Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Tanda Baca"

Aku merentangkan kalian
sampai titik tertentu.
Supaya mudah terbaca.
Supaya bisa mengenal rindu,
sebab tanpaku,
kalian hanyalah satu
yakni barisan bertumpu.

Aku seperti pembeda,
karena sejatinya tersusun
dari anasir yang tidak sama.
Hadirku bukan untuk meniadakan,
bukan pula untuk mengaburkan.
Namun sebagai pelita bagi kegelapan.

Aku adalah belantara tanda;
  yang dapat kauungkap
  yang dapat kautangkap
  yang dapat kauanggap.
Asalkan dirimu selalu terbuka
mendarasnya sepenuh yang kaupunya.

Sebagian kita menepuk dada
di atas mimbar cerita,
lantas berujar dengan sederhana:
   bahwa kisah akan dimulai
   bahwa kasih akan diakhiri
   bahwa rehat akan dihelat
   bahwa tamat akan disemat
   bahwa titah akan ditatah
   bahwa tuah akan diruah.
Dan segera bongkar-pasang muka
agar mudah terbaca sebagai semula.

Tanda baca bebas berkelana,
   entah terbaca atau tidak
   entah tertanda atau tidak.
Tapi ia tetap lah tanda baca
seperti kau dan dia.

"Ah"

Ah,
apa yang keluar dari diriku
adalah dunia kosong
sedang,
dunia yang bebas dariku
adalah wujud dunia hampa.

Di luar daripada keduanya
adalah dunia yang menyatu
di luar batasku.
dan,
sela antara keduanya adalah dunia yang sama sekali tak kujangkau

Ah ...

"Baju Baru"

Esok aku akan mengembara
ke bilik-bilik dadamu
sebelum meliuk-liuk
mengikuti lekuk tubuhmu
yang telah layu
ditinggal pergi
oleh sejumlah tamu.

Tepat di tanggal itu
kuharap umurmu belum tanggal
sebab akan kubawakan baju baru
buat menutupi nganga masa lalu
di sekujur tubuhmu.

"Ingat?"

Kekasih,
bukankah selalu ada Aku dalam pengakuan?
bukankah selalu ada Anda dalam pandang?
bukankah selalu ada Dia dalam diam?

Lalu,
kenapa kau meluapkan kealpaan?
Lalu,
kenapa mereka menapikan ketiadaan?
Lalu,
kenapa kita melupakan kehadiran?

Bukankah ...
Lalu ...
Berlalu ...
Ingat ....

"Kendali"

Barangkali suara yang sampai padamu kala itu
hanya kauanggap angin lalu.
Sebab kau lebih memilih api
meski kelak pasti membakar tuannya sendiri.

Padahal akan jauh lebih berseri,
jauh lebih syahdu.
Menangkap isyarat sanubari,
yang sungguh mampu
mengungkap berjuta-juta misteri.

Tapi,
pilihanmu mesti kuhargai,
mesti kupayungi.
Karena kau jauh lebih mengerti
betapa rawannya lepas kendali,
betapa gawatnya mati tanpa arti.

"Pahitmu: Aku"

Mari seduh duniamu,
racik di ceruk batinmu;
tuangkan pelan-pelan kristal jiwamu,
tambahkan bubuk nalurimu,
lumuri dengan sebagian samudera sukmamu.

Lalu,
hirup dalam-dalam dengan karsamu.
Cecap dengan ujung karyamu.
Teguk hingga ke dalam palungmu.

Akhirnya,
pekatmu adalah satu,
hitammu adalah rindu,
dan,
pahitmu adalah aku.

"Sandaran"

Entah kenapa kau tiba-tiba
ingin bersandar pada senja
yang muncul sekejap mata
Padahal bahuku terus terbuka
untuk kausinggahi kapan saja

Bukannya aku cemburu, kekasih
Tapi nadiku berdegup malu-malu
menunggu kaucumbu
karena sudah tak terhitung
berapa kali siang-petang muncul-tenggelam berulang-ulang

Asal kautahu
bahuku seperti dulu
meski tahu akhirnya layu

"Mata, Tuan dan Puan"

Ada tuan-tuan bermain mata
Ada mata-mata bermain tuan
Ada puan memindah tuan
Ada tuan mengindah puan

Mataku hilang tuanku datang
Tuanku pulang mataku hilang
Tuanku garang memata-mataiku
Mataku girang menuan-nuankanku

Tuan menjadi teman mataku
Mata menjadi teman tuanku
Mata tuan merubah temanku
Teman tuan menabuh mataku

Namun tanpa mereka
mata-mata kekurangan mata
tuan-tuan kehilangan tuan
puan-puan kepunahan puan

Sedang dari sini,
mereka adalah seri
titik-titik seperti rasi

"Jangkrik"

Suaramu kala itu
tak semerdu nyanyian jangkrik
di balik panggung sunyi
yang pernah membasuh keruhku
kembali murni

Tapi, suaramu tetap lah bunyi
yang pernah mendiami gendangku
yang sewaktu-waktu dapat kuulangi
terlebih lagi ketika ganjil dan sanksi

"Nasib Viral"

Nasib di antara dua dunia.

Belakangan, si viral mendulang tenar.
Gaungnya hendak melangkahi semar.
Walaupun terdengar samar-samar,
namun berlapis-lapis pula yang gemar.

Aneh. Tapi lumrah.

Hampir setiap saat,
Ia melompat secepat kilat
jungkir balik bolak-balik.
Lagi dan lagi.
Seakan dunia kian menyempit.
Seakan tuannya turut terbalik.

Berlabuh jauh. Teramat jauh.
Menatap diri.

Ia pun terheran-heran.
Padahal ia tak pernah turun tangan
apalagi memainkan peran.
Tetapi namanya terus terombang-ambing dalam ingatan.
Bagaikan perahu di tengah tarian lautan.

Terkatung renung.
Mematung.
Dari petang ke petang.

kini, ia merasa sendiri
setelah dikloning tiada henti
Tetapi tak satupun mau peduli
Sebab jemari jauh lebih berfungsi
ketimbang bening akal budi
dan terang sanubari

Akhirnya...

Nun jauh di lubuk hati
Ia mengundurkan diri
Berdialog dengan diri
Meraih jawaban sendiri
Sebelum akhirnya dijemput mati

Pada nisannya,
tertuang aksara sepi, berbunyi:
"Aku hanya mati suri"

"Panggilan"

Suara panggilan datang.
Separuh bulan memandang,
dan awan riang mengundang.
Menggiring dekapan memasuki gerbang.
Pulang ke dalam pelukan.

Prev