yang terjadi pada kasus jesica dan serial conan. Penulis memandang bahwa ada bagian yang sengaja ditutupi dengan baik oleh pelaku yakni bukti utama seperti sedotan, CCTV, gelas, tisue, wadah, celana dan karyawan. Sedangkan bukti yang lain dan keterangan saksi ahli yang profesional merupakan tambahan semata. Misalnya profil personal, hubungan antar pribadi, rutinitas serta komunikasi yang terjalin antara keluarga dan teman dekatnya. Hal ini bisa dilakukan dengan mendata faktor seperti manusia, waktu, tempat, peristiwa, komunikasi dan konflik.

Kasus pembunuhan dengan menggunakan racun, bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, Munir juga dibunuh dengan racun arsenic ketika berada di dalam pesawat, dosisnya pun bisa dibilang tepat dan terencana dengan matang. Entah, karena banyak yang benci atau takut padanya.

Namun sampai sekarang kasus tersebut belum usai. Kalau dibuat drama persidangan seperti pada kasus jesica-mirna, mungkin sidangnya sudah ratusan atau bahkan ribuan kali. Kalau ada conan di dunia nyata mungkin sudah bisa dipecahkan kasus pembunuhan seperti ini. Lantas harus menunggu tokoh fiktif untuk memecahkan misteri ini, itu tidak mungkin. Karena ini bukan kasus fiktif namun kejadian nyata yang difiksikan oleh pihak tertentu.

Di sisi lain, penulis juga membayangkan adanya keterlibatan organisasi hitam (baca: mafia kasus dan mafia fakta) yang sengaja membuat kita semua bingung dan jenuh. Kalau dilihat sekilas bahwa kedua pembunuhan tersebut diawali oleh unsur kedekatan, kebencian, ketakutan dan kesempatan. Bisa jadi hal tersebut yang melatar belakangi niat untuk melakukan pembunuhan.

Saat mengerjakan tulisan ini pun, asumsi di ruang publik kian bermunculan. Di antaranya: apakah jesica benar-benar bersalah? Bisa jadi orang lain yang melakukannya? Kalau iya, Atas inisiatifnya sendiri atau disuruh orang lain? apakah alasan utamanya hanya karena pernah sakit hati, benci, atau alasan besar lain? Informasi apakah yang belum publik ketahui dari keduanya? apakah ini hanya pembunuhan biasa atau pembunuhan luar biasa? Dan lain-lain.

Namun semua ini hanya bisa dijawab oleh pihak yang berwenang melalui pengadilan dan kejujuran. Kasus Jesica-mirna berakhir di meja hijau dengan vonis 20 Tahun penjara. Tentunya vonis ini mengundang respon positif dan negatif baik dari simpatisan kedua belah pihak, pengacara, pengamat dan masyarakat luas. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan drama tersebut.

Drama racun ini bukan lagi menjadi racun bagi kedua belah pihak, tetapi juga meracuni pikiran khalayak ramai dengan asumsi yang beragam dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. Rasa simpatik kita juga akan terus berada dalam kebimbangan dan ketidak percayaan. Pada akhirnya drama ini akan semakin berkembang dan rumit jika tidak segera disudahi. Semoga saja racun ini tidak merasuk ke hati nurani kita, sebagai senjata yang memusnahkan. Meski demikian, kasus ini bisa membawa pelajaran dan perbaikan di kemudian hari. Semoga saja.

"Sepenggal Surat untuk Status"

Hei kau
Yang cinta tuna bukan tuna cinta
Lambaikan tanganmu
Angkat wajahmu
Busungkan dadamu
Buang keraguan yang kau cumbu
Tunjukkan pada mereka
Bahwa kau mampu
Tak terpedaya candu-candu

Hei kau
Yang buta asmara bukan asmara membabi buta
Lepaskan tanganmu
Bukalah matamu
Kepakkan sayapmu
Terbanglah semampumu
Lepaskan belenggu-belenggu di sekitarmu
Buktikan pada dunia
Bahwa kau kuat
Tak terjerat hasrat semu yang memikat

Hei kau
Yang buta aksara bukan aksara buta
Pakailah akal pikiranmu
Tajamkan inderamu
Luaskan wawasanmu
Lunakkan rasamu
Kuatkan mentalmu
Besarkan jiwamu
Beritakan kepada mereka
bahwa kau masih bisa
Tak berhenti sampai di sini

Hei kau
Yang buta karya bukan karya buta yang membutakan semua
Gunakan ilmumu
Cerminkan nuranimu
Bentangkan imajinasimu
Luweskan kreasimu
Kerahkan segenap energimu
Perlihatkan kepada mereka
Bahwa kau masih sedia
Tak berakhir di nafas terakhir

Untuk yang ada di sana
Ku kirimkan Sepenggal surat yang telah terpenggal
Di antara ruang yang tak kan pernah kekal

