Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Beranda Kita"

Di balik tenangnya kopi
Tertulis kisah terperi
Tentang rasa yang dijaga
Tentang janji yang dibina
Tentang makna yang ditata
Tentang citra yang diungkap indera
Hingga terbaring di dasar rasa

Akhirnya kita meninggalkan beranda
Dengan warna yang terlukis di dada
Dan mekanisme terpola di kepala

"Meja Bisu"

Seperti sedia kala
Kala rindu melanda
Tangan terbuka merapal mantra
Sampai akhirnya
Bersatu di hadapan meja tua
Tanpa rasa
Tanpa suara

"Angka dan Kita"

Angka tak pernah berkata
Apalagi 'tuk bercerita
Hanya saja 'kan berbeda
Kala suara lain menjelma darinya
Atau
Nafas luar merasuk ke dalamnya

"Nostalgia Meja Bundar"

Lagi dan lagi
Nostalgia ini kita bina

Di atas meja yang sama
Sembarang rasa terjaga
Sekelabat cerita terbaca
Setumpuk asa terekam masa

Sampai akhirnya
Dahaga terbayar tuntas
Dengan torehan berbekas
Bersama jiwa yang meluas

"Kisah Langit dan Bumi"

Tak perlu pandai
Hanya untuk berbangga diri
Tak perlu perkasa
Hanya untuk berkuasa
Sebab langit yang tinggi
Tak pernah berkata:
"Aku selalu lebih daripada bumi"

"Sajak Cahaya"

Mata di depan kaca
Menembus pandang
Menangkap dunia

Cermin di sekitar raga
Membagi dunia jadi dua
Mencitra sebagai makna

Sementara lensa di tengahnya
Menjembatani saban masa
Berupaya mengada
Dan ber-ada

"Berdiri di Tengah Badai"

Badai Kali ini
mengantarku pada kenangan kala itu
saat kau berdiri tegak di tengah dilema
sembarang mata hanya menelanjangimu
sembarang suara hanya menjeratmu
sementara aku dirajam takut
takut merajang tak berkesudahan

Andai kau tak terjebak di sana
di tengah geming padang gulita
pasti! senyummu merekah seperti sedia kala
senyum sempurna seperti purnama
yang dirindu oleh penunggu surga

Tapi kuyakin badai kan berlalu
seperti masa lalu
yang tegar menghadap masa depan

"Sajak Ikat"

Ternyata....
Teramat nyata
Lantaran: ada, jeda juga pola

"Bingkisan Perubahan"

Duh.. duh.. aduh
Ada yang aneh kala kau muncul
Kau datang secara tiba-tiba
Membawa bingkisan bertuliskan sabda
Di dalamnya terpatri khazanah bernapaskan perubahan

Sebenarnya untuk siapa saudara?
Namun kau hanya tersenyum dalam diam
Laksana rahasia di balik mantra

Dih.. Dih.. Dih
Sepertinya kau telah berjumpa mimpi-mimpi
Atau sedang dirundung rindu akan sesuatu?

Dari berlaksa-laksa kata
yang bersanding rupa tokohnya
Dan bertakhta latar empunya
Terpancar energi tak biasa
Sampai-sampai lidah tak kuasa berucap apa-apa

Walaupun begitu
Semoga semesta bergandeng tangan bersama-sama

Ternyata memang bingkisan istimewa...

Kini bingkisan itu kan terbuka
Tepat di awal masa tercipta
Entah isinya apa
Namun harapan nyata melekat padanya

Dalam diam kau pun hanya tersenyum
Sembari membukanya pelan-pelan
Dan ternyata...

"Sepertinya tak berhenti sampai di sini"

Begitulah pesan singkat
Yang terbaring di sana
Dan matamu pun mulai berkaca-kaca
Sebening mata air tanpa noda
Bahkan kian manja
Bagaikan bayi di pelukan ibunya


"Sowan ke Rumah Sendiri"

Apalah hamba di belantara semesta
Ketika hanya dilihat dari satu sudut
Padahal sisi lain pantas dirunut

Siapalah daku di rimba dunia
Ketika hanya dipandang sebelah mata
Padahal indera tak cuma satu

Mulai membuka diri
Dari tabir yang menyelimuti

Kenapa saya dikira begini
Kalau sekedar terpaut atribusi, juga teori
Padahal tak segalanya dapat terkira

Bagaimana pula diri mengaku sejati
Kalau bertolak melawan yang hakiki
Lantaran seringkali luput diri

Tabir hilang seketika
Dalam taman kilauan cahaya...

Prev