Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Romantika Pekat"

Tempelkan bibirmu
   Pada bibirku
Kemudian
Tinggalkan jejakku
   Pada hatimu
Agar kau tahu
Betapa dalamnya diriku

Rekatkan hasratmu
   Pada pahitku
Kemudian
Derapkan tekadmu
   Pada pekatku
Agar kau mengerti
Betapa indahnya menjadi murni

Romantika pekat
Terlarut
Dalam hakikat

"Museum Tua"

Museum tua
Di sudut desa
Membeku
Menanti dikubur waktu

"Mengejar Angka"

Dunia terbagi ke dalam angka

Angka-angka menjadi rebutan
Merasuki kehidupan sang aktor utama: manusia
Angka telah berkuasa
Berhasil meracuni aktor utama
Dengan berbagai cara

Angka mengatur apa saja
Bahkan mengukur siapa saja

Dari yang terdalam hingga terluar
   Tak lepas dari persoalan angka
Dari yang tampak hingga yang metafisik
   Tak terabaikan oleh angka
Dari yang terdekat hingga terjauh
   Tak bebas dari kacamata angka

Angka-angka telah berkuasa

Lalu bercampur debu waktu
Menempel tanpa ragu
Tak peduli belia maupun tua
Tak peduli pria maupun wanita
Semua dilumuri dengan angka

Sampai detik ini juga
   Angka telah bernada
   Angka telah memangsa
Melenyapkan yang terlena


Amri dan Shollina, 2017

"Beranda Kita"

Di balik tenangnya kopi
Tertulis kisah terperi
   Tentang rasa yang dijaga
   Tentang janji yang dibina
   Tentang makna yang ditata
   Tentang citra yang diungkap indera
Hingga terbaring di dasar rasa

Akhirnya kita menjauhi beranda
Dengan warna yang terlukis di dada
Dan corak yang terpola di kepala
Entah bagaimana selanjutnya

Ingatlah! kawan
Beranda ini jadi saksi
Akan semua yang terjadi

"Gus Dur dan Seorang Pengembara"

Kala hari sedang terik
Seorang pengembara bernyanyi asyik
Berarak epik bernada apik

Di tengah rimba dia berjumpa gus dur:
Hai kisanak!
Hendak ke manakah paduka beranjak?
Pakaianmu kumal tak seperti artis terkenal
Wajahmu asing bagai turis keliling
Bawaanmu sedikit seperti orang pelit
Persis nasib rakyat yang terjepit
Oleh harga yang melangit
Atau
kau memang sengaja
tidak mau terlena

Apakah kau seorang pengelana?
Sepertinya jejakmu ada di mana-mana
Namun namamu sunyi dari berita
Rupanya kau tak peduli citra
Padahal banyak yang mencarinya
Entah jiwamu seperti apa
Tapi lihat pakaianmu cukup menutup raga

Wahai tuan
Apakah kau tidak punya jawaban
Atas sekian pertanyaan yang kuhaturkan?

Kenapa kau irit bicara?
Padahal lidah bisa menjadi senjata
Padahal dengan sepatah kata, dunia bisa goyah: pun patah
Padahal dengan setumpuk cerita   belantara kepala di bawah kuasa
Padahal sekedar bersumpah
mampu merubah sejarah
Padahal hanya bergirang kalimat
kita dapat bersekat-sekat: pun saling sikat
Padahal diam tak cukup heroik
Membalik kelam jadi lebih baik

Bagaimana kau menjawab?
Sedang kau enggan berucap
Jangan-jangan kau takut dibekap
Jangan-jangan kau....

Gus Dur membuka mulut
Lantas menimpali dengan lembut:
Gitu aja kok repot

Duh... bagaimana tidak repot?
Sementara Saudaraku semakin geliat
Mencicip yang bukan miliknya
meski tertutup sangat rapat
Kerabatku merasa dialah segalanya
Di luar porosnya harus mengitarinya
Tetanggaku memintal berlaksa-laksa siasat
Supaya yang lain turut tersesat
Kerabatku pasrah menerka anugerah
Padahal ajal seluas sepetak tanah

Duh... bagaimana tidak repot?
Saat lapar dan dahaga meronta-ronta
Angin sebelumnya rela malah berubah tega
Saat hasrat datang menggoda
Badai ingin sekuat putaran angin
Saat ruang diukur dengan uang
Topan ganas setajam kerikil cadas
Saat sudut sempit dibuat terjepit
Udara bebas sesulit menarik napas

Gus dur hanya melempar senyum simpul
Kemudian membalas dengan simpel:
Gitu aja kok repot

Sepertinya kau sedang dahaga
Mungkin kau lapar juga
Nikmati sajian yang ada di sana
Jangan lupa bersyukur dan berdoa