Meski kau tidak punya status
Arungilah semesta
Kemudian ajarkan kepada mereka
Tentang yang ada dan tiada
Dan Tentang semua

"Sebatang Tubuh"

Wahai batang tubuh yang menjelma di tengah kesendirian
Kirimkan bait-bait tepi kepada sang kesunyian
Sunyi senyapmu yang hilang dari bayang keramaian
Mengusik malam yang menghitam
Menampar gelombang yang datang menghadang

Walau hanyalah tubuh yang sepi
Namun hadirmu adalah api
Yang mengobarkan darah juang berapi-api
Tiadamu adalah histori
Yang terukir di memori
Gerakmu adalah teknologi
prototype perubah mimpi-mimpi
Menjadi sesuatu yang berarti

"Tombol Move on Sulit Ditekan"

Tepat hari ini, 25 Oktober, peristiwa itu menimpa keluarga kami. Sehari sebelumnya suasana mencekam karena ada yang mati dikeroyok. Menurut penuturan mas buntil, yang jualan nasi goreng depan toko sebelah TKP, "Ada Orang dikeroyok, tapi kurang tahu siapa, dia mati seketika, mungkin dia melakukan suatu kesalahan". Tetapi menurut saksi yang lain berbeda. Menurut pak Siong yang pakai kaca mata, "Orangnya tidak bersalah, memang dia punya ikatan darah dengan tokoh yang dianggap 'kiri' itu. Sedangkan dia baru sampai tiga hari yang lalu dari tanah rantau, kuliah". Beliau melanjutkan, "coba lihat pakainnya, beda kan!". Itulah sepenggal cerita yang termuat di koran desa.

Kami pun ikut ketakutan jika sewaktu-waktu orang yang masih masih punya dendam itu ke sini. Identitasnya mereka tidak jelas. Tidak ada bekas yang tersisa alias kelas kakap. Semua akses masuk ke rumah kami tutup baik gerbang utama, pintu depan dan jendela. Bahkan ventilasi juga tertutup meski tidak rapat.

Malam itu, kami sekeluarga kumpul di ruang tengah sambil nonton tv. Adik yang awalnya nonton kartun disuruh pindahkan ke chanel yang lain oleh ibu, syukur kalau berita kejadian itu ditayangkan. Karena penasaran ibu, citra dan kiyek berbincang-bincang sedang yang lain fokus megang Hp. Berikut obrolannya:

Citra: ibu kok takut sih, padahal kan orang yang jadi dalangnya itu sudah berlari jauh, entah kemana
Ibu: iya takut nak, kalau terjadi apa-apa dengan kita bagaimana, hayo!
Citra: iya bu, tadi kan sudah ditutup semua. Untung-untung masih di sisakan lubang angin buat nafas
Ibu: iya sih, yang penting sudah sedikit aman
Kiyek: lagian yang buat ibu ketakutan kan bukan orang itu, tapi kekhawatiran ibu saja yang berlebihan
(Tiba-tiba bapak angkat bicara)
Bapak: bagaimana nasib keluarganya yang lain ya?
Citra: iya pak, kasihan mereka padahal pada saat peristiwa masa lalu itu, keluarganya tidak ikutan
Ibu: semoga nasibnya baik-baik saja, tidak seperti orang yang kemarin
Bapak: keberadaan mereka pun antah berantah, ada yang mengganti identitasnya, ada yang pergi ke tanah seberang, ada yang sengaja diam, ada yang masih di negeri ini, tapi entah dimana kita tidak tahu.
Adik: kak, ambilin minum dong, haus nih, yang di kulkas ya
Citra: iya sebentar dek
Bapak: padahal orang yang bersalah masih belum diadili sampai detik ini dan kasusnya masih dibiarkan mengambang. Keluarga korban juga masih trauma.
Kiyek: seharusnya kan harus dihukum pak, keluarga korban harus diberi kepastian dan jaminan keamanan, kebebasan dan kesejahateraan seperti yang lainnya.
Adik: Bu, dipindah ya, tv-nya ramai bu
Ibu: biarin dulu dek, ibu masih nunggu beritanya
Adik: iya dah adik di kamar saja (wajah kesel)
Bapak: Baca bukunya sebentar dek, jangan lupa berdoa sebelum tidur
(Tanpa menjawab anak itu beranjak ke kamarnya, dia buka bukunya sambil berkata, "Ibu kok senang liat keributan di tv itu, padahal kartunnya lagi seru")
Kiyek: Dia kok dikeroyok seperti itu Pak, apakah dia benar-benar terlibat peristiwa yang dulu itu?
Bapak: dia kan baru anak kemarin, umurnya masih muda, masak bisa terlibat. Atas dasar apa dia dipersalahkan, tidak ada kan!
Kiyek: bisa jadi dia keturunan yang terlibat itu pak
Bapak: masak mau menghakimi orang yang tidak tahu apa-apa, kan lucu
Citra: terus kita sebagai generasi sekarang harus bagaimana pak?
Bapak: kita harus berani meluruskan sejarah, menjelaskan dengan cara yang baik, jujur dan tepat, memaafkan, mengadili yanh bersalah, bersikap adil, memperbaiki diri sendiri, mengembalikan hak korban, jangan sampai mengulangi hal yang sama untuk kemudian hari, menjadikan masa lalu sebagai pelajaran serta mempersiapkan masa depan
Kiyek: tapi sampai kapan pak?
Bapak: sampai kita semua berani melakukannya untuk diri kita, orang lain dan negeri ini
Ibu: ibu khawatir kalau suatu saat itu terjadi lagi, kayak yang barusan diberitakan itu, banyak yang arogan
Citra: sudahlah bu, ibu khawatirnya kayak orang phobia saja
Kiyek: kalau masih ada yang merasa paling benar, sentimen dan fanatik, bakal terjadi lagi bu. Ya semoga saja tidak bu.
Ibu: ya sudah, ibu masak dulu
Citra: ayo bu, saya bantu biar lebih cepat
(Perut bapak tiba-tiba bernyanyi seperti suara perlawanan melawan penindasan dan ketidakadilan)
Kiyek: iya bu, lapar banget seolah-olah mengangkat beban berat yang dipikul korban dan negeri ini

