Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Dunia Mimpi"

Ketika terbangun
Sebagian hidupku tersingkir
Oleh dekapan mimpi
Yang tertinggal di balik bantal

Padahal Ingin kuulangi
Bagian per bagian yang kukehendaki
Namun memori bagai terkunci
Menolak untuk kembali

Entah,
   Memoriku yang tak kuasa
   Mengangkat tanda-tanda
Ataukah,
   Ingatanku memang sengaja
   Menyimpan milyaran bahasa

Ketika aku kembali
   Duniaku telah lari
   Mimpiku telah rapi
Dibungkus sunyi

"Menghadap Kopi"

Bila kopinya datang
Jangan lupa haturkan kalam
Agar pahitnya tenang
Memelukmu dari dalam

Ketika kopinya tandas
Sebelum bergegas
Jangan lupa haturkan pesan
Sebentuk pujian
Kepada pemilik kenikmatan

Sampai jumpa lagi...

"Terbawa Mimpi"

Baru kusadari
Setelah sekian kali mentari menepi
Hati ini masih sepi
Lenyap terbawa mimpi

"Segera"

Asal kau tahu
Awan di langit dadaku bergemuruh
Berkilat petir, menyambar
Ujung mahkotamu yang ragu
Akan kedatanganku

Bergegaslah buka jendelamu
Sebelum semuanya berlalu

"Warta Alam"

Air
Api
Angin
Tebing
Gelombang, dan
Gejala alam tak selalu terkendali
Bergerak dengan bahasanya sendiri
Mencari keseimbangan diri

"Suatu Malam.."

Bagaimana mungkin
Mengutuk malam yang diam-diam
Merapikan kenangan
Pada kantung-kantung ingatan

Bagaimana mungkin
Menghujat malam yang diam-diam
Membasuh keletihan
Pada tikar keterlelapan

Iya, bagaimana mungkin
Mengumpat malam yang diam-diam
Menata kekhusukan
Pada alas penghambaan

Dan, bagaimana mungkin
Menghina malam yang diam-diam
Mengatur kesungguhan
Para penghuni dan pegiat malam

Suatu malam
Dalam diam
Sebelum terbenam

"Konser Hujan"

Rintik hujan mengetuk atap
Melantunkan bait-bait hangat
Bagai orkestra bunyi
Pada panggung harmoni

Rintik hujan itu
Terjatuh lalu Berlabuh
dari hulu ke hilir
Menghantarkan pesan tersembunyi
Ketika kita asyik menikmati
Meresapi dengan segenap hati

"Hujan dan Rindu"

Hujan menimang rindu
Rindu meminang waktu
Keduanya menyatu
Menjadi kamu

Itulah yang kutahu

"Ritual Kopi"

Kopi tak peduli pada tamu yang menghampiri
Entah sekedar dinikmati
Dihindari maupun dijiwai
Sebab Ia telah merelakan diri
Dalam sebuah meditasi

Ia tak pernah mencaci maki
Menikam sesuka hati
Apalagi memuja diri
Sebab sunyi dan mencecapi adalah ritual suci
Yang tak pantas 'tuk dikotori

Tapi kopi sadar diri
Betapa segala bisa terjadi
Di kemudian hari


"Ah, Ternyata"

Ternyata
Rembulan punya sisi gelap
Yang berlindung
Di balik gemilang cahaya

Dan ternyata
Awan berwajah muram
Menimang kesuburan
Dalam rahim hujan

Ah, ternyata
Sisi mengemban isi
Isi mendekap sisi
Ah, ternyata
Keduanya laksana teka-teki

"Romantika Pekat"

Tempelkan bibirmu
   Pada bibirku
Kemudian
Tinggalkan jejakku
   Pada hatimu
Agar kau tahu
Betapa dalamnya diriku

Rekatkan hasratmu
   Pada pahitku
Kemudian
Derapkan tekadmu
   Pada pekatku
Agar kau mengerti
Betapa indahnya menjadi murni

Romantika pekat
Terlarut
Dalam hakikat

"Museum Tua"

Museum tua
Di sudut desa
Membeku
Menanti dikubur waktu

"Mengejar Angka"

Dunia terbagi ke dalam angka

Angka-angka menjadi rebutan
Merasuki kehidupan sang aktor utama: manusia
Angka telah berkuasa
Berhasil meracuni aktor utama
Dengan berbagai cara

Angka mengatur apa saja
Bahkan mengukur siapa saja

Dari yang terdalam hingga terluar
   Tak lepas dari persoalan angka
Dari yang tampak hingga yang metafisik
   Tak terabaikan oleh angka
Dari yang terdekat hingga terjauh
   Tak bebas dari kacamata angka

Angka-angka telah berkuasa

Lalu bercampur debu waktu
Menempel tanpa ragu
Tak peduli belia maupun tua
Tak peduli pria maupun wanita
Semua dilumuri dengan angka

Sampai detik ini juga
   Angka telah bernada
   Angka telah memangsa
Melenyapkan yang terlena


Amri dan Shollina, 2017

Prev