Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Meja Panjang"

Sudah sekian musim
kita tidak bermukim
Entah aku yang terlampau dingin
ataukah kau yang lupa arah angin

Jauh sebelum detik ini
     kita sama-sama melingkari hari
     yang terpaku di dinding rindu
Namun ketika masanya tiba
     kita tak abai memasang mata
     pada sudut lain sepanjang waktu

Meja panjang pun meradang berang
Empat kakinya legam terpanggang
Kursi di depannya meronta-ronta
Menyulap ruangan menjadi tungku menyala

Meja panjang menguap menjadi gundukan awan
    melayang-layang
       menggantung di langit kerinduan
Yang sewaktu-waktu menjelma hujan
    bila telah jenuh dengan kealpaan
       bagi kemarau yang dibentangkan

Meja panjang
  bisa seluas angan
  bisa sesempit pajangan
Seperti kita dan pendulum kenyataan

"Satu Tiga"

Bening gelas kaca di depan retinamu
   masih bisa kau tangkap sesukamu
   pun sebagaimana mestinya
Sementara titik yang segaris sudut matamu
   hanya bisa kau kira-kira
   pun belum tentu akan sama
Namun mutiara di belakang kepalamu
   Tiada sedikit pun terbaca
    terlebih jika tak ada cermin
    pun jika tak ada isyarat dari yang    lain

Ketiganya seperti satu;
bagi yang punya mata berbeda
bagi yang pura-pura buta
bagi yang hanya dengan sebelah terbuka
Juga bagi yang tengah didera cedera

"Jarak"

Jarak dua tiga bintang di angkasa
   masih dapat dibaca dan dikira-kira
   pun hanya terukur terhadap cahaya
Namun sejauh itu pun
   masih tak lebih jauh dari celah
   dua bibir yang mengatup-menganga
sepanjang masa

Jarak dua tiga zarah di sekitar kita
    masih bisa diziarahi dan diprediksi
    pun hanya tertentu dengan teorema, lensa, dan data
Namun sejauh itu pun
    masih tak lebih jauh dari jeda
    antara dua kepala yang terbuka dan bersenggama
sepanjang kala

Ia berkembang biak
Beranak pinak
Sepanjang nadi manusia

"Rembulan di Punggung Desa"

Senja kala di pematang sawah.
Mengintip dari balik ilalang.
Gadis desa pulang memikul galah.
Menghadap malam yang menghimpun remah.

Kilau cahaya menerpa telaga.
Terpental ke dalam gubuk tua.
Sehingga wajah desa tergambar segera.
Seperti jejak tinta sedemikian rupa.

Menjelang dini hari,
gardu di pinggir jalan bernyanyi.
Tua muda pria wanita berbagi hati,
merangkai sepi menjadi puisi.

Rembulan di punggung desa
merangkak memalingkan muka,
tenggelam ke dalam telaga cahaya.
Gairahnya menghangatkan keringat ikan dan terumbu karang.
Yang mengkristal menjadi darah, urat dan tulang.

Rembulan di punggung desa:
   selalu tabah memugar diri
   selalu tegar memikul matahari
   selalu tulus mengkremasi mimpi
Dan pagi pun lahir sebagai pagi
yang berdiri di atas kaki sendiri
selama rembulan melanjutkan semadi

Rembulan di punggung desa
muncul terbenam berbulan-bulan
Seperti pungguk merindukan bulan

"Poster Wajahmu"

Selintas pandang di seberang jalan
wajahmu masih terpasang.
Memancar sinar, mengundang.
Entah, sampai kapan mampu bertahan
menghuni papan tambatan
dalam kesendirian.

Menjelang tanggal;
aneka momentum bertandang
bayang panjang seliweran menjuru sarang
memburu bidak-bidak tunggal
agar geming tak kenal kata tertinggal.

Burung-burung berdendang.
Butir embun bergegas pulang
mengemas malam dalam kardus siang.
Hangatnya terngiang-ngiang.
Menyusup pori-pori, menyusun belulang.

Tanggal telah tanggal
gugur ke dalam pangkuan.
Wajahmu yang tipis ditarik-turunkan, oleh tangan kanan yang sedari awal memasang badan.
Tapi kemudian dijadikan lesehan pada sebuah ritual.