Waktu berjalan tanpa henti, hanya jarum jam di dinding yang tetap pada posisinya, karena kehabisan energi. Seketika suasana hening tanpa suara, yang ada hanya suara angin yang menabrak genteng, air akuarium yan berputar tiada henti dan televisi yang masih suka bicara sendiri.

Beberapa menit kemudian peristiwa semalam disiarkan di tivi lokal. Bapak dan kiyek segera mengalihkan perhatiannya ke tivi. Keduanya seperti patung besar yang tidak bergerak meski angin menyentuhnya. Telinga dan mata mereka fokus dengan apa yang diberitakan.

Ibu dan citra menghidangkan makan malam bagai lomba lari marathon. Karena tidak mau ketinggalan, seperti menu wajib yang tidak boleh terlewatkan. Walaupun semuanya sudah siap menyantap sajian yang telah dimasak, namun mereka masih diam seribu bahasa. Media tivi mengarahkan dan mengalahkan lapar mereka.

Ketika berita usai, Kiyek tiba-tiba mengatakan, "Beritanya kok berat sebelah ya? Barusan saya media lain, faktanya tidak seperti itu". Sembari menaruh nasi dari bakul ke piringnya, dia masih berujar, "masak beda media, beda faktanya". Bapak menimbali perkataan anaknya, "makan dulu, Nak, nanti selesai makan bisa dilanjutkan". Dia pun menanggapi hanya dengan anggukan kepala seperlunya.

Setelah makan, semuanya berkumpul kembali di depan tivi. Kali ini mereka seperti sibuk sendiri: ibu merapikan pakaian, citra mengerjakan tugas kuliah, bapak memasang lukisan di dinding, adik tidur pulas dan kiyek baca buku. Suasana ini terjadi hampir setiap malam sampai mereka undur diri satu persatu.

Kiyek yang sibuk bercengkrama dengan bukunya berhenti di sebuah halaman. Wajahnya seperti keheranan sambil membandingkan dengan 5 buku yang isinya tentang peristiwa yang sama, namun fakta dan data yang disampaikan berbeda. Awalnya dia berpikir kejanggalan ini didasari sudut pandang yang berbeda. Namun ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Keesokan harinya, kakak tersebut bergegas untuk mencari referensi tambahan ke perpustakaan. Di sana dia menemukan 5 buah buku yang dikarang oleh orang yang pernah bersinggungan dan terlibat dalam peristiwa tersebut. Wajahnya sumringah kegirangan bagai menerima hadiah nobel disiplin ilmu tertentu. Sedangkan yang lain masih bersiap-siap untuk berangkat ketika wajahnya seperti itu.

Dia duduk di kursi pojok yang telah tersedia bagi pembaca. Kemudian dia mengeluarkan pena berwarna dari tasnya untuk menandai bagian yang penting baginya. Cara bacanya sedikit berbeda tidak seperti kemarin malam. Pada bagian tertentu dia membaca pelan, cermat dan hati-hati seolah berjalan di atas jembatan gantung di atas sungai sebelah desanya, yang dilalui oleh pelajar waktu ke sekolah. Karena memang hanya jembatan itu akses terdekat bagi mereka, meskipun kondisinya memperihatinkan.

Setelah memperoleh catatan uang diharapkan, dia kemudian pulang membawa beberapa buku dan jurnal tambahan untuk meyakinkan dirinya tentang peristiwa kelam masa lalu. Sesampainya di rumah mereka kembali berkumpul seperti biasa.

