Papuma Beach

Barisan Pemimpin Masa Depan

HIMASKA "Helium"

Khotmil Qur'an dan Tumpengan

Kelas A 2008

Jalan-jalan ke Candi Badut+makan bareng

Perpisahan Kelas

Foto bareng di depan Fakultas Saintek

Kelas B-4 PKPBA

Kuliah PKPBA di depan Rektorat

Keluarga Besar Heler

Mandi Bareng di Penumpasan

Muktadi Amri Assiddiqi

Narsis Rumah Jorogrand

Pramusta Bapewil IV Ikahimki

Upgreding Bapewil IV Ikahimki di Pantai Papuma

"Kandung"

Kau ibarat mendung.
Terbendung.
Mengandung.
Berduyung-duyung.
Menimang indung.
Meminang tudung.

"Garis Hidup"

Di hadapan buku
    Kita hanya bisa berkubu
Di depan yang baku
    Kita hanya bisa mendaku

Di dalam tubuh bambu
    Kita hanya lapis berbuku
Di tengah ladang rambu
    Kita hanya baris bersumbu

Di urutan daftar laku
    Kita hanya lembar berlaku
Di antara jalur laku
    Kita hanya penumpang laju

Akhirnya terhambur
Terkubur berkabur baur
lantas lebur

"Laku"

Bila laku
sebagai muara lakumu
Maka kau kan meramu
Keras tebu bertabur tabu
atau,
Pahit tabu berpupur tebu

Tentunya,
hanya kau yang berlaku
hanya laku yang berlalu

"Tinta tentang Kita"

Satu hal perlu kauingat
Pagi sudah lewat untuk tinta mendekat,
pun berkarat dalam lekat

Maka kita harus bergegas
mengejar langkahnya
Sebelum tergilas habis
oleh sapuan masa

"Selapang Dada"

Dada,
tak sekedar berongga
Segalanya tercermin darinya
Kadang merupa gulita
Kadang pula meraga pelita

"Cerita Basah"

Di antara awan yang bergumul
dan angin yang menggiring judul
Aku muncul sebagai teduh
Bagi hamparan tandus yang haus peluh

Dengan rendah hati
kuceritakan seberkas mimpi
untuk sebagian penghuni
Melalui pawai pelangi
meski tak abadi

"Jumat Agung"

Ketika hari yang agung
datang berkunjung
Kuharap bisa menyelam ke dalam terang
bahkan tenggelam, jauh lebih dalam

"Petualangan Malam"

Sepotong rembulan
merangkak perlahan, bertualang merenungkan jejak malam
Sebelum tapak terang
datang bertandang

"Malam Pengantin"

Sayap-sayap jiwaku
meruntut lekuk tubuhmu
yang pernah kucumbu
Di bawah kubah malam
seribu bulan

"Enigma"

Aku teka-teki
Kau misteri
Namun kita adalah sandi
Pembentuk mata rantai
Yang terhubung oleh sendi-sendi

"Purnama"

Tepat di atas kening
Purnama bergeming
Menghimpun kenang
Ke dalam sarang

"Nyala Puisi"

Mari nyalakan puisi
Sebagai lentera bunyi
Serupa matahari

"Suara Pinggiran"

Dari ruang sempit
Berbentuk segi empat
Kudengar suara-suara tersekat, berat.
Suara luka kebencian
Suara duka ketimpangan
Suara lara kebodohan
Suara lega keangkuhan
Suara tega penindasan

Sepi. Tegang-renggang
Beresonansi.
Berdengung terngiang.

Datang.

Suara getir kemalangan
Suara getar kekuasaan
Suara sayu kepura-puraan
Suara pilu kerakusan
Suara palu perselingkuhan
Suara saru penggusuran

Hilang. Datar-tegar.
Bergelombang.
Berdendang terbang

Entah suara apa lagi
Harus kuakui
Tak semua mampu kukenali

Ketika bait ini kurangkai
Suara itu belum berhenti
Terbungkus rapi

Pergi.

Tiada bunyi.
Sunyi.


"Sang Pena"

Aku adalah sang pena
Tintaku seluas samudera

Dari hari ke hari
Setitik sepintas lintas
Menetes. Menetas bayi dunia
Meretas nyata, membingkai
Seperti dirinya

Dalam rahim masa
Ia diasuh diasih diasah
Hingga tumbuh dewasa, menua
Menjadi cakrawala.

Aku adalah sang pena
Titik di mana asal bermula
Puncak segala usul bermuara

"Hujan Hatiku"

Hujan terjatuh
Rindu berlabuh

Tanah bersimpuh
Dada berteduh

Pelangi bersimfoni
Harmoni bersemi

Pelita melingkupi
Hati melengkapi

"Kau dan Lumpur"

Suara burung itu membawaku
Pada raut wajahmu
Yang dirias lumpur
Ketika senyummu lebur
Bersama benih subur
yang kau kubur

"Paru-paru pagi"

Paru-paru pagi
Kembang kempis
Selaras seirama
Melambungkan mimpi-mimpi
Para penghuni bumi

Paru-paru pagi
Berdenyut seperti nadi
Hampir setiap hari

"Hadir"

Ketika bersamaku
Jangan sekali-kali
Mencari di luar diriku
Sebab bagiku
Hadirmu adalah kulminasi
Seperti angka satu

"Hanya ingin..."

Entah kenapa aku hanya ingin bertemu
Sekadar sambung ragu agar beregu
Sekadar sambang rindu agar berpadu
Daripada sumbang jemu
Tapi tak kunjung kau jamu

Padahal hanya ingin bertemu
Hanya ingin
Hanya ingin
Kau

"Rindu Yang Pulang"

Sudah larut malam
Saatnya rindu pulang
Memangkas jarak yang terbentang
Menjadi sebuah kealpaan

Tumpukan Terakhir

Hidup di atas kasur plastik sisa pesta keluarga mapan adalah hal biasa bagiku. Hidup sebatang kara di tengah rerimbun sampah sudah bukan hal yang asing bagi diriku. Aku yang telah terbiasa mengais botol, kertas dan remah-remah yang menumpuk di belakang rumah plat merah itu untuk menukarkannya dengan sebotol air dan sebungkus nasi. Selebihnya saya peroleh dengan mengambil bekas makan orang-orang yang ditinggalkan di atas meja kedai pojok. 

Menjelang fajar, saya berangkat hanya bermodalkan goni sebagai wadah penampung harapan yang tercecer. Sebatang kayu untuk mmbolak-balikkan tumpukan yang menggunung. Botol plasik, botol kaca dan gelas plastik saya pilih yang belum terkoyak lalu kuendapkapkn pada dasar goni. Di baqah terik mentari yang menyengat keringatku bercucuran menetes pelahan bercampur nyanyian perut yang memekik keheningan.

Saya bukan satu-satunya anak yang mengorek tumpukan itu. Jumlah kami memang tak sebanyak gunung yang ditimbun orang-orang kota setiap pagi dan sore hari. Mulai dari anak kecil sampai tua renta baik pria maupun wanita mengendap melebur sampai tak bisa dikenali. Walau baunya menusuk hidung menghujam saraf tapi tidak ada yang bernjak menjauhi tempat iru kecuali goni mereka sudah penuh. Begitu terus dari hari ke hari.


bersambung....

"Dunia Mimpi"

Ketika terbangun
Sebagian hidupku tersingkir
Oleh dekapan mimpi
Yang tertinggal di balik bantal

Padahal Ingin kuulangi
Bagian per bagian yang kukehendaki
Namun memori bagai terkunci
Menolak untuk kembali

Entah,
   Memoriku yang tak kuasa
   Mengangkat tanda-tanda
Ataukah,
   Ingatanku memang sengaja
   Menyimpan milyaran bahasa

Ketika aku kembali
   Duniaku telah lari
   Mimpiku telah rapi
Dibungkus sunyi

"Menghadap Kopi"

Bila kopinya datang
Jangan lupa haturkan kalam
Agar pahitnya tenang
Memelukmu dari dalam

Ketika kopinya tandas
Sebelum bergegas
Jangan lupa haturkan pesan
Sebentuk pujian
Kepada pemilik kenikmatan

Sampai jumpa lagi...

"Terbawa Mimpi"

Baru kusadari
Setelah sekian kali mentari menepi
Hati ini masih sepi
Lenyap terbawa mimpi

"Segera"

Asal kau tahu
Awan di langit dadaku bergemuruh
Berkilat petir, menyambar
Ujung mahkotamu yang ragu
Akan kedatanganku

Bergegaslah buka jendelamu
Sebelum semuanya berlalu

"Warta Alam"

Air
Api
Angin
Tebing
Gelombang, dan
Gejala alam tak selalu terkendali
Bergerak dengan bahasanya sendiri
Mencari keseimbangan diri

"Suatu Malam.."

Bagaimana mungkin
Mengutuk malam yang diam-diam
Merapikan kenangan
Pada kantung-kantung ingatan

Bagaimana mungkin
Menghujat malam yang diam-diam
Membasuh keletihan
Pada tikar keterlelapan

Iya, bagaimana mungkin
Mengumpat malam yang diam-diam
Menata kekhusukan
Pada alas penghambaan

Dan, bagaimana mungkin
Menghina malam yang diam-diam
Mengatur kesungguhan
Para penghuni dan pegiat malam

Suatu malam
Dalam diam
Sebelum terbenam

"Konser Hujan"

Rintik hujan mengetuk atap
Melantunkan bait-bait hangat
Bagai orkestra bunyi
Pada panggung harmoni

Rintik hujan itu
Terjatuh lalu Berlabuh
dari hulu ke hilir
Menghantarkan pesan tersembunyi
Ketika kita asyik menikmati
Meresapi dengan segenap hati

"Hujan dan Rindu"

Hujan menimang rindu
Rindu meminang waktu
Keduanya menyatu
Menjadi kamu

Itulah yang kutahu

"Ritual Kopi"

Kopi tak peduli pada tamu yang menghampiri
Entah sekedar dinikmati
Dihindari maupun dijiwai
Sebab Ia telah merelakan diri
Dalam sebuah meditasi

Ia tak pernah mencaci maki
Menikam sesuka hati
Apalagi memuja diri
Sebab sunyi dan mencecapi adalah ritual suci
Yang tak pantas 'tuk dikotori

Tapi kopi sadar diri
Betapa segala bisa terjadi
Di kemudian hari


"Ah, Ternyata"

Ternyata
Rembulan punya sisi gelap
Yang berlindung
Di balik gemilang cahaya

Dan ternyata
Awan berwajah muram
Menimang kesuburan
Dalam rahim hujan

Ah, ternyata
Sisi mengemban isi
Isi mendekap sisi
Ah, ternyata
Keduanya laksana teka-teki

"Romantika Pekat"

Tempelkan bibirmu
   Pada bibirku
Kemudian
Tinggalkan jejakku
   Pada hatimu
Agar kau tahu
Betapa dalamnya diriku

Rekatkan hasratmu
   Pada pahitku
Kemudian
Derapkan tekadmu
   Pada pekatku
Agar kau mengerti
Betapa indahnya menjadi murni

Romantika pekat
Terlarut
Dalam hakikat

"Museum Tua"

Museum tua
Di sudut desa
Membeku
Menanti dikubur waktu

"Mengejar Angka"

Dunia terbagi ke dalam angka

Angka-angka menjadi rebutan
Merasuki kehidupan sang aktor utama: manusia
Angka telah berkuasa
Berhasil meracuni aktor utama
Dengan berbagai cara

Angka mengatur apa saja
Bahkan mengukur siapa saja

Dari yang terdalam hingga terluar
   Tak lepas dari persoalan angka
Dari yang tampak hingga yang metafisik
   Tak terabaikan oleh angka
Dari yang terdekat hingga terjauh
   Tak bebas dari kacamata angka

Angka-angka telah berkuasa

Lalu bercampur debu waktu
Menempel tanpa ragu
Tak peduli belia maupun tua
Tak peduli pria maupun wanita
Semua dilumuri dengan angka

Sampai detik ini juga
   Angka telah bernada
   Angka telah memangsa
Melenyapkan yang terlena


Amri dan Shollina, 2017

"Beranda Kita"

Di balik tenangnya kopi
Tertulis kisah terperi
   Tentang rasa yang dijaga
   Tentang janji yang dibina
   Tentang makna yang ditata
   Tentang citra yang diungkap indera
Hingga terbaring di dasar rasa

Akhirnya kita menjauhi beranda
Dengan warna yang terlukis di dada
Dan corak yang terpola di kepala
Entah bagaimana selanjutnya

Ingatlah! kawan
Beranda ini jadi saksi
Akan semua yang terjadi

"Gus Dur dan Seorang Pengembara"

Kala hari sedang terik
Seorang pengembara bernyanyi asyik
Berarak epik bernada apik

Di tengah rimba dia berjumpa gus dur:
Hai kisanak!
Hendak ke manakah paduka beranjak?
Pakaianmu kumal tak seperti artis terkenal
Wajahmu asing bagai turis keliling
Bawaanmu sedikit seperti orang pelit
Persis nasib rakyat yang terjepit
Oleh harga yang melangit
Atau
kau memang sengaja
tidak mau terlena

Apakah kau seorang pengelana?
Sepertinya jejakmu ada di mana-mana
Namun namamu sunyi dari berita
Rupanya kau tak peduli citra
Padahal banyak yang mencarinya
Entah jiwamu seperti apa
Tapi lihat pakaianmu cukup menutup raga

Wahai tuan
Apakah kau tidak punya jawaban
Atas sekian pertanyaan yang kuhaturkan?

