Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Geser Gusur"

Pagi menjelang siang di pojok warung kopi, datanglah para perwira dengan gagahnya seperti sedang memburu sesuatu. Sebagian memakai seragam dinas, sebagian lagi hanya memakai kaos oblong. Di depan meja kasir duduk seorang anak kumel dan kesal, keduanya saling bertatap mata bagaikan perjumpaan pertama sepasang kekasih. Sementara di bangku yang lain, anak berambut keriting duduk santai dengan pandangan yang tajam sembari mengerutkan kening. Maka mulailah dialog di antara mereka:
“Selamat siang, kok sepi ya?”
“iya Pak, maklum sibuk mencari nafkah buat anak cucu”
“Omonganmu lho, metuek”
“Mesan apa pak?”
“Jahe hangat”
“tidak ada pak”
“Jeruk dingin, atau yang manis-manis lah”
“kalau itu sawang aku ae pak...heehehhe”
“Lho terus yang ada apa dong”
“Akeh pak, lha wong pasare sampeyan gusur gitu”
“Gusur apane, mek mindah thok”
“Lha iku pak jadi bingung kulakan di mana”
“Itu kan masalah sampeyan, aku kan mau mesen minum”
“Iyo meseno wes pak”
“Iyo wes, teh sama kopi ireng”
“Ok pak santai tunggu sambil main catur ae, ono sing wani ta?”
“Lha sampeyan salah masuk pak kalo nanya gitu”
“Iya, ayo sopo sing wani?”
“Kulo Pak, ojo lali carane main lho pak”
“Di sini nggak ada penggusuran lho, maklum catur katanya main utek alias meras otak dengan strategi gitu”
“Ojo mbacot ae, langsung atur dan jalankan”
“Lho kene wes ngenteni kaet mau pak”
“Iyo yo...iki tak atur....hhehehehe”

Permainan catur pun dimulai. langkah demi langkah dilakukan. Seperti biasa suara yang lain ikut mengatur pemain. Sebentar diam, sebentar gaduh. suasana siang itu tak ubahnya seperti berita hoax yang lagi marak di media. Eh kok sampai ke sana ya...hehehhee...

Sesekali kedua belah pihak mengeluarkan pernyataan yang membuat lawannya mati kutu. Terlebih lagi penonton turut andil dalam menambah ketajaman memangsa pihak tertentu. Makan memakan seringkali diperlihatkan agar musuh terjebak dan akhirnya mati. Kendati demikian catur tetaplah catur, permainan yang selalu mempertaruhkan menang dan kalah. Siapa yang menggunakan strategi yang baik dan tepat tentunya akan menang. Namun setelah permainan dimainkan, semuanya kembali melanjutkan cerita dalam satu nuansa yang dinikmati bersama.

Sampai menjelang malam, mereka kembali ke rutinitas masing-masing. Tanpa noda yang terselip di dalam dada.  



"Hadiah Untuk Kalian"

Hari ini tanpa basa basi
Kupalingkan muka darinya
Namun mereka membalasnya dengan wajah bercahaya
Juga dada terbuka

Ketika kuberanjak pergi
Si roda dua menggeliat menggoda
Karena jiwanya mati badannya tak berdaya
Tangan mereka pun bergegas menjamahnya
Penuh suka cita meski noda melekat di mana-mana
Walaupun akhirnya tetap kembali ke tangan empunya

Dalam diam kusadari
Diriku telah didekap kebodohan
Disekap keangkuhan
Dihujam keegoisan
Dilibas keterasingan
Hingga kubersandar di relung sunyi
Menatap diriku sendiri

Tapi berlaksa bait terus kukirimkan
Sebagai cahaya untuk kalian
Yang telah mengantarku pulang
Ke jalan yang kurindukan

Terima kasih...
Untuk selamanya...

"Beranda Kita"

Di balik tenangnya kopi
Tertulis kisah terperi
Tentang rasa yang dijaga
Tentang janji yang dibina
Tentang makna yang ditata
Tentang citra yang diungkap indera
Hingga terbaring di dasar rasa

Akhirnya kita meninggalkan beranda
Dengan warna yang terlukis di dada
Dan mekanisme terpola di kepala

"Meja Bisu"

Seperti sedia kala
Kala rindu melanda
Tangan terbuka merapal mantra
Sampai akhirnya
Bersatu di hadapan meja tua
Tanpa rasa
Tanpa suara

"Angka dan Kita"

Angka tak pernah berkata
Apalagi 'tuk bercerita
Hanya saja 'kan berbeda
Kala suara lain menjelma darinya
Atau
Nafas luar merasuk ke dalamnya

"Nostalgia Meja Bundar"

Lagi dan lagi
Nostalgia ini kita bina

Di atas meja yang sama
Sembarang rasa terjaga
Sekelabat cerita terbaca
Setumpuk asa terekam masa

Sampai akhirnya
Dahaga terbayar tuntas
Dengan torehan berbekas
Bersama jiwa yang meluas

"Kisah Langit dan Bumi"

Tak perlu pandai
Hanya untuk berbangga diri
Tak perlu perkasa
Hanya untuk berkuasa
Sebab langit yang tinggi
Tak pernah berkata:
"Aku selalu lebih daripada bumi"

"Sajak Cahaya"

Mata di depan kaca
Menembus pandang
Menangkap dunia

Cermin di sekitar raga
Membagi dunia jadi dua
Mencitra sebagai makna

Sementara lensa di tengahnya
Menjembatani saban masa
Berupaya mengada
Dan ber-ada

"Berdiri di Tengah Badai"

Badai Kali ini
mengantarku pada kenangan kala itu
saat kau berdiri tegak di tengah dilema
sembarang mata hanya menelanjangimu
sembarang suara hanya menjeratmu
sementara aku dirajam takut
takut merajang tak berkesudahan

Andai kau tak terjebak di sana
di tengah geming padang gulita
pasti! senyummu merekah seperti sedia kala
senyum sempurna seperti purnama
yang dirindu oleh penunggu surga

Tapi kuyakin badai kan berlalu
seperti masa lalu
yang tegar menghadap masa depan

"Sajak Ikat"

Ternyata....
Teramat nyata
Lantaran: ada, jeda juga pola
Prev