Malam ini seperti tidak ada yang beda, meski kejadian kemarin belum usai jadi perbincangan warga. Sebagian warga menyesalkan pengroyokan itu, yang lain masih ada yang bertanya-tanya, ada yang tidak peduli karena bukan sanak familinya dan ada juga yang berjuang melaporkan ke pihak yang berwenang. Pihak yang berusaha mencari keadilan tentunya dari keluarga yang bersangkutan dan yang merasa prihatin.

Hingga larut malam, orang-orang masih sibuk diskusikan peristiwa naas itu. Mereka larut bersama malam yang tampak lengang. Suaranya tambah lantang saat jumlahnya semakin banyak. Persis seperti kerumunan orang di pasar yang menjajakan barang dagangannya. Mereka tanpa sadar membuka ruang cerita hingga menyebar ke mana-mana.

Tetapi kakak itu tidak peduli kepada mereka, seolah seorang arkeolog yang mendapati tumpukan tanah menjadi data sejarah. Dia terus berkutat dengan lembaran yang bacanya. Terkadang wajahnya sedih kala membayangkan nasib korban yang mengalami tekanan dan kekerasan. Wajahnya tampak geram ketika memikirkan dalang dan orang yang sebenarnya bersalah, namun masih berkeliaran dan menggerogoti dari dalam. Pernah suatu waktu, wajahnya penuh harap dengan penyelesaian peristiwa itu dan gambaran di masa depan yang lebih baik.

Peristiwa itu telah berlalu namun masih terasa. Ketika hari ini tiba, banyak orang yang mengenangnya dengan tabur bunga, aksi turun jalan, nyalakan lilin, forum diskusi atau kajian, pendampingan terhadap korban, rekonsiliasi, pencarian fakta, dan lain-lain. Namun semuanya kembali kepada diri masing-masing. Apakah akan terus membiarkan tombol 'move on' yang ada hilang begitu saja atau sulit untuk ditekan? Ataukah berani dan rela menyelesaikannya untuk kebaikan masa depan? Kita tunggu saja akhir ceritanya.


"Bermimpi Punya Gelar"

Malam terasa semakin dingin saat menjamu teman dengan secangkir kafein. Angin berhembus seperti seorang ibu menimang anaknya. Hingga akhirnya terlelap dan bermimpi banyak hal. Di dalam taman mimpi yang beragam rupa dan warna itu, wajahnya pun ikut berubah-ubah, ada salah satu adegan yang sepertinya menarik karena wajahnya tersenyum manja, yakni ketika bertahta di atas kursi goyang yang bernama gelar.

Gelar tersebut terdiri dari gelar fisik, gelar intelektual (studi), gelar kerja, gelar usaha, gelar karya, gelar tokoh, dan banyak lagi. Gelar ini menempel pada nama, pakaian, benda dan diri setiap orang. Sehingga menjadi pengenal, pembeda, penegas bahkan penentu status (strata) atau nasib orang tersebut.

Sebagian contoh yang bisa penulis sebutkan, misalnya gelar sarjana S1 sains ditempeli S.Si (S.Sc) di belakang namanya, gelar pahlawan bagi tokoh yang berjasa atau ditokohkan oleh sekelompok orang (baca : negara) di wilayah tertentu disematkan pada orangnya, yang berbadan gemuk diberi sebutan 'gentong' dan sebagainya. Dalam memperoleh gelar tersebut bisa langsung (tanpa usaha) dan ada yang membutuhkan kerja keras, kreatifitas, kesabaran dan proses yang lama.

Kadangkala gelar yang telah disematkan kepada seseorang akan merubah atau mempengaruhi orang tersebut. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang merasa menjadi beban, ada yang semakin giat berusaha, ada yang merasa berkewajiban seperti gelar yang didapatkan, ada santai dan tidak peduli, ada yang kian rendah hati, ada yang bangga luar biasa dan ada juga orang yang enggan diberi gelar.

Ketika penulis memiliki sederetan gelar di depan dan di belakang namanya, maka saat itu terjadi dua hal yaitu bangga tiada tara atau semakin rendah hati. Kala bangga yang menjadi-jadi, dunia seperti milik sendiri sedang yang lain sekedar numpang, hilangnya kontrol diri dan puncaknya lupa diri.  Namun saat rendah hati yang disemai, maka rasa syukur akan bertambah, tidak takabbur dan angkuh. Kita tinggal memilih terlena oleh rasa bangga atau rela menerima dengan penuh kerendahan hati.

Tiba-tiba suara ibu itu terdengar lirih, "Nak, bangun, hujan sebentar lagi turun, awan mulai mendung". Anak itu menyahut, "Sebentar, masih ngantuk bu". Ibu itu hanya tersenyum melihat anaknya yang sedang terbaring di pangkuannya. Hati ibunya tenang seolah urusan dapur rumah tangganya menghilang.