Kenapa kau irit bicara?
Padahal lidah bisa menjadi senjata
Padahal dengan sepatah kata, dunia bisa goyah: pun patah
Padahal dengan setumpuk cerita   belantara kepala di bawah kuasa
Padahal sekedar bersumpah
mampu merubah sejarah
Padahal hanya bergirang kalimat
kita dapat bersekat-sekat: pun saling sikat
Padahal diam tak cukup heroik
Membalik kelam jadi lebih baik

Bagaimana kau menjawab?
Sedang kau enggan berucap
Jangan-jangan kau takut dibekap
Jangan-jangan kau....

Gus Dur membuka mulut
Lantas menimpali dengan lembut:
Gitu aja kok repot

Duh... bagaimana tidak repot?
Sementara Saudaraku semakin geliat
Mencicip yang bukan miliknya
meski tertutup sangat rapat
Kerabatku merasa dialah segalanya
Di luar porosnya harus mengitarinya
Tetanggaku memintal berlaksa-laksa siasat
Supaya yang lain turut tersesat
Kerabatku pasrah menerka anugerah
Padahal ajal seluas sepetak tanah

Duh... bagaimana tidak repot?
Saat lapar dan dahaga meronta-ronta
Angin sebelumnya rela malah berubah tega
Saat hasrat datang menggoda
Badai ingin sekuat putaran angin
Saat ruang diukur dengan uang
Topan ganas setajam kerikil cadas
Saat sudut sempit dibuat terjepit
Udara bebas sesulit menarik napas

Gus dur hanya melempar senyum simpul
Kemudian membalas dengan simpel:
Gitu aja kok repot

Sepertinya kau sedang dahaga
Mungkin kau lapar juga
Nikmati sajian yang ada di sana
Jangan lupa bersyukur dan berdoa

"Duh Gus, kok repot-repot"
Lengking suaranya bergeming lembut
Namun badannya melesat cepat

Gus dur tiba-tiba berkata:
"Kalau kau sibuk, kapan kau sempat
Kau ini bagaimana atau aku yang harus bagaimana"
Dawuh gus mus dalam sajaknya

Diam-diam gus dur tersenyum
Dengan wajah bercahaya

"Ruang Bersama"

Dia, kau, dan aku bercengkrama
Pada lingkar meja yang sama
Sembari menyusuri kitab berbeda
Hening sementara
Bagai palung terdalam samudera

Selama keheningan
Tak satupun berbisik
Tak satupun mengusik
Sampai kita kembali
Dengan sepenuh jiwa

Dia membuka suara
   Sebagai jendela penyatuan bahasa
Kau memandang cakrawala
   Dengan beragam lensa makna
Aku hanya melepas tanya
   Sebagai pendobrak tabir yang ada

Aksara melingkupi suasana
Angka membangun nuansa
Indera mendera realita
Intuisi mencitra cahaya

Sampai akhirnya
Menjadi kita

"Catatan Berserat"

Kayu lapuk tampak pucat
Serat-seratnya kehilangan daya pikat
Sampai tak kuat tuk saling ikat
Padahal jaraknya begitu dekat

Kini kayu itu telah layu
Tak seperti dulu
Begitu pula denganku

"Noda dan Celah"

Dan terkadang noda
Walaupun hanya setitik
    Jauh lebih kuat
    Jauh lebih hebat
'Tuk mengendapkan bagian
Bahkan melenyapkan sekalian

Pun terkadang celah
Walaupun selebar lubang jarum
     Jauh lebih sakti
     Jauh lebih terbukti
Bagi hamparan gulita
Yang pernah dilalui cahaya

Di antara noda
Ada celah tak ternoda
Di antara celah
Ada noda tak terbelah

"Menanti Senja"

Pada dermaga hasrat kusandarkan niat
Setelah sekian lama bertekad
Menjaring mimpi berkelebat hebat

Senyumlah sembari melukis senja dengan tinta warna warni
Tepat di relung hati
Hingga terlahir seikat pelangi

Rengkuhlah pena hingga menjelajah dunia
Dengan segenap jiwa dan cinta
Lalu berkelana di kolong semesta
Dari masa ke masa

Sampai itu tiba
Cahaya hidup mampu diraba
Pun dibina

"Setajam Pedang SARA"

Aku kian bertanya
Dalam perih yang mendera
Kenapa kau menikamku dengan pedang SARA
Bukankah kita bersaudara

Andai saja kutahu
Rasa bisa kalah oleh sentuhannya
   Kan kubiarkan dada ini lebih terbuka

Andai saja kumengerti
Rela bisa hangus karena tega
   Kan kusingkirkan cela dalam jiwa

Andai saja kusadari
Tali bisa putus karena taji
  Kan kujalin cinta tanpa prasangka

Iya, andai saja...

"Lautan tanpa Garam"

Negeriku negeri kepulauan
Dari barat sampai timur diselimuti lautan
Di perutnya nelayan menitipkan harapan
Harapan yang membentang
Di antara butir-butir pasir berhamburan

Negeriku menimbun kekayaan
Rumput dan alga bergoyang-goyang
Bagai tarian bidadari di tengah pedalaman
Semua mata terpaku padanya
Bahkan tak ingin beralih pandang

Ikan-ikan meliuk-liuk membelah gelombang
Melompat-lompat memompa insang
Bagai sirkus di kolam renang
Semua tepuk tangan
Bahkan teriak kegirangan

Garam yang terbenam
Terhampar di ladang penantian
Memutih lalu Mengkristal
Menjadi butiran harapan

Kini, kilau sang kristal memudar
Kembali menyatu di padang hambar
Sebab cahaya baru datang berhamburan
Menjejali dapur penuh keresahan

Lautanku bagai air tawar
Oleh tawar menawar yang berkelakar
Pada ruang sempat yang dibuat sempit

Lautanku menyimpan asin
    Jauh di dasar kedalaman
Lautanku memeram kejayaan
    Jauh di dalam palung kearifan

Duh...duh..aduuuh
    Lautanku hanyut
Ooooh.... oh... ohhhh
    Lautanku tak lagi berdenyut

"Jalan Pulang"

Tatkala meninggi
Harga diri terpaut di awan tinggi
Sampai lupa sedang memijak bumi

Sepanjang ruas yang ditapaki
Kuharap suatu saat nanti
Kan berjumpa jalan kembali
Jalan yang dikehendaki

"Benang Waktu"

Gemercik air tiada henti berbunyi
sementara jangkrik dan kodok asyik bernyanyi
Walau mereka tak pernah peduli
Ada telinga yang berkenan menghampiri
Apalagi menikmati

Malam kian sepi
Meninggalkan hiruk pikuk siang hari
Hingga fajar menyapa kembali

Begitulah lembaran hari
Berputar mengelilingi
Akan terus terpenuhi
ataukah
Mengalir tanpa isi

"Temu Rasa"

Selembar waktu mulai membeku
Merekam jejak muasal yang bisu
Lantas membungkus rindu yang kerap merayu
Pada daun hijau di hamparan syahdu

Pikiran yang terpisah iri dan curiga
Telah terburai bahkan terlupa
Hati yang berlapis gelap dan bangga
Telah tergerus bahkan berpijar cahaya
Jiwa yang terancam dan tertikam
Telah berteduh dan kembali tenang

Hanya itu yang kurindu
Sebab di sanalah kita menyatu

"Menyoal Kopi"

Kali ini bercanda bersama sunyi
Hanya ditemani secangkir kopi

Diam-diam kopi bernyanyi sendiri:
Diriku tak mengenal tamu yg mendekat
Tak mngenal kepentingan yang melekat
Tak memaksa siapapun untuk tercurah nikmat
Tak menghukumi yang bersamanya
Tak menghujat yang di sebelahnya
Bahkan
Tak peduli pada kata yang menilainya

Begitulah secangkir rasa
Terkadang dituduh karena kurang gula
Terkadang dihujat karena tak sesuai selera
Terkadang dihina karena racun yang menumpanginya
Terkadang dibenci karena jejak di lain hari

Tetapi kopi tetaplah kopi
Untuk dinikmati pun disyukuri

"Geser Gusur"

Pagi menjelang siang di pojok warung kopi, datanglah para perwira dengan gagahnya seperti sedang memburu sesuatu. Sebagian memakai seragam dinas, sebagian lagi hanya memakai kaos oblong. Di depan meja kasir duduk seorang anak kumel dan kesal, keduanya saling bertatap mata bagaikan perjumpaan pertama sepasang kekasih. Sementara di bangku yang lain, anak berambut keriting duduk santai dengan pandangan yang tajam sembari mengerutkan kening. Maka mulailah dialog di antara mereka:
“Selamat siang, kok sepi ya?”
“iya Pak, maklum sibuk mencari nafkah buat anak cucu”
“Omonganmu lho, metuek”
“Mesan apa pak?”
“Jahe hangat”
“tidak ada pak”
“Jeruk dingin, atau yang manis-manis lah”
“kalau itu sawang aku ae pak...heehehhe”
“Lho terus yang ada apa dong”
“Akeh pak, lha wong pasare sampeyan gusur gitu”
“Gusur apane, mek mindah thok”
“Lha iku pak jadi bingung kulakan di mana”
“Itu kan masalah sampeyan, aku kan mau mesen minum”
“Iyo meseno wes pak”
“Iyo wes, teh sama kopi ireng”
“Ok pak santai tunggu sambil main catur ae, ono sing wani ta?”
“Lha sampeyan salah masuk pak kalo nanya gitu”
“Iya, ayo sopo sing wani?”
“Kulo Pak, ojo lali carane main lho pak”
“Di sini nggak ada penggusuran lho, maklum catur katanya main utek alias meras otak dengan strategi gitu”
“Ojo mbacot ae, langsung atur dan jalankan”
“Lho kene wes ngenteni kaet mau pak”
“Iyo yo...iki tak atur....hhehehehe”

Permainan catur pun dimulai. langkah demi langkah dilakukan. Seperti biasa suara yang lain ikut mengatur pemain. Sebentar diam, sebentar gaduh. suasana siang itu tak ubahnya seperti berita hoax yang lagi marak di media. Eh kok sampai ke sana ya...hehehhee...

Sesekali kedua belah pihak mengeluarkan pernyataan yang membuat lawannya mati kutu. Terlebih lagi penonton turut andil dalam menambah ketajaman memangsa pihak tertentu. Makan memakan seringkali diperlihatkan agar musuh terjebak dan akhirnya mati. Kendati demikian catur tetaplah catur, permainan yang selalu mempertaruhkan menang dan kalah. Siapa yang menggunakan strategi yang baik dan tepat tentunya akan menang. Namun setelah permainan dimainkan, semuanya kembali melanjutkan cerita dalam satu nuansa yang dinikmati bersama.

Sampai menjelang malam, mereka kembali ke rutinitas masing-masing. Tanpa noda yang terselip di dalam dada.  