"Duh Gus, kok repot-repot"
Lengking suaranya bergeming lembut
Namun badannya melesat cepat

Gus dur tiba-tiba berkata:
"Kalau kau sibuk, kapan kau sempat
Kau ini bagaimana atau aku yang harus bagaimana"
Dawuh gus mus dalam sajaknya

Diam-diam gus dur tersenyum
Dengan wajah bercahaya

"Ruang Bersama"

Dia, kau, dan aku bercengkrama
Pada lingkar meja yang sama
Sembari menyusuri kitab berbeda
Hening sementara
Bagai palung terdalam samudera

Selama keheningan
Tak satupun berbisik
Tak satupun mengusik
Sampai kita kembali
Dengan sepenuh jiwa

Dia membuka suara
   Sebagai jendela penyatuan bahasa
Kau memandang cakrawala
   Dengan beragam lensa makna
Aku hanya melepas tanya
   Sebagai pendobrak tabir yang ada

Aksara melingkupi suasana
Angka membangun nuansa
Indera mendera realita
Intuisi mencitra cahaya

Sampai akhirnya
Menjadi kita

"Catatan Berserat"

Kayu lapuk tampak pucat
Serat-seratnya kehilangan daya pikat
Sampai tak kuat tuk saling ikat
Padahal jaraknya begitu dekat

Kini kayu itu telah layu
Tak seperti dulu

"Noda dan Celah"

Dan terkadang noda
Walaupun hanya setitik
    Jauh lebih kuat
    Jauh lebih hebat
'Tuk mengendapkan bagian
Bahkan melenyapkan sekalian

Pun terkadang celah
Walaupun selebar lubang jarum
     Jauh lebih sakti
     Jauh lebih terbukti
Bagi hamparan gulita
Yang pernah dilalui cahaya

Di antara noda
Ada celah tak ternoda
Di antara celah
Ada noda tak terbelah

"Menanti Senja"

Pada dermaga hasrat kusandarkan niat
Setelah sekian lama bertekad
Menjaring mimpi berkelebat hebat

Senyumlah sembari melukis senja dengan tinta warna warni
Tepat di relung hati
Hingga terlahir seikat pelangi

Rengkuhlah pena hingga menjelajah dunia
Dengan segenap jiwa dan cinta
Lalu berkelana di kolong semesta
Dari masa ke masa

Sampai itu tiba
Cahaya hidup mampu diraba
Pun dibina

"Setajam Pedang SARA"

Aku kian bertanya
Dalam perih yang mendera
Kenapa kau menikamku dengan pedang SARA
Bukankah kita bersaudara

Andai saja kutahu
Rasa bisa kalah oleh sentuhannya
   Kan kubiarkan dada ini lebih terbuka

Andai saja kumengerti
Rela bisa hangus karena tega
   Kan kusingkirkan cela dalam jiwa

Andai saja kusadari
Tali bisa putus karena taji
  Kan kujalin cinta tanpa prasangka

Iya, andai saja...

"Lautan tanpa Garam"

Negeriku negeri kepulauan
Dari barat sampai timur diselimuti lautan
Di perutnya nelayan menitipkan harapan
Harapan yang membentang
Di antara butir-butir pasir berhamburan

Negeriku menimbun kekayaan
Rumput dan alga bergoyang-goyang
Bagai tarian bidadari di tengah pedalaman
Semua mata terpaku padanya
Bahkan tak ingin beralih pandang

Ikan-ikan meliuk-liuk membelah gelombang
Melompat-lompat memompa insang
Bagai sirkus di kolam renang
Semua tepuk tangan
Bahkan teriak kegirangan

Garam yang terbenam
Terhampar di ladang penantian
Memutih lalu Mengkristal
Menjadi butiran harapan

Kini, kilau sang kristal memudar
Kembali menyatu di padang hambar
Sebab cahaya baru datang berhamburan
Menjejali dapur penuh keresahan

Lautanku bagai air tawar
Oleh tawar menawar yang berkelakar
Pada ruang sempat yang dibuat sempit

Lautanku menyimpan asin
    Jauh di dasar kedalaman
Lautanku memeram kejayaan
    Jauh di dalam palung kearifan

Duh...duh..aduuuh
    Lautanku hanyut
Ooooh.... oh... ohhhh
    Lautanku tak lagi berdenyut

"Jalan Pulang"

Tatkala meninggi
Harga diri terpaut di awan tinggi
Sampai lupa sedang memijak bumi

Sepanjang ruas yang ditapaki
Kuharap suatu saat nanti
Kan berjumpa jalan kembali
Jalan yang dikehendaki

Prev