Waktu kian berlalu, tidurnya pun semakin pulas seperti sedang dihipnotis. Ibunya tertidur juga dengan bersandar pada tembok di belakangnya. Agar Anak ini tidak terbangun. Anak polos ini merangkai kembali mimpi-minpi yang tadi telah dilalui menjadi satu sesi. Berikut rangkaian ceritanya:

Wulan: Cit, kamu enak ya punya gelar banyak, dari A sampai Z
Citra: nggak enak Lan, dianggap bisa semua sama orang-orang
Boneng: iya Cit, kan bisa ngibulin orang pakai gelar itu, heheheh
Holler: ah elu neng bisanya ngomong doang
Bokar: lho gelar itu apa sih? (Muka bingung sambil garuk-garuk kepala)
Bojek: ah kalian belum tahu sih, kakakku gelarnya lebih banyak daripada Citra, berjejer pulau-pulau...hahaahah
Holler: kayak latihan baris berbaris saja (nada ketus)
Bokar: gelar itu seperti gadis ya, dari tadi kalian rebutkan terus
Bokar: pasti bohay ya, mulus seperti gitar spanyol
(Mereka serentak terdiam kala pak satpam dan ketua RT patroli, sembari menyeruput kopi dan menyantap gorenganb di piring batik)
Pak Bejo (pak RT): permisi
Semua: silahkan, hati-hati Pak
Bokar: Pak numpang tanya, gelar itu apa sih? (Wajah bingung)
Bojek: ah elu kampungan banget
Pak RT: begini lo, gelar itu capaian atau sandangan yang kita peroleh sendiri atau diberikan orang lain, macamnya juga banyak...
Pak RT: saya pamit dulu ya, mau patroli dulu, selamat malam
(Keduanya beranjak menjauhi mereka sambil timbal balik nyebut masalah warganya satu persatu)
Holler: tuh kan sudah saya bilang, pak RT saja sok tahu, gelagatnya saja yang sok hebat
Bojek: iya, ya, tapi kalau tidak hebat kok bisa dapat gelar Pak RT yang budiman
Holler: siapa tahu..iya mungkin ada yang disembunyikan dari kita, warganya
Wulan: kalian ini ribut terus, bukannya semangat meraih gelar seperti Citra, malah ribut tidak karuan, ngomongin orang pula
(Pipi Citra merah merona, tubuhnya seperti tak lagi menginjak bumi, mengawang-awang bersama hembusan angin)
Boneng: kamu juga sama Lan, sudah tahu mereka ribut, kok nambah ramai
Citra: gelar saya banyak, coba lihat di kartu identitas saya, tetapi saya memang tidak mau pamer

Obrolan mereka lenyap seketika, saat ibu tersebut membangunkan anaknya untuk beranjak sholat. Dari balik jendela terdengar suara kokok ayam yang bertengker di dahan kian membesar. Surau dan masjid berlomba-lomba mengumandangkan adzan dengan pengeras suara. Seruan itu memekik udara dengan frekuensi tertentu, kemudian menyusup melalui celah angin sampai akhirnya didengar telinga.

Anak itu pun terbangun meski matanya enggan terbuka. Dia hanya bisa duduk merenggangkan kakinya, sedangkan ibunya siap-siap ke surau bersama keluarga yang lain. Setelah membuka mata, dia pun bingung seribu bahasa, menoleh ke kiri dan kanan penuh keheranan,

"ke mana anak-anak tadi ya? Padahal saya mau bertanya juga", gumamnya.

Semakin lama dia semakin heran bagaikan orang sedang mabuk kepayang,

"Apakah saya tadi bermimpi ya? Tapi kok seperti nyata" ujarnya.

Dia berdiri lalu berlari tergopoh-gopoh lantas mengecek pos ronda di deket rumahnya. Di sana dia mendapati sisa minum dan piring kosong dengan minyak di permukaanya. Ada bekas sepatu boat juga.

"Lho, ini kan bekas orang-orang yang di dalam mimpiku barusan, apakah ini benar-benar terjadi? Masak aku bermimpi?", katanya,

Anak itu pun duduk di pos ronda sambil merenungi apa yang sedang terjadi. Jari jemarinya merenggut setiap helai rambutnya hingga tampak seperti pejabat yang baru masuk rumah sakit jiwa (akronim, RSJ), karena kalah dalam pemilu bulan lalu - banyak uang pelicin yang digelontorkan dan terlalu sering berjabat tangan untuk menyulap suara.

Ia mondar mandir menanti ada orang lewat seperti dalam mimpinya. Waktu pun berjalan tidak berhenti. Akhirnya dia berangkat ke surau untuk beribadah walau sudah tidak bisa berjamaah. Orang-orang turun dari surau sedang dia baru melepas sandalnya. Di kamar mandi, kepalanya diguyur derasnya air keran, dilanjut berwudhu dengan pelan-pelan dan sholat. Akhirnya Ia menjadi orang terakhir yang sholat di sana.