"Hadiah Untuk Kalian"

Hari ini tanpa basa basi
Kupalingkan muka darinya
Namun mereka membalasnya dengan wajah bercahaya
Juga dada terbuka

Ketika kuberanjak pergi
Si roda dua menggeliat menggoda
Karena jiwanya mati badannya tak berdaya
Tangan mereka pun bergegas menjamahnya
Penuh suka cita meski noda melekat di mana-mana
Walaupun akhirnya tetap kembali ke tangan empunya

Dalam diam kusadari
Diriku telah didekap kebodohan
Disekap keangkuhan
Dihujam keegoisan
Dilibas keterasingan
Hingga kubersandar di relung sunyi
Menatap diriku sendiri

Tapi berlaksa bait terus kukirimkan
Sebagai cahaya untuk kalian
Yang telah mengantarku pulang
Ke jalan yang kurindukan

Terima kasih...
Untuk selamanya...

"Beranda Kita"

Di balik tenangnya kopi
Tertulis kisah terperi
Tentang rasa yang dijaga
Tentang janji yang dibina
Tentang makna yang ditata
Tentang citra yang diungkap indera
Hingga terbaring di dasar rasa

Akhirnya kita meninggalkan beranda
Dengan warna yang terlukis di dada
Dan mekanisme terpola di kepala

"Meja Bisu"

Seperti sedia kala
Kala rindu melanda
Tangan terbuka merapal mantra
Sampai akhirnya
Bersatu di hadapan meja tua
Tanpa rasa
Tanpa suara

"Angka dan Kita"

Angka tak pernah berkata
Apalagi 'tuk bercerita
Hanya saja 'kan berbeda
Kala suara lain menjelma darinya
Atau
Nafas luar merasuk ke dalamnya

"Nostalgia Meja Bundar"

Lagi dan lagi
Nostalgia ini kita bina

Di atas meja yang sama
Sembarang rasa terjaga
Sekelabat cerita terbaca
Setumpuk asa terekam masa

Sampai akhirnya
Dahaga terbayar tuntas
Dengan torehan berbekas
Bersama jiwa yang meluas
Pun cinta tak terbatas

"Kisah Langit dan Bumi"

Tak perlu pandai
Hanya untuk berbangga diri
Tak perlu perkasa
Hanya untuk berkuasa
Sebab langit yang tinggi
Tak pernah berkata:
"Aku selalu lebih daripada bumi"

"Sajak Cahaya"

Mata di depan kaca
Menembus pandang
Menangkap dunia

Cermin di sekitar raga
Membagi dunia jadi dua
Mencitra sebagai makna

Sementara lensa di tengahnya
Menjembatani saban masa
Berupaya mengada
Dan ber-ada

"Berdiri di Tengah Badai"

Badai Kali ini
mengantarku pada kenangan kala itu
saat kau berdiri tegak di tengah dilema
sembarang mata hanya menelanjangimu
sembarang suara hanya menjeratmu
sementara aku dirajam takut
takut merajang tak berkesudahan

Andai kau tak terjebak di sana
di tengah geming padang gulita
pasti! senyummu merekah seperti sedia kala
senyum sempurna seperti purnama
yang dirindu oleh penunggu surga

Tapi kuyakin badai kan berlalu
seperti masa lalu
yang tegar menghadap masa depan

"Sajak Ikat"

Ternyata....
Teramat nyata
Lantaran: ada, jeda juga pola

"Bingkisan Perubahan"

Duh.. duh.. aduh
Ada yang aneh kala kau muncul
Kau datang secara tiba-tiba
Membawa bingkisan bertuliskan sabda
Di dalamnya terpatri khazanah bernapaskan perubahan

Sebenarnya untuk siapa saudara?
Namun kau hanya tersenyum dalam diam
Laksana rahasia di balik mantra

Dih.. Dih.. Dih
Sepertinya kau telah berjumpa mimpi-mimpi
Atau sedang dirundung rindu akan sesuatu?

Dari berlaksa-laksa kata
yang bersanding rupa tokohnya
Dan bertakhta latar empunya
Terpancar energi tak biasa
Sampai-sampai lidah tak kuasa berucap apa-apa

Walaupun begitu
Semoga semesta bergandeng tangan bersama-sama

Ternyata memang bingkisan istimewa...

Kini bingkisan itu kan terbuka
Tepat di awal masa tercipta
Entah isinya apa
Namun harapan nyata melekat padanya

Dalam diam kau pun hanya tersenyum
Sembari membukanya pelan-pelan
Dan ternyata...

"Sepertinya tak berhenti sampai di sini"

Begitulah pesan singkat
Yang terbaring di sana
Dan matamu pun mulai berkaca-kaca
Sebening mata air tanpa noda
Bahkan kian manja
Bagaikan bayi di pelukan ibunya


"Sowan ke Rumah Sendiri"

Apalah hamba di belantara semesta
Ketika hanya dilihat dari satu sudut
Padahal sisi lain pantas dirunut

Siapalah daku di rimba dunia
Ketika hanya dipandang sebelah mata
Padahal indera tak cuma satu

Mulai membuka diri
Dari tabir yang menyelimuti

Kenapa saya dikira begini
Kalau sekedar terpaut atribusi, juga teori
Padahal tak segalanya dapat terkira

Bagaimana pula diri mengaku sejati
Kalau bertolak melawan yang hakiki
Lantaran seringkali luput diri

Tabir hilang seketika
Dalam taman kilauan cahaya...

"Berebut Nomor Urut"

cuit... ciii.. cucuit..
sorak sorai bergemuruh
terpental dari dinding yang tersentuh
ketika paslonnya meracik teluh
di hadapan sayap yang tengah bertaruh

tuh, ini calonku, pantas peroleh nomor satu
   sembari menepuk dada dengan bangga
nah, itu calonku, cocok pegang nomor dua
   sembari memberi hormat dengan tunduk kepala
wah, dia calonku, tepat sekali dengan nomor tiga
   sembari menyampaikan salam dengan tepuk tangan

hore.. rehore.. horere
   calonku yang bakal menang
   suaranya pasti melampaui perhitungan
ya ding.. eh dong.. dung
   calonku tak mungkin kalah
   pemilihnya pasti melebihi perkiraan
duh.. aduh.. aduduh
   calonku tidak akan dapat diimbangi
   pencoblosnya pasti jauh di atas harapan

nomor urut... oh.. nomor urutku
kau memang cukup hebat
bikin urat kepala enggan mengkerut
bikin semangat cepat melesat
bikin hasrat dapat menjerat
bikin tenang kan menjadi berang
bikin awalnya rekat kembali bersekat
bikin yang lumpuh kan segera pulih

Di sisi lain sang calon terus memasang badan
memainkan peran
meneruskan percaturan
hingga samar-samar mana peran
dan
mana kenyataan

Sementara angka-angka mulai berbicara
dengan berlaksa tanda yang terbaca
dengan bahasa yang mudah diterka
hingga beragam tafsir bebas berkelana
hingga beraneka cara bebas mengembara
di antara kepastian yang tak kunjung tiba

Dan sampai pada akhirnya
ditebas oleh sebilah waktu
yang seringkali tak pandang bulu




"Jamuan Literasi"

Tatkala mentari menyingsingkan lengan
Kita bersila bersama di tengah sepetak ruangan
Menikmati nyanyian kerabat suara yang didendangkan
Sembari mencicip jajanan lokal yang disuguhkan

Tak terasa nasib literasi sedang diperbincangkan
Tak terasa masa depan literasi tengah didiskusikan
Dan tak terasa harapan literasi telah digoreskan

Hingga literasi membumi
Dan tak terpaut di awan tinggi

Di tengah ruangan itu
Melodi dan puisi bersatu dalam lagu
Seakan enggan dikoyak-koyak waktu

Di balik tembok itu
Aksara dan angka asyik bertemu
Seakan enggan dituduh tak padu

Wahai literasi
Hiduplah terus hingga nanti
Jangan sampai kau mati

"Negeri Lapor"

Negeriku, negeri lapor
Orang-orang bebas melapor
Lapor ah lapor bagai hujan meteor
Lapor ah lapor bagai perang teror

Negeriku, negeri lapor
Semangat pelapor membara seperti kompor
Sontak terlapor merasa kena bakar
Sehingga tutur kotor pun terlempar
Sebab jelaga di dada terlampau berkobar

Negeriku, ya negeri lapor
Setumpuk laporan mengantri di meja kantor
Sederet nama pun mendadak tersohor
Seakan bias ujaran menjadi virus menular
Dan merusak akar mengikis akur

Lapor eh lapor
Karamnya jamuan berpikir
Lapor eh lapor
Kandasnya hidangan berkelakar

Andai namanya berganti negeri tak lapor
Pasti lapor tak jadi rekor
Sebab akan butuh banyak rakor
Sebab nantinya tambah molor
Sebab bakal bikin tekor

Negeriku, memang negeri lapor

"Anak Kembala"

Di tengah asrinya sabana
anak kembala berbaring berselimut angin
Seluas pandang tumbuh ilalang di tepian
Di sana sapi, kambing, kuda, dan domba  bercengkerama
Menunduk pada hijaunya alam

ketika lamunan sang pengembala melayang jauh
Mimpinya menari-nari menyibak padang
Lalu mengendap di daun-daun yang dikunyah hewan
Wajahnya girang sebab perut asuhannya kenyang

Sesekali mereka bersendawa
bertukar cerita sembari melahap makanannya:
"Tuan kita baik ya, sedia menunggang waktu hanya untuk mengasuh kita", kata sapi betina
"kita tak pantas kurus supaya dia lebih terurus", sahut kambing muda
"iya benar, kita harus bertenaga supaya tak kalah sama motor milik temanya", tangkas si kuda
"Sudahlah, santai saja, yang penting sesuai harapan keluarganya", timbal si domba

Anak kembala tiba-tiba terbangun
kemudian menggeliat seraya berkata:
Ayo! bersiaplah, kita kembali ke rumah
Jangan terlalu rakus nanti kalian bisa muntah
Rumput yang lain adalah jatah tetangga sebelah

Sampai jumpa... sabana...



"Negeri Tretetet"

Umtretetet
Kata-kata yang buncah seketika
Kala matamu menatap layar kaca
Sambil menggeleng-gelengkan kepala
Masih terus kau merapalnya

Karena terheran
Kuberanikan diri tuk bertanya:
Hai, Saudara, kenapa kepalamu begitu?

Umtretetet
Negeri kita semakin aneh...

Oladala
Aneh-aneh saja kau ini
Padahal tiada yang aneh dengan negeri ini
Mungkin pikiranmu yang aneh
Atau
Memang yang tengah kau pikirkan yang aneh

Umtretetet
Yah..yah..yah..
Aneh ya!

Hemmm...
Keduanya gelengkan kepala

"Kalau hanya.."

Kalau hanya bungkus yang kau beri
   Lantas akan terisi dengan apa?
Kalau hanya isi yang kau cari
   Lantas akan tertutup dengan apa?

Bukankah pada keduanya
tersimpan suatu rahasia?

Kalau hanya dunia yang kau puja
   Lantas di alam baka kan peroleh apa?
Kalau hanya akhirat yang kau damba
   Lantas persiapan di duniamu bagaimana?

Bukankah keduanya terikat oleh suatu sekat?

Iya
Kalau hanya...