Sementara nun di seberang
kerlap-kerlip gelas perayaan bergoyang-goyang.
Tumpah-ruah menyesakkan jalan
hanya menyisakan istana keranjingan
dan aroma kerancuan.

Poster wajahmu memudar
bagaikan pupur yang luntur
karena mukamu hendak muncul
walau pernah sebeku kubangan lumpur

Poster yang lalu terharu-biru
Ketika terpasang lagi poster baru

"Yaaah, padahal tak lucu, cukup lah hanya aku..."

"Nisan Angka"

"Jangan pernah ragukan kami", tegas Angka di hadapan jutaan kepala.
Yang bergeming seperti sebuah arca.

Setelah kalimat terakhir ini,
angka-angka berlaku sebagai candu.
Memasuki jaringan tepi dan sum-sum mimpi.
Merasuki apa pun yang ia mau.

Angka telah berkuasa.
Hingga meracuni siapa saja
dengan sembarang cara.

Angka mengatur apa saja
bahkan mengukur siapa saja.
Dari yang terdalam hingga terluar.
Dari yang kasat mata hingga titik buta.
Dari yang dekat hingga jauh amat.

Angka-angka telah berkuasa.

Ia bercampur debu waktu.
Menempel tanpa ragu.
   Tak peduli belia maupun tua.
   Tak peduli pria maupun wanita.
Semua dilumuri dengan aromanya.

Sampai detik ini juga;
   Angka telah bernada.
   Angka telah memangsa.
Melenyapkan yang terlena.

"Kita lah Angka, sebelum ada yang lainnya"
"Andai saja ....."
lirih suara Angka ketika ajal menjemputnya.

"Tali Baru"

Tali di lingkar kepalamu
Terpaku bagaikan sebuah tugu
Yang termangu merapal waktu
Menunggu kafilah datang bertamu

Ia terikat
Begitu erat
Tapi tak menjerat

Puncaknya menyundul awan
Hingga menggundul langit berkabut
Lingkarnya mengitari titik rawan
Membentuk tarian ritmis paling lembut

Ia mengikat
Begitu hangat
Tapi tak menyengat

Sebelum petang tiba
     Ikat itu masih baru
Seperti sedia kala
     Entah bagaimana dengan kau

Sebelum pagi pergi
     Ikat itu tetap di situ
Seperti pertama kali
     Entah bagaimana dengan kau

"Surat dari Buku"

Salamku kepadamu.

Bagimu yang berbuku-buku
Bagimu yang mengeram sumbu
Bagimu yang memeram tabu
Bagimu yang mendekam kaku

Untukmu yang berpacu melepas beku
Untukmu yang sedang melawan bisu

Kepadamu yang menjadi dirimu
Kepadamu yang hanya untukmu

Hormatku kepadamu,
sebelum diriku, satu persatu
kembali bersatu
Menutup buku

Semoga engkau
tak seperti aku.

"Rumus Fi"

Bayangku berkubang
tergenang kenangan.
Padahal segenap badan
telah tumbuh dan berkembang.
Merayakan hari depan.

*

Tubuhku pongah
terpasung dinding berbayang-bayang.
Padahal seluruh jiwa
telah tegak berdiri dan kerap berlari.
Demi menghidupkan mimpi dan mengakarkan diri.

*

Namaku memiliki jantung.
Tergantung dari lakon ke lakon.
Bergelantungan dari titik ke titik, dari satu ufuk ke ufuk lain.
Padahal sepenuh hati
telah berjuang bagaimana semestinya.
Supaya menjadi seutuhnya.

*

Rumus Fi mencipta jalinan
bersilang dan bersalin
saling menentukan
saling menghidupkan.

"Catatan"

Catatan itu seperti terpahat sendiri
pada bahu waktu.
Meruang.
Meraung.
Mengungkap. Menangkap. Menganggap.
Mengurai dirinya sendiri.
Bagai seorang bayi merangkak. Duduk. Berdiri.
Melangkah. Berlari. Berhenti.

Catatan itu masih di sini
meski berulang kali
ada yang hidup dan mati.
Sampai nanti.

"Kantung Hujan"

Ternyata ada kantung hujan
di bawah rindang matamu.
Sepertinya cukup tuk mengguyur kemarau di hatimu.
Pun dapat menghanyutkan gemerlap taburan bunga di wajahmu.

Kantung hujan
masih mengandung
dan menggantung.
Menunggu kau.

Prev