"Aku kok bingung gelar-gelar yang dibicarakan anak-anak itu, padahal tanpa bergelar pun aku tetap bisa bermimpi punya gelar",ujarnya

"Ah, sudahlah, hidup sederhana saja kan tidak apa-apa",tambahnya

Namun kok ada yang bilang, "bermimpilah setinggi langit", padahal saya yang mimpi seperti ini saja sudah kayak orang gila. Saya sedang tidak waras, kurang mikir keras, atau memang sudah gila. Pikiranku kok bisa kacau ya gara-gara gelar yang belum saya kejar, apalagi mereka yang sudah punya gelar berjejer-jejer. Aneh memang.

Jikalau suatu saat nanti gelar datang kepadaku, aku berharap tidak seperti itu. Gelar boleh jadi mengangkat diri ini, namun semoga kita bisa kembali. Gelar hadir di antara kita, ku hanya berharap  tidak akan lupa.

"Santri Miring"

Sore ini hujan turun deras sekali. Sembari menanti reda, jari jemari berjalan mengiringi status orang-orang di media sosial. Ada yang ramai menyambut hari santri, ada yang curhat masalah pribadi, ada yang sibuk menyampaikan nasib wong 'cilik', ada yang pamer agenda safari politik, dan banyak lagi.

Kali ini penulis akan fokus dengan hari santri. Dimana, Santri adalah orang yang menuntut ilmu atau mengenyam pendidikan (proses belajar) khusus dengan berpegang teguh pada nilai-nilai atau ajaran agama (baca : islam) di lingkungan pondok. Pengajarnya adalah seorang kyai, alim ulama atau ustadz yang berkompeten di bidangnya dan memiliki perangai yang luhur. Di beberapa daerah kyai tersebut memiliki sebutan yang berbeda-beda. Kyai-kyai tersebut menjadi teladan, tokoh masyarakat dan sekaligus guru bagi santrinya.

Santri mengaji dan mengkaji berbagai ilmu agama berdasarkan arahan dan bimbingan para kyai. Biasanya proses belajar mengajar dilakukan di 'langgar' atau musholla, aula atau kelas sederhana. Komunikasi antara kyai dan santri terjalin secara terus menerus baik langsung maupun tidak langsung.

Adapun materi yang didalami seputar al-Quran, hadits, kitab-kitab tafsir, akhlak, fikih, syara', dan lain-lain. Ilmu yang dipelajari ini secara tidak langsung membentuk karakter dan perangai para santri. Ditambahi dengan contoh konkret yang diteladankan sang guru, kyai.

Dunia pesantren memiliki aspek internal dan eksternal. Aspek internal meliputi intelektual, spiritual, sosial dan skill. Sedangkan aspek eksternal adalah interaksi dengan dunia luar seperti masyarakat sekitar, sosial, budaya, politik dan lain-lain. Untuk itu santri yang sedang atau telah menjalani proses 'mondok' senantiasa memegang teguh ilmu yang diperoleh dan menggunakannya untuk kemaslahatan umat.

Kemudian hari mereka dituntut untuk bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi serta perkembangan masyarakat luas. Kehadirannya di tengah-tengah masyarakat bukan menjadi orang yang sok alim, merasa pandai, semena-mena, cepat menyalahkan dan mengkafirkan orang lain. Namun, mereka menjadi sosok yang membaur dan pandai bergaul, menegakkan ajaran agama dengan cara yang baik dan tepat serta menjadi teladan bagi individu yang lain.

Sosok santri identik dengan gaya hidup sederhana: pakai sarung, peci (laki-laki), kerudung (perempuan), kemeja, koko, kitab, makan bersama, gotong royong, dan lain-lain. Karena pada dasarnya ajaran agama (islam) melarang untuk berlebih-lebihan dalam segala hal. Seperti kalimat yang sering kita jumpai, suka seperlunya dan benci sewajarnya.

Seorang santri juga harus mencintai tanah airnya, tradisi (budaya) lokal seperti yang dicontohkan wali songo, berjuang untuk kebaikan dan kebenaran, menerima perbedaan tanpa merusak persaudaraan dan kesetaraan, tidak berhenti belajar dan memengang teguh ilmu yang diperoleh untuk kemaslahatan umat.

Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren dan santri harus lebih dinamis tanpa meninggalkan kultur yang ada. Misalnya, kurikulum pondok ditambahi sesuai dengan kebutuhan, kenyataan di lapangan dan tantangan ke depan. Di samping itu, Santri diharapkan bisa memanfaatkan teknologi dan media lain sebagai penunjang dalam meningkatkan skill, wawasan dan pengalamannya. Sehingga tidak keliru memahami teks, terlebih lagi konteks tertentu.