"Pesan dari langit"

Menerka senja
Pesan awan di balik hujan

"Patung Gus Dur"

Di tangan sosok pemahat kayu
Sebatang jati jelma patungmu
Kau ditata olehnya sedemikian rupa
Bagai menimang-nimang anaknya
Sehingga pukau berlaksa-laksa mata

Suatu waktu, ketika dibuka bagi umum
Beragam muka menatapmu yang terus tersenyum
Kupu-kupu dan burung-burung
yang bertandang ke seberang taman
Merasa iri dengan warna warni orang yang berdatangan:
"Kok bisa rukun dan bersatu ya" tandas sang burung
"Seperti pelangi di sayapku saja" sahut kupu-kupu yang sedang terbang
"Andai, kita seperti mereka, taman pasti tak bakal murung" ucap anak burung

Ketika kerumunan berteduh di samping patung
Sang pemahat memilih bersandar di bawah pohon
Sembari melantunkan 'syiir tanpo waton'
Tiba-tiba air matanya jatuh
Katup suaranya terbuka begitu pelan: "Syukur kau datang"

"Jembatan waktu"

Bulan berjalan begitu cepat
Purnama termangu di ujung tongkat
Dentang arloji masih presisi dan tepat
Namun langkahku serasa tersendat-sendat

Kalender terbata-bata menerangkan semua
Semenjak januari sampai desember menua
Beraneka warna terekam ingatan purba

Parade kisah dirundung kasih
Rajut cerita dirubung berita
Pesona rupa ditumpang citra
Balada lama didekap mala
Catatan baru disergap haru
Deretan sarat diseret hasrat

Tatkala musim hampir berakhir
Tak sengaja kita bertatap muka
Lantas gelas waktu ikut berkelakar
Di atas meja rindu peraduan rasa

Seperti yang dulu kau selalu haus tema
Setali topik melebar ke mana-mana
Senggol kiri sikut kanan sudah biasa
Entah berapa kata telah kau baca
Entah berapa orang telah kau anggap saudara
Entah berapa kali aksi telah kau jalani
Entah berapa cara telah kau coba
Entah berapa karya telah kau cipta
Entah, kau masih seperti dulu

Iya, kau masih sama, saudara
Meski telah lama berkelana
Meski telah banyak ornamen yang berbeda
Meski telah bertumpuk gelar di dada
Meski statusmu sudah di atas rata-rata
Kau memang masih sama
Iya, kau tetap sama

"Akademia 2"

Di seberang sungai pinggiran desa
Berdiri gedung tua beratap segitiga
Kemiringannya serupa menara pisa
Di halamannya berkibar bendera pusaka
Warna dindingnya pudar dimakan usia

Untuk sampai menyentuh gerbangnya
Anak-anak berangkat semenjak pagi buta
Berjalan melewati setapak berhasta-hasta
Kadang-kadang duri-duri bersembunyi Merasuk memeram diri dalam kulit ari
Kemudian membusuk seperti erupsi gunung berapi
Kadang-kadang tersandung kerikil dan batu
Memetakan luka menganga juga membiru
Kadang-kadang terguyur hujan tersengat panas
Meninggalkan belang dan demam mengganas

Semuanya datang kemudian hilang
Seperti siklus berulang-ulang

Namun terus tegar dan sabar
Karena imam syafi'i pernah berkata:
"Jika tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka terimalah perihnya kebodohan"
Karena memang semuanya perlu proses

Ada yang memikul tulang
Melawan badai gelombang
Walau nyawa yang akan hilang
Ada yang mengejar ijasah
Menukar nominal dengan kertas
Supaya status lebih berkelas
Ada yang menambatkan diri
Mengabdi tiada henti
Meski tetap bersanding sepi
Ada yang membusungkan dada
Merasa serba mampu segalanya
Sementara yang lain dianggap kecambah muda
Ada yang merunduk seperti padi
Meskipun sudah lebat berisi

Dentang waktu berdengung lagi
Dan terus berulang kembali...

Bertahap-tahap dan berkelanjutan
Hingga kembali ke peraduan

Pesan Rindu

Benih cahaya di depan mata
Di sanalah terbitnya pelita
Muhammad bin Abdullah namanya
Pencerah untuk alam semesta

Ketika waktunya tiba:
Orang-orang berduyun-duyun merayakan hadirnya
Lantunan shalawat menggema dimana-mana
Getar asma terdengar sampai  angkasa
Jagat raya sungguh mendambanya

Desau angin bercerita:
Umat islam sedang berlomba-lomba
Menghadap Tuhan yang mahaesa

Pendulum waktu berdenyut lembut
Selembut kalimat jelma azimat

Andai kami merupa sepertimu
Sudah persiskah dengan perangaimu?
Andai kami mengklaim sama denganmu
Sudah persiskah dengan ajaran yang kau bawa?
Andai kami berpakaian seperti yang kau pakai
Sudah sesuaikah dengan tuntunan yang kau beri?
Andai kami mengaku sebagai sebenar-benarnya pengikutmu
Sudah murnikah penghambaan kami kepada TuhanMu-??

Sudah sampai di sini
Sudah pantaskah syafaatmu bersama kami?

"Halaman"

Nada sendu nyanyian rindu
Dari seruling bambu yang mengalun syahdu
Di halaman rumah tempo dulu
Tua muda pria wanita duduk bersama
Bercanda ria bertukar cerita

Sementara alam pun bernostalgia:
Kicauan burung-burung yang bertengger di ranting pohon
Bersahutan dengan Alunan bunyi dari gesekan dedaunan
Bertalu-talu laksana simfoni rindu
Di konser masyhur nan merdu

Lantaran rindu termangu di ujung rambut
Memori yang bersemayam kembali teringat
Seketika air mata mengalir pelan nan lembut
Kudekap erat waktu yang tersekat
Seakan diriku kembali sakau berat

Saat jiwaku terjerembab seketika ku teringat
Bahwa perpisahan dan perjumpaan cuma sesaat
Bahwa lupa dan ingat bergandeng erat
Bahwa paradoks adalah keniscayaan yang melekat: pun mengikat

Oh halamanku
Aku sungguh merindukanmu
Masihkah kau seperti yang dulu?

"Terasing dari Tanah Sendiri"

Ketika kubuka mata pena
Sinar surya telah beranjak dewasa
Sedang badanku masih tak berdaya
Lantaran terjebak mimpi di alam sana

Segaris cahaya menjalar dari sela jendela
Sedang diriku tengah berselimut gelap
Bersahabat dekat dengan kamar persegi yang pengap

Ketika media sosial berdering kencang
Badanku terbang melesat kencang
Jari jemari meraba ke tiap lekukan
Maka dunia maya terasa lebih nyata
Ketimbang ruang bertatap muka

Jauh di dalam sana
Sosialita tampak akrab dengan tetangganya
Entah belum atau telah dikenalnya
Entah dari lawan atau kawannya
Entah dari kaum yang sama atau berbeda

Jauh di dalam sana
Cela mencela dan tuduh menuduh jadi sarapan biasa
Paksa memaksa seperti lebih terasa
Menghukumi
Berebut benar menjadi menu utama

Jauh di dalam sana
Sebagian orang menjual asetnya:
Sebagai muara menumpuk harta
Supaya bisa ongkang-ongkang kaki di hari tua
Sebagian lagi menjual diri dan kerabatnya:
Sebagai penutup malu status keluarga
Sebagai pemuas hasrat semata
Sebagai penebus biang lapar dan dahaga
Sebagian pula berbagi budaya, berita dan cerita:
Sebagai penambah wawasan semata
Sebagai pengendali isu dan wacana
Sebagai gerbang arus budaya

Jauh di dalam sana
Yang jauh serasa dekat
Yang dekat serasa jauh
Akankah berlaku bijaksana atau malah teperdaya?

Usai menutup layar kaca
Kumelangkah pergi ke alam realita
Menghabisi hari di ruang kerja
Menelusuri waktu dengan karya
Di tengah dinamika masyarakat yang ada

Karena mutiara tidak terbentuk dengan sendirinya
Kecuali atas kehendakNya

"Akademia"

Terik hari masih menganga
Memeram diri di lapis berongga
Di antara tas dan buku yang kubawa
Di dalam pena yang penuh tinta
Di lembaran yang terukir kata-kata
Di punggung batu dan kayu yang tertera rupa dan tanda
Di pakaian dan jejak yang terbaring warna dan bahasa

Dengannya aku merangkai ilmu
Mengasah akal sebagai modal
Supaya amal jelma bekal

Saban hari memasuki kelas
Menyemai diri di ruang luas nan bebas
Di hadapan lembar papan pengantar
Di atas bangku setegar tungku
Di bawah atap peneduh acap

Dengannya aku menjelajahi semesta
Memintal karya dari serpihan cipta
Menjalin karsa dari percikan asa
Merajut daya dari pecahan kuasa

Usia tak akan bertahan lama
Namun masih ada waktu tersisa
hingga menutup usia
Sebab tanpa akal: bakal hampa
Sebab tanpa ilmu: tidak bermakna
Sebab tanpa amal: tak akan berguna

"Sepedas Cabai Rawit"

Akulah si mungil dari sebidang tanah
Yang bakal menjarah manismu ketika lengah
Melumat bibirmu hingga memerah
Walau kutahu kau tak segera pasrah

Kala kulitku serupa lumut
Kau lumat diriku sembari dihuni takut
Ha hu ha hu tak lekas buat kau terhasut
Ha hu ha hu tak kunjung buat kau bertaubat

Kala bajuku berubah merah: cerah
Kau kunyah badanku walau sedikit resah
Ha hu ha hu tak cepat buat kau pasrah
Ha hu ha hu tak langsung buat kau kalah

Namun ketika musim tak bersahabat
Kami melesat secepat kilat
Seakan tengah mengendarai roket
Padahal duduk setia di dalam angkut

Bakul-bakul bimbang keheranan
Orang-orang bingung tak karuan
Bumbu-bumbu linglung tidak sepadan
Gudang-gudang pangling kelabakan
Badan dan istana sontak kepanasan

Si mungil bergurau kelewatan

Tatkala cabai muda senang bergaya
Kami geleng kepala seperti manusia
Tradisi mana yang tengah dibawa:  penuh bangga
Padahal kami tidak berbuat apa-apa

Orang tua dirundung gelisah
Sebab khawatir anaknya salah arah
Rukun warga tampak terkekeh-kekeh
Sebab takut tetangganya sumber fitnah
Pengampu dinas bergegas pasang pasukan ke ujung galah
Sebab tak sudi daerahnya kena masalah

Si mungil jelma rambu peringatan!

Untung si mungil hanya beralih warna
Bilamana dia berubah rupa:
Tak kan dikenali seperti sebelumnya
Karena boleh jadi sekedar menutup luka
Karena mungkin sebatas mengelabui mata
Karena bisa pula terbungkus sesuatu di baliknya
Karena mungkin akan jauh lebih berbahaya

Bilamana dia berubah rasa:
Tak kan dinikmati seperti sedia kala
Sebab pedasnya tak lekat padanya
Sebab lidah telah akrab dengannya
Sebab jemari petani rela menantinya
Sebab pasar tumpah merindukannya

Hai mungil jangan nakal
apalagi bebal
Meski kau pedas
tapi kau tak cukup ganas
Seganas kami yang cepat panas

Maka diamlah di sini
Bersanding serasi dengan kami
Yang terpaku tertegun sepi
Mengharap kau kembali

"Sajak Gus Dur"

Kala hari sedang terik
Pengembara cilik bernyanyi asyik
Berarak epik bernada apik

Di tengah rimba dia berjumpa si Puna:
Hai kisanak
Hendak Kemanakah paduka beranjak?
Pakaianmu kumal tak seperti artis terkenal
Wajahmu asing bagai turis keliling
Bawaanmu sedikit seperti orang pelit
Persis nasib rakyat yang terjepit oleh harga yang melangit
Atau kau memang sengaja tidak mau terlena

Apakah kau seorang pengelana?
Sepertinya jejakmu ada dimana-mana
Namun namamu sunyi dari berita
Rupanya kau tak peduli citra
Padahal banyak yang mencarinya
Entah jiwamu seperti apa
Tapi lihat pakaianmu hanya menutup raga

Wahai tuan
Apakah kau tidak punya jawaban
Atas sekian pertanyaan yang kuhaturkan?

