Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

"Aduhai Kekasih"

Aduhai kekasih Sepertinya letih, tersenyumlah Biarlah bibir merahmu merekah Tak usah resah berkeluh kesah Aduhai kekasih Sepertinya gerah, tertawalah Lepaslah geram yang bercongkol di dalam Tak usah bimbang kalau suara sumbang datang Aduhai kekasih Sepertinya susah, sabarlah Sematkan diri lalu jalani yang telah diyakini Tak perlu ragu andai cukup mampu lalu lalang rintang yang menghadang pasti berlalu Seperti perjalanan waktu Aduhai kekasih Sepertinya gelisah, tenanglah Peluklah tonggak yang berdiri tegak dengan erat-erat Tak perlu jengah apalagi...

"Pil Pemilu"

Jungkir balik jejal pendapat Turun ke bawah menjaring rakyat Mulai dari Atraksi magic seperti akrobat Orasi panggung yang memikat Wacana manis penebus niat Manuver kocak ala capung nekat Amplop wasiat bagi saku terdekat Jabat berjabat tangan pejabat Safari momental di kala sempat Kendati lupa setelah dilihat Sorak sorai tumpah di jalanan Lambaian tangan di atas bangunan Di pohon-pohon berjejeran bagai selebaran Di tiang-tiang melawan ancaman Di halaman bahkan lapangan Teriak kegirangan Dari kejauhan hanya terlihat tangan-tangan yang dicalonkan Simpatisan...

"Kurban yang Tergadaikan"

Detik-detik menjelang 'Idul Adha Sebagian menghadap ilahi Menunaikan ibadah haji Setelah sekian lama menanti Sebab menunggu nomor antri Yang lain menghamba lewat puasa Sedekah dan kurban ditunaikan bagi sesama Karena tidak semua bernasib sama Hari raya kurban sebentar lagi Orang-orang sibuk menyiapkan diri Hewan sembelihan siap didandani Mereka cantik seperti putri Sehat dan Gemuk bagai atlet berisi Meski leher berjumpa belati Dia masih memasrahkan diri Kulit Daging dan tulang dibagi-bagi Hingga tak satu pun yang terlewati Walau ada pula yang...

"Papan Nama"

Oh pejuang Aku tidak kunjung paham Kenapa orang berjuang dan bertahan Padahal nyawa dipertaruhkan Tak sedikit yang hilang Berjarak dengan ruang setelah dibuang Bahkan ada yang mati Dilahap api Disayat belati Ditelan racun Dipenggal jagal Ditimbun tanah Entah apa lagi Namun jangan khawatir kau tak kan terlupakan Suara lantangmu terbang di udara Memekik telinga mendobrak dada Merawat ingatan yang pura-pura lupa Melawan lupa yang sadarnya tak lama Wahai pejuang Sedikit lancang ku sampaikan Nisan baktimu tak akan lekang Meski tulisannya hilang Karena...

"Nyanyian Seorang Tahanan"

Kini ku hanya bisa diam Dengan mata tertutup Mulut dikunci rapat Tangan di ikat erat Hanya terdengar suara bisikan Langkah yang agak berat Lalu ku digiring entah kemana Sampai akhirnya menjelma di tengah ruang minim cahaya Semua tampak gelap Baunya pengap Tanpa tikar Tanpa hiasan Tanpa perabotan Rupanya Ku di buang dari tatapan Beranjak ke ruang ratapan Hujatan tiada terlewatkan Ancaman tiada ketinggalan Peluru datang bagai sengatan Ditendang ditekan santapan harian Dilecehkan diabaikan menu tambahan Terkadang berjumpa penyesalan Hari berganti...

"Lempar Batu Sembunyi Tangan"

Berulang kali kau bilang aku kepala batu Sedang batu belum tentu mau Batu diam tidak mau tahu Batu kan tidak punya nafsu Kalau dipikir-pikir kitalah yang membatu Ah sudahlah Kau seperti melempar batu sembunyi tangan Ambil buang kemudian cuci tangan Takut disalahkan Maunya selalu dibenarkan Khawatir dijerumuskan Padahal mau diluruskan Ya sudahlah Aku seperti ngotot bela diri Padahal belum tahu pasti Mungkin percaya diri terlalu dini Berlagak orang paling suci Ha...ha..ha.. Kalau tidak begini Aku tidak akan punya jati diri Ya biar tampak punya...