Seperti yang dipertontonkan oleh beberapa kalangan belakangan ini.  Mereka mengklaim dirinya yang paling benar dan bertindak arogan. Kecenderungan ini terjadi karena menurunnya semangat belajar, pandangan yang sempit, fanatik, berlebih-lebihan serta keliru dalam menafsirkan dan memahami suatu teks.

"Sarung dan Peci boleh miring asalkan pikiran dan hati jangan sampai kering"

"Panggung Sementara"

Suatu hari menjelang pagi, ternyata televisi masih menyala dan berbicara sendiri. Saat terbangun, salah satu media memberitakan perihal perebutan kursi DKI 1. Seketika teringat langsung pada pentas teater di kampus UM tadi malam. Pentas tersebut bercerita tentang seorang tokoh yang otoriter dalam mengurusi dapurnya, sehingga rakyatnya terbelenggu, dan tragedi-tragedi lain yang bersinggungan dengan tokoh ini.

Baru bangun saja televisi sudah menyodorkan hidangan seperti ini. Kemudian datang lagi berita tentang gelagat partai politik dalam menentukan calon pilihan yang diusung dalam pentas pemilu. Dalam rangkaian gelar demokrasi ini, seringkali diikuti oleh bumbu-bumbu lain yakni isu SARA. Bumbu  yang tidak pernah terlewatkan dalam setiap perhelatan demokrasi.

Bayang-bayang berita tersebut menimbulkan pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Apakah ini permainan politik? Ataukah hanya sandiwara dalam teater? apakah politik memang seperti teater? Ataukah teater merupakan bagian dari politik? Aktornya apakah sama atau tidak?

Dunia politik dan teater adalah dua hal yang berbeda. Namun dari keduanya memiliki kemiripan terutama terkait publik atau penonton. Penonton bisa berlaku aktif atau pasif, bisa dilihat dari keterlibatan ataupun pengaruhnya.

Dalam dunia teater, apa yang tampak di panggung adalah seni peran atau tontonan, sedangkan di panggung politik, apa yang terlihat di panggung adalah yang dianggap mewakili lakon "sesungguhnya" yang dimiliki sang aktor. Akhirnya publik bebas memahami dan menafsirkan lakon yang sedang, telah terjadi atau bahkan terjadi.

Aktor dalam pertunjukan teater terbentuk oleh latihan yang rutin dan menerus, sehingga mampu mendalami atau menjiwai lakon yang diperankan. Namun dalam politik, aktor bisa muncul dalam waktu yang singkat tergantung kendaraan politik, manuver, ikatan kedekatan, bahkan mahar yang mampu dikeluarkan. Kendati demikian, Aktor di dunia yang berbeda ini masih bergantung pada publik (objek) yang dituju.

Suara aktor bisa terdengar, terasa bahkan mampu mempengaruhi telinga dan pandangan khalayak ramai melalui polesan media. Media berhak memilah-milih lantas mengudarakan bagian mana yang sesuai dengan mereka, meski tanpa menghiraukan siapa penerima pesan yang disampaikan. Oleh sebab itu, aktor yang tampil boleh jadi merupakan aktor 'fiktif' yang dihadirkan oleh media, bukan pilihan sadar masyarakat luas.

Aktor yang dekat dengan media akan memiliki peluang yang lebih banyak untuk di publish dibandingkan yang tidak memiliki hubungan. Walaupun dia kurang kompeten, tidak berdedikasi, elektabilitas rendah, pendatang baru atau orang titipan. Sehingga seringkali yang terjadi adalah aktor yang layak akan tereliminasi dengan sendirinya. Sedangkan yang tidak atau kurang layak malah langgeng di wajah media.

Parodi politik bukanlah ladang yang kejam tetapi itulah yang terjadi, dipertontonkan secara bebas dan lugas, karena memang dianggap biasa. Meskipun ada pihak koalisi, oposisi dan kelompok yang tidak peduli namun kepentingan yang digulirkan atau dimainkan adalah sesuatu yang pasti. Pasti diraih atau beralih, dikejar mati-matian atau asal-asalan, menambah lawan atau kawan, bertukar pilihan atau berebut bagian.

Kedua panggung tersebut menampilkan ekspresi wajah, gesture dan ritma yang berbeda di setiap pertunjukannya. Aktor dalam teater setelah pementasan akan menanggalkan perannya dan kembali ke diri semula, sedangkan aktor politik cenderung memakai perannya secara terus menerus agar dipandang pantas hingga pentas politik usai. Namun bukan berarti dilarang untuk belajar seni peran, melainkan aktor harus menyadari  dirinya, otentik.

Di sisi lain, publik harus sadar akan haknya dalam menilai, menimbang dan menentukan pilihannya. Tanpa ada unsur paksaan dari pihak luar, keadaan yang dibuat-buat dan regulasi yang berat sebelah. Publik juga ikut berperan mengawasi jalannya proses demokrasi.