Kenapa kau irit bicara?
Padahal lidah bisa menjadi senjata
Padahal dengan sepatah kata, dunia bisa goyah: pun patah
Padahal dengan setumpuk cerita, belantara kepala di bawah kuasa
Padahal sekedar bersumpah mampu merubah sejarah
Padahal hanya bergirang kalimat, kita dapat bersekat-sekat: pun saling sikat
Padahal diam tak cukup membalik kelam

Bagaimana kau menjawab?
Sedang kau enggan berucap

Gus Dur membuka mulut
Lantas menimpali dengan lembut:
Gitu aja kok repot

Duh...bagaimana tidak repot?
Sementara Saudaraku semakin geliat
Mencicip bukan miliknya meski sangat tertutup rapat
Kerabatku merasa dialah segalanya
Di luar porosnya harus mengitarinya
Tetanggaku memintal berlaksa-laksa siasat
Supaya yang lain turut tersesat
Kerabatku pasrah menerka anugerah
Padahal ajal seluas sepetak tanah

Duh...bagaimana tidak repot?
Saat lapar dan dahaga meronta-ronta
Angin sebelumnya rela malah berubah tega
Saat hasrat datang menggoda
Badai ingin sekuat putaran angin
Saat ruang diukur dengan uang
Topan ganas setajam kerikil cadas
Saat sudut sempit dibuat terjepit
Udara bebas sesulit menarik nafas

Gus Dur hanya melempar senyum simpul
Kemudian membalas dengan simpel:
Gitu aja kok repot

Sepertinya kau sedang dahaga
Mungkin kau lapar jua
Nikmati sajian yang ada di sana
Jangan lupa bersyukur dan berdoa

"Duh Gus, kok repot-repot"
Lengking suaranya bergeming lembut
Namun badannya melesat cepat

Gus Dur tiba-tiba berkata:
Kalau kau sibuk, kapan kau sempat
Kau ini bagaimana atau aku yang harus bagaimana
kata gus mus dalam sajaknya

"Gadis Penunggu"

Kududuk di atas kayu tua
Menunggu hujan tak kunjung reda
Dan kau hanya sedia
Menata piring di atas meja

Ketika pendatang berhamburan
Kau bergegas menukil pertanyaan
Mau pesan apa tuan?

Senyummu menabur berlaksa kesan
Sebab racikanmu terselip pesan
Teduh wajahmu menebar tenang
Sebab jamuanmu tertudung riang

Tatkala pengelana telah berlalu
Parasmu masih tertungkup malu
Padahal kaulah pembilas pilu
Padahal kaulah pembasuh ragu

Ketika sunyi bersandar di bangku
Kau tertunduk menatap buku
Berlembar-lembar kau telusuri
Berbaris-baris kau dalami
Seakan-akan kau dan buku telah menyatu

Sementara aku hanya termangu
Melukismu melalui bait-bait sepi
Lantaran tiada sanggup menegurmu
Andai nyanyian hatiku sampai padamu

Kuingin hidup bersanding denganmu
Hanya bersamamu
Hingga ajal memelukku

"Isyarat Malam"

Di bawah lampu temaram
Khayalanku mengeram
Terbayang parasmu yang rupawan
Anganku terbang melintasi awan:

Kau bagaikan isyarat kondang
Di panggung sunyi yang kugoyang
Di atas sana kau terekam
Oleh selaksa mata yang memandang

Ketika mata elang menikam tajam
Kau mengelak mengibas senyuman
Bagai sayembara di atas gelanggang

Suara melayang-layang di relung malam
Desau angin terkesiap kencang
Daun-daun pun gugur beterbangan

Segera kurangkul dirimu ke balik layar
Lantas melesat serupa kelelawar
Berbalik arah menjauhi relung sunyi
Karena dawai pagi membangunkan mentari

Seketika jejak embun tersipu malu
Memandang apus kecupku pada wajahmu
Lantaran nyanyian alam yang bertalu-talu
Menegur risauku tuk lekas berlalu

Sekarang bangunlah dari tidur panjangmu
Kemudian jernihkan jiwamu
Dan beningkan sukmamu
Jangan terlena dengan panggung malam itu
Jangan terbuai oleh ombak yang menderu

Masa depan telah menunggu
Hingga waktu berada di belakangmu

"Sepasang Sepatu"

Ikatan antara Aku dan Kau
bagai sepasang sepatu
Tak sama namun serupa
Selalu beriringan meski tak bergandengan
Kiri dan kanan tak saling meniadakan

Ketika langkah kaki menapaki bumi
Menelusuri arah yang pasti
Kita selalu bergerak silih berganti

Kau dan aku pernah terpisah
Oleh rindu dan cemburu
Kala itu kau terlempar
Berjarak karena biak berarak

Ku mencarimu di setiap sudut
Ke balik padang yang tak tembus pandang
Ke ujung tebing yang mendulang hening
Ke dalam pelukan parit-parit sempit

Ketika waktu rela menunggu
Bersimbah ragu dalam sebuah regu
Saat itulah putus asaku merayu
Tetapi kuyakin pasti kan bertemu

Sekian lama kucari akhirnya bertatap jua
Sementara rintik hujan tak kunjung reda
Namun hadirmu laksana lingkar warna
Ketika pelangi datang merubah suasana

Kau sedialah di sisiku
Sebagai cahaya bagi gelapnya malammu

Aku adalah ruas lain bagimu
Seperti ketika cermin ada di hadapanku
Kau sebagai bayangnya
Sedang aku menjadi bendanya

Dan akhirnya akan menyatu
Dalam satu waktu

"Di Penghujung Waktu"

Entah sudah berapa lama waktu berlalu
Semenjak berjumpa kala itu
Puncak semeru menjadi saksi bisu
Akan janji setia untuk bersama selalu

Desas desus terselip di antara perdu
Ketika padang ilalang bergerak tak menentu
Sedang rumbai pagi masih menunggu
Di sepanjang tepi sunyi sebuah ranu

Tatkala burung-burung berkicau
Desau angin berkabar pedih nan sendu
Saat itulah ragu beradu
Mengetuk segenap relung yang pilu

Nun jauh di dalam taman impian
Kupu-kupu elok nan menawan
Serupa pelangi kala air dan sinar tengah berpelukan
Yang menoreh keindahan dan harapan

Ketika detak jam terhitung hari
janur dan selaksa mata akan bersaksi  bahwa ikrar dan lingkar di jari sebagai tali suci
Bagi dua insan tuk menjalani sepenuh hati
Menghimpun masa lalu, kini dan esok hari

Di penghujung waktu keduanya telah bersama
Sembilan dan dua belas sebagai bingkainya
Berkelana di rimba dunia yang hanya sementara
Untuk dapat hidup bahagia dan bergelimang sayang, juga sejahtera
Demi merengkuh nikmat dan ridho yang mahakuasa

Ya Robbi
Hanya kepadaMu kami kembali

"Rumah Sementara"

Kucari diary yang telah lama terbaring di lemari
Saban halaman kubuka perlahan
Bagai menimang-nimang seorang bayi:

Jauh di dalam sana, selaksa mimpi
Yang telah dan akan kugapai
Terukir indah nan rapi

Ruas jariku bergerak lembut
Dari satu huruf ke huruf
Melompat dari kalimat ke paragraf
Spasi dan bunyi kurekam dalam-dalam
Hingga jiwaku terbang di antara angan-angan dan kenyataan

Sampai ku berhenti
Tepat di halaman dua puluh empat
Di mana terpaut janji suci
Janji untuk sehidup semati

Tiada kusangka itulah hari ini
Hari yang telah lama dinanti-nanti:

Bagiku altar sudah terlampau sunyi
Ketika kami duduk bersebelahan
Sedang ayat suci sedang dilantunkan
Sebagai cahaya di lembar penyatuan

Kala sebuah cincin melingkar di jari
Tak terasa air mata membasahi pipi
Sementara saban mata yang ada Masih merekam dari segala sisi

Suara-suara telah seirama:
Halal, halal, halal
Berselang bunyi dengan nada berbeda:
Sah, sah, sah

Awal dan akhir dari mimpi-mimpi
Bergerak dari titik ini
Mimpi berpendar dari dunia imajinasi
Balik ke alam nyata yang hendak dibangun kembali

Detik demi detik akan disusuri
Kadang kala badai menyusup melalui ventilasi
Mengusik seluruh isi
Menerpa semua sisi
Tiang dan panji direngkuh sepenuh hati

Namun kala angin sepoi-sepoi menyelimuti
Teguh berdirilah dalam menghadapi
Sebab boleh jadi terselip cobaan
Terukir pesan-pesan yang hendak disampaikan

Hari berganti hari kan dilalui
Bersama-sama meniti langkah
Berharap sakinah dan mawaddah juga warahmah
Dari Tuhan mahapenyayang lagi pemurah

Masa ke masa silih berganti
Di bawah atap sunnah berdinding ibadah
Berharap berkah penuh hikmah
Walau hati dan laku berpindah-pindah
Hingga jiwa dan raga berpisah terbaring lemah berkalang tanah

Ya ilaihi rabbi
Hanya kepadaMu kami kembali

"Dari Hulu ke Hilir"

Tengah malam menjelang fajar
Kaum bersarung datang berduyun-duyun
Menanggalkan kemul berbalik arah menuju surau
Surau sederhana bergaya lama
Di sanalah mereka berkumpul begitu lama

Lama menimba ilmu dengan bercengkrama bersama
Bersama-sama menangkap suara
Suara hati dan ilmu sang kyai
Kyai yang meneruskan ajaran nabi
Nabi terakhir yang kita teladani

Wajahnya berseri-seri
Seperti bunga di musim semi
Tidak seperti kami yang hanya terberi
Oleh ingin yang memoles diri dengan warna warni

Kami hanyalah kaum yang pandai mengaku
Merasa Dekat dengan sang kekasih hati
Yakni manusia biasa yang memang benar-benar manusia seperti kami
Ketika dihitung masa, dirunut sanad engkau terlampau jauh dari kami

Di sisi lain kami laksana ranting ke sekian
Dari selaksa cabang yang merenggang meninggalkan batang
Dari terusan yang mengalir dari hulu ke hilir
Di tengah perjalanan berbaur dengan batuan, limbah dan lumpur

Kami latah bersumpah atas nama ajaran yang kau bawa
Lantaran sebagian kitab telah kami baca
Karena rasanya semua ibadah sudah terlaksana
Sebab sepertinya kami di jalan yang sama

O sang pelita
Kaulah cahaya sehangat purnama

Kami begitu bangga akan pesona dunia
Merasa bangga selama berkuasa
Merasa mulia ketika dipuja
Merasa hina jika tidak punya apa-apa
Merasa hebat walau sedang tersesat
Merasa hidup selamanya padahal sedang lupa

O baginda shalawat serta salam bagimu
Kami sungguh merindukanmu

Engkau panutan, sementara kami sekedar simpatisan
Engkau panduan, sedang kami hanyalah partisipan
Engkau lentera, namun kami cuma pembias cahaya
Engkau memanusiakan manusia, tetapi kami menistakan sesama

Ya kekasih Allah
Akhlakmu luhur ketimbang sekian jiwa yang terlahir

Akankah syafaatmu menyertai kami?

"Simfoni Pagi"

Kali ini kubicara melalui butir embun
yang melingkar di daun
Yang membeku bersama sunyinya malam

Di panggung yang sepi
Ayam-ayam mulai bernyanyi
Bagai simfoni di persimpangan malam dan pagi

Sementara lantunan jangkrik di semak belukar
Bergetar-getar bagaikan tarian senar gitar

Mereka berjumpa di badan suara
Kemudian menyulam irama jagat raya

O talas yang tak tersentuh basah
Lihatlah mutiara pagi mulai berseri
Tatkala bening berpendar
Lalu menyentuh jiwa yang keruh
Komposisi terus berganti
Hingga keduanya kembali

O rumput yang bermain bersama serangga
Menari-nari ala pesta dansa
Dengan tegar melepas nafas segar
Sementara di belakang sana
Asap mengepul tiada terkira

Pipa-pipa sedang berdendang:
Paru-paru hutan tinggal separuh
U lea u lei o le
Separuh lagi sudah ditaruh
U lei u lea u le

O kumbang yang bertandang meninggalkan sarang
Menuju istana utama: mahkota bunga
Dengan riang penuh suka cita
Sari-sari kini bertaruh di ujung paruh
Mencecap manis terkuras abis

Butir-butir gula bagai paduan suara:
Manismu tak semanis tebu
E ule lei u Leo
Habis sudah sepah jadi sampah
E lea ule a leu

Mentari hanya tersenyum lebar
Sedang semburat cahaya tampak tegar
Kala suaranya terdengar
Namun simfoni pagi tertidur
Berpendar lalu pudar



"Hari H"

Jauh-jauh hari siapkan diri
Ketika pendulum waktu berlari:
Perayaan hari-hari besar bertamu lagi

Sorak sorai begitu ramai:
Hore...hore..hore...