Tidak kalah penting yakni pihak pembuat regulasi, pelaksana dan pengawas. Jangan sampai pihak tersebut ditunggangi oleh 'remote' tertentu. Karena pihak inilah yang memastikan jalannya proses demokrasi yang jujur, bersih, adil, bebas dan terbuka.

Pihak lain yang juga berperan adalah tim sukses. Tim yang dibentuk oleh pihak tertentu, dengan menyiapkan taktik dan strategi pemenangan baik di level bawah sampai atas. Panggung akan terlihat seperti medan perang dalam seni perang Sun Tzu. Siapapun yang keluar sebagai juara harus saling mendukung, menghargai dan merelakan.

Akan tetapi, Jika sedari awal sudah ada yang bermain kotor dan licik, maka akan mengganggu dan menimbulkan konflik baik horisontal maupun vertikal selama dan sesudah perhelatan demokrasi. Namun jika dengan cara yang baik dan tidak melanggar aturan maka prosesnya akan lancar, aman, dan damai.

Akhirnya, panggung politik dan teater adalah panggung sementara. Panggung yang bertahan dalam kurun waktu tertentu. Namun yang terpenting adalah panggung dan aksesorisnya harus mampu menjawab harapan masyarakat, cita-cita luhur, tujuan bersama,  kepentingan dan kemakmuran rakyat. Seperti jargon yang sering disuarakan: dari, oleh dan untuk rakyat.

"Mencari Jalan Lain"

Ruas jalan merangkak perlahan
Sedang kendaraan yang tumpah di jalanan bagaikan balapan
Citra Pusing tujuh keliling mencari jalan
Dika pun geleng kepala keheranan
Sembari bergegas tancap gas
Berkutat menyusuri celah yang ketat
Telat sedikit nanti pasti rugi
Kalau Buru-buru malah celaka
alias setor nyawa
Bergerak pelan akan ketinggalan
Namun Menanti sunyi tuk beranjak pergi
Bagai bermimpi di siang hari

Kini Trotoar-trotoar mulai memar
Diinjak ban-ban yang gemar
Digusur penumpang-penumpang liar
Pada Akhirnya jalan terasa tak cukup lebar
Meski seringkali diperlebar

Nampak di atas bahu jalan
Jembatan melayang-layang
Terbang dari seberang ke seberang
Lampunya remang-remang
Lantainya berlubang-lubang
Dindingnya sedikit bolong
Sampai orang pun takut menyebrang
Sebab perkara tak kenal malam maupun siang bolong

Ketika statistik berbicara
Publik hanya terpana
Namun itulah realita
Kita hanya menonton seksama
Melalui Berita-berita yang dibuka media
Melalui cerita-cerita yang dibawa pengendara
Dan melalui tinta-tinta yang diukir oleh perangkai kata

"Memori"

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Kau penuhi lalu kau tinggal pergi
Tanpa peduli sesak yang kian terasa
Duka lara mengakar di dada

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
burukku kau biarkan membusuk
Dagingku kau tusuk-tusuk
Tulang rusukku kau buat remuk

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Diam-diam kau sibuk mencari
Lingkar jari yang ku beri seolah tak berarti
Kau hanyutkan di deras banjir yang menggenangi

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Barang bumi yang ku gali
Batang hutan yang ku tebangi
Isi laut yang ku habisi
Kau ambil lalu minta tambahan lagi
Sudahlah sampai di sini
Kau memang tak mau mengerti

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Lidahmu manis mengutak-atik teori
Otakmu asyik menyulut interpretasi
Di balik tangan segalanya kau manipulasi
Kebohonganmu seringkali kau tutupi
Dengan data-data yang kau olah sendiri

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Tak ada lagi yang bisa ku beri
Tinggal tulang terbungkus kulit ari
Tinggal nama yang menempel di diri
Tanpa Gelar yang menempel tiap hari
Hanya untukmu seorang diri

Aku bukanlah memori
Yang bebas kau isi sesuka hati
Hati-hati lah kalau suatu saat nanti
Itu terjadi saat kita bertukar posisi

"September"

Bulan september datang bulan
Tragedi tertimbun di bawah reruntuhan
Berbilang-bilang tiada terbilang
Silang menyilang ditinggal belang

Luka September masih tersisa
Bergelimang air mata di pusara phobia
Mengelus jejak yang tergores luka
Ditimang-timang rayuan manja sang penguasa

Memori September dikenang dimana-mana
Massa aksi tumpah di jalan raya
Bendera setengah tiang berkibar seperlunya
Cahaya lilin berpijar menembus gulita
Di Sekitarnya bertabur bunga-bunga
Dan Rangkaian kata-kata bersanding dengannya

September lalu telah menepi
Bulan baru telah menanti
Setidaknya sisakan selembar rela di hati
Tuk menjawab teka-teki
Yang telah lama mati

September oh september
Bawalah mimpi yang nyata
Di dalam ruang realita
Bukan deretan yang menjebak
Di atas alam nyata yang sama