Anak-anak berlari-lari kesana kemari
Wajah mereka berseri-seri
Bahagia tiada tara
Duka lara seakan tak terbaca

Itulah di negeri kami...

Sementara di negeri seberang
Anak-anak masih berjuang
Mencari riang yang hilang
Sebab perang masih meradang

Pelor senapan datang bagai angin topan
Rudal jatuh seperti rintik-rintik hujan
Bom hancur sekitar pun lebur lalu terkubur
Ranjau tanam bak sedang bercocok tanam

Begitulah balada nun jauh di sana..

Andai hari biasa tak berbisa
Tak seperti ular yang haus menikam mangsa

Andai jiwa masih lebih berharga
Dari sebarel minyak dunia
Dari secangkir air pelepas dahaga
Dari selembar kain yang menutupi raga
Dari sebongkah aksesoris penghias citra
Dari segenggam makanan penambah tenaga
Dari sebaris kata pelengkap fatwa
Dari seuntai ideologi pengikat dunia

Dalam hati bergejolak jua:
Ah, sepertinya kami terlalu mengada-ada
Bisa berdiri pada hari H
Sudah sangat luar biasa
Apalagi bisa menghamba pada Tuhan yang mahasuci
Kala nuansa seperti ini

Apakah kami terlalu bermimpi?
Berharap api lekas mati
Berharap padi segera berisi
Berharap tembok masih berdiri tegak
Berharap uluran tangan bukan dipermainkan
Berharap lelap tidak didera kalap

Ya Robbi 'izzati
Kami yang berdiam di sini
Melalui bait-bait sunyi
Berharap kalian seperti kami

Akankah selalu seperti ini?

"Kembang Wangi"

Malam serasa berbeda jika kau ada di sana
Kau Sembunyi di balik buku yang kau baca
Ku hanya diam seribu bahasa
Ingin kueja kata-kata yang kau baca
Agar aku mengerti apa yang sedang kau rasa
Namun semakin ku mencoba
Diriku tak kunjung bisa menerka

Kau memang seperti mawar berduri
Semakin ku dekati, durimu kian menyakiti
Namun wangimu selalu bisa kunikmati
Walau aku tiada pernah mengerti
Laksana sedang sakau di atas kesadaran diri

Pagi serasa berbeda kalau kau ada di sana
Kau Sembunyi di balik laku yang cenderung kaku
Ku hanya terpaku bagai membatu
Namun sederhanamu selalu bisa buatku membisu
Walau ku tak kan pernah tahu
Bagai terbidik pelor tajam sang pemburu

Kau bagai fatamorgana di jalan yang mulus
Semakin ku dekati, bayangmu seakan-akan mulai terhapus
Namun hadirmu sungguh nyata
bagai kapur barus yang belum tergerus
Walau terkesan putih mulus
Seperti bayang-bayang yang gamang
Tuk lekas membekas paras yang telah terlepas

Di mana pun kau berada
Kau seperti paradoks yang selalu terjaga
Meski berada di sisi berbeda
Kau seperti pembeda di tengah gelap dan sunyinya rimba
Ketika padang cahaya sudah tak tertera

Ketika kurangkai semua
Kau telah tiada
Ketika kujalin yang tersisa
Kau seolah menjadi sia-sia
Ketika hilang seketika
Kau menjadi bayangan yang nyata
Lenyap nan fana

Hidup di manakah kita?

Tersiar kabar melalui dunia maya:
Publik ramai tunjuk sana dan sini
Emosi buncah bagai erupsi gunung berapi
Melahap segala yang dijumpai
Lantaran Kata-kata tanpa ekspresi
Sebab tanda-tanda tanpa bunyi
Tersebar melalui suara dan frekuensi
Sampai menunggangi kendali hati nurani

Seketika celah-celah terbuka lebar
Selebar lubang antara anyaman pagar
Namun suara-suara masih terdengar
Dari lidah dan bibir yang bergoyang
Lalu menusuk telinga yang sembarang menangkap getar
Kemudian angin genit pun tiba-tiba mengusik sabar

Kini nasi telah menjadi bubur
Citra yang gugur umpama daun pada musim gugur
Darah daging saudara telah hancur lebur
Dilumat badai sekelebat kilat bergemuruh guntur

Sekarang sudah terlanjur terlempar
Ke dunia luar yang sungguh liar
Yang Jauh berbeda dengan layar kaca Itulah dunia kita, realita
Dunia yang penuh dengan kata, tanda, suara, etika, dan semua yang ada
Dan yang telah tiada

Keduanya boleh jadi berubah semaunya
Bisa jadi merubah segalanya

Hidup di manakah kita?

"Tolonglah Kami"

Jangan biarkan kami terlena
Lega sewaktu berlaku tega
Bangga bergelimang dosa
Tenggelam dalam samudera nista
Merenggut nyawa yang tak berdosa
Bahkan menghalalkan segala cara
Hanya untuk menguasai yang fana
Bukan tuk ridho sang pencipta

Maka tolonglah kami
Dari pikiran yang tak terisi
Dari laku yang keji
Dari jiwa yang tidak murni
Dari raga yang hilang kendali
Dari hati yang mati

Hanya itu yang kunanti
Cintai dan ridhoilah kami

"Menyusuri Jejak"

Perjalanan adalah untaian pengalaman yang mengisahkan suatu misteri, peristiwa, proses, perjuangan, kenangan dan harapan. Kadang kala berjumpa dengan yang diharapkan dan diimpikan. Namun terkadang pula situasi dan kondisinya tidak sesuai, tiba-tiba hadir dalam kehidupan kita.

Sepanjang jalan yang penulis lalui, banyak tempat dan peristiwa yang bisa diamati dan dinikmati. Kampus yang megah dengan bangunan intelektual, spiritual dan ruang aktualisasinya. Sekitarnya banyak kos dan kontrakan yang penuh oleh orang yang berdomisili sementara baik untuk mencari ilmu atau bekerja. Sebelah kanannya terdapat toko kecil dan ruko bersebelahan dan di seberangnya ada mall,sehingga tampak adanya romansa persaingan. Entah yang mana yang akan mampu bertahan, tinggal menunggu waktu.

Setelah itu kendaraan yang kami tumpangi menambah lajunya, dipinggir jalan terlihat pengemis yang menengadahkan tangan kepada orang yang ditemui.  Pengamen melantunkan lagu dengan suara merdu dengan iringan bunyi gitar, jimbe dan ecek-ecek. Sedang rekannya yang lain keliling menghampiri pendengar sembari mengais uang recehnya. Terkadang yang dihampiri ikut bernyanyi seperti menikmati.

Kendaraan kami berhenti di pertigaan lampu merah. Polisi lalu lintas asyik mengatur lalu lalang kendaraan supaya lancar, karena seringkali terjadi kemacetan. Apalagi pagi hari saat itu merupakan weekend dan sedang ada karnaval. Jalan yang kapasitasnya bertambah sedikit tidak diimbangi dengan membeludaknya jumlah kendaraan yang turun ke jalan.

Lampu hijau pun menghitung mundur, kendaraan kami berangkat lagi. Di sebelah kiri kami sedang ada pembangunan perumahan elit. Bukan untuk kalangan kelas bawah namun bagi kalangan menengah ke atas. Tukang bangunan sibuk mendandaninya sesuai rencana awal. Padahal saat ini harga material dan kayu sedang melonjak tinggi, seperti naiknya harga daging saat bulan puasa. Naiknya cepat, tetapi turunnya lama. Maklum ikut merasakan dampaknya, hehehe.

Kemudian sekitar 20 meter terdapat rumah tua seperti tiada penghuninya. Temboknya tampak lusuh, rumputnya tinggi, kembagnya seolah tidak terawat, dan kursi di teras kotor dan tidak tertata. Sebelah rumah itu ada tanah lapang seperti lapangan sepakbola, namun tiang gawangnya berkarat seolah jarang dipakai. Rumput yang tumbuh di lapangan tersebut terbilang subur, yang di dalam garis tingginya hingga di atas mata kaki, sedangkan yang di luarnya setinggi lutut orang dewasa.

Dalam diam penulis memikirkan kondisi sepakbola di negeri ini. Tempat latihannya ada tetapi tidak bisa dipakai karena belum rampung dan kesandung kasus. Tempat pemusatan latihan yang digadang-gadang menjadi ikon baru tersebut sampai sekarang masih belum jelas nasibnya. Pengurus lembaga olahraga yang melontarkan jargon "Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat" tersebut, justru kasusnya tidak sehat. Tetapi tidak semuanya yang seperti itu, hanya segelintir oknum saja.

Kemudian di seberang jalan ada kantor dinas, yang bersebelahan dengan sekolah SD, SMP dan SMA, yang gerbangnya baru dibuka. Hanya ada pak kebun yang sedang bertugas, mengalahkan pejabat dinas yang kadang-kadang telat datang walau ada rapat tentang nasib rakyat. Tukang kebun seperti pegawai sungguhan yang berwenang mengurusi keindahan dan tatanan lingkungan. Seperti biasa di depan pagar, ada pedagang kaki lima yang berderetan.

Sepanjang trotoar, gerobak mereka menawarkan jajanan ringan untuk semua kalangan, harganya pun terjangkau. Pembeli yang datang mengantri seperti antrian BBM ketika sedang mengalami kelangkaan, akibat merebaknya wacana kenaikan harga bahan bakar kendaraan. Padahal banyak yang 'nakal' menumpuk bahan bakar itu dalam jumlah banyak di gudang-gudang kosong, sehingga kelangkaan pun terjadi, hampir setiap tahun seperti itu. Antrian seperti ini sudah biasa, namun tetap budaya tertib masih dipegang oleh warga, sambil menunggu mereka bertukar cerita.

penulis merasa seperti kembali ada kenangan masa pelajar dulu. Setelah beli jajanan kemudian duduk di depan kelas untuk menyantap bersama-sama. Tertawa, bercanda ria dan bermain bersama, karena saat itu, belum ramai yang punya gadget, hehehe. Kalau sekarang kan bisa main game sendiri meskipun sedang berkumpul dengan teman-teman.

Setelah itu, penulis melihat pondok di sebelah kiri jalan. Santri-santrinya memakai peci hitam dan sarung, dengan kitab dan polpen di tangannya. Mereka berasal dari berbagai daerah, sehingga karakter, bahasa dan coraknya berbeda-beda. Ada yang diantar keluarganya dan ada juga yang tidak. Mereka belajar ngaji, hidup mandiri dan mengabdi di lingkungan pondok tersebut.

Beberapa meter dari pondok tersebut ada pabrik gula. Seperti biasa, pabrik tersebut ramai dengan antrian truk pembawa tebu. Sopirnya rela menunggu sambil merokok tapi tidak meninggalkan truknya. Namun Ada pula yang mengantri dengan istirahat di warung kopi atau di tempat lain. Tanpa mereka mungkin kita tidak bisa menikmati manisnya gula.

Meski harga gula di pasaran merangkak naik tetapi tidak membuat status ekonomi mereka ikut naik. Para Petani memasrahkan hasil panennya ke pabrik melalui beberapa tahapan, yang cenderung mencekik mereka. Apalagi jika ada permainan pasar yang tidak sehat. Sepertinya bukan hanya komoditas tebu yang mengalami fenomena ini. Padahal ada yang bilang kalau kita negara 'agraria' dan 'maritim', tetapi masih kesulitan mendapatkan bahan-bahan pokok, seperti beras dan gula. Bahkan pemerintah masih (sering) membuka kran impornya dengan lebar. Bisa dikatakan bahwa faktor penentunya terlalu banyak dan rumit.

Ketika angin yang bertiup bertambah kencang, tiba-tiba truknya berguncang karena jalannya bergelombang. Sontak seketika teman-teman perempuan berteriak, yang tidur menjadi terbangun, sedang yang laki-laki sebagian sholawat dan bernyanyi. Seolah truknya menjadi tempat konser artis luar negeri yang sering diikuti (menjadi tren setter) oleh anak muda. Kalau tidak mengikuti tren katanya tidak kekinian.

Saat itu terjadi, penulis melihat di sebelah kiri ada masjid jami' dengan ukiran kaligrafi di dindingnya. Ternyata masjid itu pernah menjadj posko pengabdian masyarakat (akronim: PM) oleh mahasiswa UIN Malang. Masjid tersebut tempat dilaksanakan pengajian rutinan, kegiatan keagamaan dan diniyah oleh warga setempat. Gerbangnya terbuka bagi pendatang yang mau beribadah dan beristirahat sejenak dari perjalanan jauh.

Tidak jauh dari sana, ada jembatan yang besinya telah berkarat. Melihat kondisinya, jembatan tersebut dibangun sudah puluhan tahun. Di bawahnya, sungai mengalirkan air ke sawah milik petani. Konon dahulu airnya bisa dipakai mandi dan minum, karena masih bersih dan bening. Namun saat ini sudah jauh berbeda, penuh dengan lumpur dan sampah yang dibuang ke sana.

Setelah melewati jembatan, kami melihat sawah dengan hamparan padi, pohon pisang, rumput gajah dan petani yang istirahat bersama istri dan anaknya di rumah-rumahan sawah yang beratapkan jerami. Kakinya masih menyisakan lumpur kering yang tampak putih. Mereka makan bersama dengan lauk seadanya, tapi wajahnya tampak bahagia, berseri-seri dan energinya pun kembali. Sosoknya pun mengendap di balik daun-daun, ketika kami melewati kebun di sebelah kiri dan kanan kami.

Udara segar dan sejuk ketika melewati kebun muncul dari rindangnya pepohonan dan semak belukar. Warna daunnya masih hijau dan tanamannya beragam. Berbeda dengan di pusat kota, hutan beton, kaca dan plastik mengganti tanaman organik. Kemudian sampailah kami di bibir pantai. Angin laut, pasir dan batu karang menyapa dengan tenang. Tidak terkecuali debur ombak yang bernyanyi gembira.

Di sana keakraban, kebersamaan dan persaudaraan kami terasa meski hanya dengan permainan sederhana dan kumpul bersama. Asal, bahasa, warna kulit dan jabatan memang berbeda, namun dalam bingkai yang sama; satu rasa, cita dan nuansa, seolah tiada yang berbeda. Semua saling membantu, mendukung, melebur dan belajar bersama.

Kekurangan anggota yang lain ditutupi dengan kelebihan yang lain, melalui tegur sapa dan kerjasama. Sesuatu yang terlupa untuk dibawa, mulai dipikirkan dan diselesaikan bersama. Keriuhan, kebimbangan, keburu-buruan, keletihan, dan kejengkelan terkadang terlukis di raut wajah mereka. Namun hanya menjadi bumbu semata, tanpa memendamnya berlarut-larut. Karena semua itu larut bersama cerita, suara, canda tawa, dan usaha mereka.

Mereka mencontohkan adanya miniatur kecil sebuah negara. Negara yang pemerintah, rakyat, perangkat dan sistemnya berjalan beriringan, bergandengan dan terintegrasi dengan baik untuk tujuan tertentu. Bukan yang mengagungkan kekuasaan, memperlebar gap dan perselisihan, membiarkan ketimpangan dan ketidakadilan, membiasakan kecurangan dan saling menjatuhkan, serta menghilangkan kepercayaan di antara mereka dan meninggalkan tujuan utama.

Seperti biasa akhir acara ditutup dengan foto bersama, ibadah berjamaah, kemas barang bergotong royong, mandi dan kumpul lagi. Kemudian satu persatu naik truk, dimana yang takut atau tidak bisa naiki truk, dibantu oleh teman-temannya yang lain. Sebelum berangkat semua berdoa dan bersholawat. Dan akhirnya beranjak pulang.

Malam bertambah gelap, peserta sebagian tidur, sementara yang lain bertukar cerita dan bernyanyi bersama. Sedangkan penulis sibuk melihat kiri dan kanan jalan. Keluar dari hutan, sebuah desa mengalami pemadaman serentak. Akhirnya mereka terpaksa menggunakan lampu minyak sebagai penerangan. Sehingga menambah romantisnya suasana desa.

Sejenak ku terlelap dan terbangun ketika truk memasuki kota. Warung-warung pinggir jalan mulai ramai dengan pengunjung sendirian dan berpasangan. Gerobak nasi goreng, sempol, cilok, jus, martabak, dan aneka kuliner lain seakan tidak mau ketinggalan. Jalanan pun semakin macet karena banyaknya kendaraan yang tumpah ke jalan, dan trotoar penuh sebagai cabang parkiran.

Kuliner di kota memang beraneka rupa dari tradisional hingga kekinian, baik yang berada di restauran, foodcourt, kantin, warung remang-remang, kedai kecil, warkop, mall, dan warung makan pinggir jalan. Wajah malam di kota cenderung ramai hingga menjemput pagi. Begitulah seterusnya, sehingga banyak orang kota yang merindukan suasana desa dan destinasi wisata.

Malam dan pagi dengan segala gejala dan isinya memberikan warna tersendiri. Itulah untaian kisah yang kami lalui. Jejak langkah tidak berhenti sampai di sini, dari bangun lalu tidur, dan bangun lagi. Semoga ada Hikmah di balik semua ini.

"Merindukan Lindu"

Menjelang pertengahan malam, tiba-tiba gempa menggoyang dengan kekuatan 6,2 skala Richter. Gejala alam tersebut seringkali terjadi di negeri ini. Saat gempa berlangsung sebagian orang berlomba-lomba keluar dari bangunan bertingkat, karena khawatir roboh. Ada yang sibuk update status dulu, kemudian menyelamatkan diri. Banyak yang tergopoh-gopoh mencari tempat yang tinggi karena takut terjadi tsunami. Bahkan ada pula yang tidak tahu kalau gempa sedang terjadi, karena asyik dengan aktifitasnya masing-masing.

Namun bagi petugas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (akronim: BNPB) ini adalah tugas kemanusiaan yang memerlukan penanganan secepat mungkin. Mereka harus melihat data dan langsung terjun ke lapangan untuk memastikan keadaan. Karena nyawa manusia sangat berharga. Dinas-dinas yang terkait biasanya ikut membantu melancarkan proses penanganan, penampungan dan pendampingan.

Namun gempa kali ini tidak begitu terdengar, hanya setengah hari kemudian pudar. Gelombang berita atau media seakan melebihi kekuatan gempa sehingga mampu mengalihkan gejala alam tersebut ke gejala sosial, politik, hukum dan budaya. Boleh jadi gempa yang menakutkan dan mengkhawatirkan telah pergi jauh, dan diganti hiburan seperti biasa. Sebentar penat, senang sejenak kemudian penat lagi.

Bagi pihak tertentu, gempa ini merupakan musibah atau teguran dari Tuhan. Pihak yang lain beranggapan kalau gempa ini hanya gejala alam biasa. Apa pun tafsiran masing-masing tepat benar sesuai sudut pandang atau alasan dari argumentasinya. Namun bertengkar untuk memperebutkan pihak yang benar -- tidaklah bijaksana, karena pertolongan pertama atau menyelamatkan jiwa korban (tindakan kemanusiaan) lah yang lebih baik.

Entah, bagaimana nasib para korban yang terkena musibah tersebut, kabarnya masih simpang siur. Pastinya mereka sedang merasakan kepedihan, kedinginan, kekhawatiran dan trauma yang mendalam. Untuk itu alangkah lebih elok jika bahu membahu membantu mereka. Walaupun mereka bukan saudara sedarah, sesuku, se-iman, bahasa dan budaya yang berbeda, tetapi masih bersaudara sesama manusia, hamba dan makhluk ciptaan Tuhan.

Perlu kiranya kita mengedepankan rasa persaudaraan, kemanusiaan dan kebersamaan, tanpa menungganginya dengan kepentingan, kedengkian dan kefanatikan. Sehingga situasi dan kondisi akan lebih cepat teratasi dan terkendali. Tentunya semua pihak harus terlibat, baik dengan menjadi relawan, donatur, tim SAR, grup Dapur umum, penjaga tenda pengungsian dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, gempa bumi (jawa: lindu) ini suatu saat akan menjadi ladang kerinduan bagi kita semua. Rindu akan indahnya keberagaman dan semangat gotong royong. Namun bukan berarti harus menunggu datangnya sang lindu, baru hidup rukun. Kerukunan merupakan salah satu jalan untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan.

Apakah ini terlalu muluk? Tentu tidak, jika kita berani melaksanakannya tanpa menonjolkan biang perselisihan. Tapi akan muluk jika selalu dibenturkan dan tidak diwujudkan. Perbedaan seringkali menjadi duri yang tajam sekaligus momok menakutkan untuk berani menerima keberagaman yang ada. Lantas bagaimanakah kita menyikapinya? Tentunya tergantung pada pribadi masing-masing.

Peristiwa atau tujuan lain seringkali menjadi media pemersatu bagi dua kubu yang sedang berjauhan. Boleh jadi gempa atau lindu kali ini adalah salah satunya. Itulah secuil hikmah di balik semua ini,semoga bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kami merindukanmu wahai Lindu, Tapi kami lebih mengharapkan kerukunan, kebersamaan, kesatuan dan kemajuan, tanpa kehadiranmu"

"Senjata Media berwajah Ganda"

Perkembangan media baik cetak maupun online dewasa ini sangat pesat. Media menjadi kiblat baru yang mengarahkan dan merubah pandangan dan kondisi sosial, politik dan budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Media dengan segala aspeknya menggerakkan pengguna, perancang, pemilik dan penciptanya untuk saling mempengaruhi dalam tingkat kesadaran tertentu.

Media dalam banyak referensi menjadi gerbang informasi, jembatan komunikasi, penyambung lidah, penentu kebenaran, penghias fenomena, penghukum dan penilai, penambah dan penguat referensi, perekat hubungan, pembelajar, pengarah dan penuntun, penghasut, pencetak, ruang kerja, marketing dan branding, dan lain-lain.

Dari sekian banyak hal terkait media, barangkali ada sesuatu yang positif dan negatif yang bisa direspon atau diambil. Bahkan boleh saja untuk tidak dipedulikan sama sekali. Semua itu tergantung dari pribadi masing-masing, mau di dalam lingkaran media, di orbit media atau di luarnya saja.

Media dalam hubungannya dengan aspek yang lain - sangat terkait bahkan tidak bisa dipisahkan. Misalnya, media dan politik, media menjadi kontrol terhadap dunia perpolitikan di wilayah tertentu. Kepentingan politik dan politik kepentingan akan mudah diketahui melalui media. Kuantitas dan kualitas berita seputar tokoh atau parpol tertentu akan lebih dominan dibandingkan yang lain. Hal ini tergantung dari kedekatan, transaksi, dan ikatan pihak yang berpengaruh dengan media tersebut.

Media dengan budaya misalnya, budaya baru cenderung akan lebih nge-tren ketika media telah mengangkat dan mengasuhnya dengan baik, melalui settingan tertentu. Sehingga masyarakat luas akan mudah merasa kalau tidak ikut-ikutan, akan dicap tidak kekinian atau ketinggalan zaman. Walaupun budaya tersebut belum tentu baik dan sesuai dengan kondisi mereka.

Dalam kondisi tertentu, isu SARA yang tayang melalui media seringkali menjadi ladang bagi pihak tertentu untuk mengambil keuntungan. Misalnya yang belakangan ini terjadi, beberapa orang merasa bahwa harus ikut menyampaikan pendapat atau kritiknya terkait isu agama di halaman media sosialnya. Entah itu dengan cara yang beretika dan tepat, ataupun tidak. Hal ini dapat membuat khalayak terprovokasi untuk melakukan pembelaan maupun perlawanan. Bahkan mampu memecah masyarakat ke dalam beberapa kelompok, baik kecil maupun besar.

Maka dari itu diperlukan proses penyaringan, verifikasi atau analisa terlebih dahulu terhadap informasi yang diterima. Jangan sampai membiasakan klik dan sebar tanpa membacanya dengan cermat. Padahal informasi tersebut mengandung ujaran kebencian, penipuan, penghasutan, dan konten lain yang negatif. Satu klik bisa mendidik, bisa juga mencekik; satu kali sebar mampu mengajar, juga menghajar.

Hal ini sering terjadi, sehingga menimbulkan keresahan, kegaduhan, perselisihan, bahkan rusaknya persaudaraan, persatuan dan kesatuan. Boleh jadi karena kecerobohan kita akan membuat orang lain rugi dan celaka. Terlebih lagi jika hal itu berdampak secara luas dan sistemik. Maka berhati-hati dan bijaksanalah dalam memanfaatkan media.

Media seperti belati yang sangat tajam, bisa jadi menusuk yang di dekatnya atau yang memegangnya. Namun belati tersebut bisa digunakan untuk mengiris makanan, memotong batang, mencincang daging, dan keperluan lain dalam kehidupan sehari-hari. Belati tersebut harus disiapkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Jika yang memegang tidak mengerti fungsinya atau salah dalam menempatkan manfaatnya maka akan berakibat fatal.

"Media merupakan senjata yang ampuh jika disepuh, tetapi sangat rapuh jika berada di tangan penempuh yang salah asuh"

"Bunga yang Beku"

Di bawah cahaya rembulan angin datang menusuk tulang
Iblis putih sedang menutup pandangan
Kesunyian malam mengikis kehangatan
Tiba-tiba kau datang tanpa senyuman
Seketika malam membeku laksana gumpalan
Bertahan bak gunung es di kutub selatan
Meski ku belai dengan rayuan
Ku berikan sekuntum wewangian
Ku dirikan istana megah dan berlapis berlian
Tiada sedikit pun kau berubah haluan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam rumah impian
Temanilah daku ke taman keindahan
Di sana hanya ada cinta dan kedamaian
Bukan permusuhan dan perang berkelanjutan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam pelukan
Temanilah daku terbang melintasi awan
Di sana hanya ada persaudaraan dan kebersamaan
Bukan ketakutan dan perpecahan

Wahai bungaku
Kembalilah ke atas pangkuan
Temanilah daku melayang ke alam harapan
Di sana hanya ada perjuangan dan kerelaan
Bukan kekhawatiran dan keterpurukan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam ingatan
Temanilah daku menyusuri bekunya pikiran
Di sana tampak ada kemampuan dan keluasan
Bukan kedangkalan dan kefanatikan

Wahai bungaku
Kembalilah ke dalam jiwa
Temanilah daku meresapi cahaya
Di sana hanya ada kenikmatan dan keutuhan
Bukan kemurkaan dan kesesatan

Wahai bunga yang beku
Kembalilah kepadaku
Tetaplah di sisiku
Karena hanya kau jalanku
Sekaligus tongkat dan alat bagiku

"Pahlawan milik siapa?"

Sebentar lagi hari bersejarah terulang kembali, 10 November. Orang-orang biasa menyebutnya dengan "hari pahlawan". Pahlawan bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Lantas manakah pahlawan yang sesuai dengan tanggal tersebut?

Sebelumnya mari kita simak definisi pahlawan. Menurut KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 33 tahun 1964 tentang penetapan, penghargaan, dan pembinaan terhadap pahlawan Bab I Pasal 1, yang dimaksud dengan pahlawan dalam peraturan ini adalah sebagai berikut.

(1) Warga Negara Republik Indonesia yang gugur, tewas atau meninggal dunia akibat tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa penjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan bangsa. (2) Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridhai dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan bangsa dan dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya.

Menurut pengertian tersebut, maka untuk menjadi seorang pahlawan nasional harus memenuhi syarat atau kategori tertentu. Syarat tersebut ada dua: syarat umum dan syarat khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 26 UU No. 20/2009, yaitu:

Syarat umum (Pasal 25 UU No. 20/2009): WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI; Memiliki integritas moral dan keteladanan; Berjasa terhadap bangsa dan negara; Berkelakuan baik; Setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara; dan Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

Adapun Syarat khusus diatur pada Pasal 26. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan yang semasa hidupnya: (a) pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa; (b) tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; (c) melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya; (d) pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara; (e) pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa; (f) memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau (g) melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Untuk itu setiap orang atau kelompok berhak dan berkesempatan mengajukan pahlawan berdasarkan penilaian dan pertimbangannya. Pengajuan tersebut mengikuti prosedur tertentu yang telah diatur oleh pemerintah. Namun kadang kala akan menimbulkan pro dan kontra pada proses pencalonan, terkait tokoh yang dicalonkan.

Hal ini terjadi karena tokoh tersebut kontroversial, tersandera kasus yang menggantung, adanya kepentingan, menimbulkan konflik, berpengaruh secara signifikan atau sistemik, dan kontribusinya. Pemberian gelar tersebut menghabiskan waktu yang cukup lama. Karena bukan gelar yang asal-asalan atau sekedar hiburan. Namun boleh jadi gelar tersebut setelah disematkan akan dicabut kembali, jika tidak sesuai atau melanggar syarat tersebut.

Sebenarnya seberapa sakti kah gelar pahlawan yang diberikan kepada seseorang. Apakah kemudian gelar itu membawa perubahan yang baik atau sebaliknya? Akankah dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk kepentingan sesaatnya? apakah hanya tambahan semata? Apakah akan lupa dengan gelar pahlawan yang telah diraih?

Pertanyaan tersebut akan menemukan jawabannya sendiri di kemudian hari. Tentunya kita berharap indonesia tetap meneruskan semangat juang dan pengabdiannya untuk negeri ini. Terlebih di segala aspek kehidupan baik berbangsa, bernegara, berbudaya dan beragama.

Pahlawan bukan milik satu atau dua orang. Namun terlampau menokohkannya akan membuat generasi ke depan akan fanatik dan lupa. Sehingga pahlawan bukan hanya menjadi simbol dan monumen mati yang kering dengan pelajaran, kebaikan dan instrumen masa depan. Semoga pahlawan tidak akan berhenti sampai di sini.

"Sumpah itu (bukan) Sampah"

Wahai lembaran sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang Di tangan kami tertumpah darah-darah rakyat
Tulang belulang mereka hancur berserakan berhamburan di tanah
Tanah bekas keringat-keringat jerih payah
Lumbung dan hartanya telah terkuras habis
Oleh Iming-iming balas budi dari sisa
Yang kami curi
Kau sengsara pun kami tiada sedikit peduli
Sebab kau rela mati di tangan temanmu sendiri dan rakyat pribumi
Kaum berdasi dan lintah luar negeri

Wahai bait-bait sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang hutan rindang, kami ganti dengan hutan buatan yang megah menjulang
Sehingga tampak dari kacanya tubuh-tubuh ringkih yang menahan kelaparan kepedihan dan kesengsaraan
Wajah mereka meringis menepis tangis
Yang sebentar lagi habis kemudian mengemis

Wahai barisan sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang Proyek abal-abal yang berjubel di atas kertas tebal
Hanya untuk mengisi kantong kami menjadi tebal
Walau hanya dengan bermuka tebal
Sedikit bulus seolah memang tulus
Asal jalannya mulus tanpa ada yang jegal
Meski kalian kian kurus
Kami tak sudi tuk ikut mengurus
Yang penting aksesoris kami berbaris Pakaian kami elegan, menawan dan merk kenamaan
Rumah kami luas, tinggi nan megah Mobil kami banyak, bening dan mahal
Asal hidup kami semakin bagus dan tidak asal-asalan

Wahai suara sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Sedang suara rakyat, kami cekik atas nama kebenaran
Tumpukan aspirasi mereka tertahan di tangan perwakilan
Terhalang dinding-dinding kekuasaan
Berkali-kali turun aksi tuk merebut hak kami
Namun semua itu hanyalah suara bising yang tampak tak berisi
Sebab pos-pos penting telah diisi dan digerogoti
Kerobohan kalian adalah anugerah tuk mengakar kuasa yang kian kokoh
Kecerobohan kalian kan jadi celah yang mudah tuk dikecoh

Wahai penggalan sumpah
Pantaskah kami bersumpah atas nama pemuda pemudi?
Padahal dulu kami yang memutar balikkan sejarah
Menjerat dengan data buta
Memasukkan kalian ke lubang pro kontra
Hingga dalang di baliknya tertawa sepuasnya

Andai sumpah ini bukanlah serapah bukan pula sebagai sampah
Masih pantaskah kami bersumpah?

"Seandainya Saya (bukan) Pahlawan"

Dulu bersatu padu merebut 'merdeka'
Semangat juang berkobar dimana-mana
Pekik suara membumbung di udara
Coretan perlawanan terukir di tembok-tembok dan jalan raya
Di spanduk dan selebaran yang ditebar bak spora
Di pagar dan atap rumah yang terjangkau mata

Angkat senjata hantam jantungnya
Serbu menyerbu di medan laga
Gegap gempita menggugat rasa
Komat kamit merapal kata
Mengajak semesta tuk bergerak bersama
Sebab angka telah jauh berbeda

Jeritan pedih tertembak pelor dan ledakan bom penjajah
Bercampur darah yang tertumpah di tanah
Mengalir bagai bara lahar yang terlampau merah
Tangis perih merembah ke sekujur tubuh
Meregang nyawa di ujung galah
Hanya untuk masa depan yang cerah

Jasad-jasad berserakan di haribaan
Terbaring dalam kerelaan
Tulang belulang hancur berhamburan
Terpisah dari jiwa yang mencari jalan
Namun gugurmu masih melekat di ingatan
Di antara suara-suara yang diluapkan
Di dalam karya yang dihadirkan
Di tengah perubahan yang bergerak ke depan

Kini kau telah tiada
Mendahului kita semua
Pahlawan yang ada beragam warna dan rupa
Karena orang terdekatnya
Untuk kawan dan lawannya
Demi kepentingan sesaatnya
Namun Pahlawanku berlaku apa adanya
Walau terkadang lupa kalau dia pahlawan jua

"Dia"

Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata-kata
seindah dirimu
Aku bukan raja yang terbiasa bersikap tegas
seperti dirimu
Aku bukan orator yang handal meramu wicara tatkala bersuara
selancang dirimu
Aku bukan seniman yang lihai menata estetika
Sebaik dirimu

Tapi izinkanlah aku selalu mencintamu di dalam setiap hembusan nafasku
Izinkanlah aku berbagi warna dalam barisan pelangi hidupmu
Izinkanlah aku merindu melalui bait-bait doa di setiap ibadahku
Izinkanlah aku mendampingi di beragam keadaanku
Izinkanlah aku bersama melalui  lembaran ceritaku
Izinkanlah aku hadir di tengah-tengah perjalanan waktumu
Dan izinkanlah aku menjadi seorang yang layak untukmu
Untuk sanak familimu
Untuk negerimu
Juga dunia akhiratmu

"Batas Samar di Antara Kita"

Belakangan ini tersiar kabar akan ada aksi besar-besaran di Ibukota, Jakarta. Aksi yang akan berlangsung pada 4 November 2016 mendatang bertemakan aksi bela islam, menolak penistaan agama. Hal ini didasari pernyataan gubernur Jakarta, biasa disapa Ahok, beberapa waktu lalu. Massa yang akan turun jalan tersebut berkisar antara ratusan bahkan ribuan orang. Berapa pun jumlahnya akan terasa nantinya.

Menurut penulis, pesertanya adalah kebanyakan orang islam, namun boleh jadi ada penumpang lain yang ikut-ikutan. Penumpang ideologis, organis bahkan praktis. Sepertinya pakaian yang menunjukkan identitas mereka ketika turun jalan hari itu adalah berwarna putih. Latar belakang pemilihan warna pakaiannya hanya yang mengkonsep dan yang ikutlah yang lebih tahu. Yang penulis bisa katakan, "bukan unsur kebetulan".

Mendengar kabar tersebut, aparat berwenang sudah bersiap-siap merapatkan barisan untuk menerjunkan personilnya. Tidak mau ketinggalan, media sudah mempertimbangkan angle berita yang akan diangkat dan disiarkan. Masyarakat sekitar pun sudah berpikir untuk mencari jalan alternatif agar tidak kena macet. Padahal jakarta sudah terbiasa dengan kemacetan. Pedagang pinggir jalan juga sudah menambah kuantitas barang dagangannya, karena berharap mendapat tambahan penghasilan dari massa yang datang.

Kalau terjadi aksi pada hari itu, sudah dipastikan jakarta menjadi tambah ramai. Atribut dan sorak-sorai jargon yang diluapkan ke udara tidak hanya tersiar di sekitar ibu kota, melainkan hingga ke pelosok desa. Orang-orang yang awalnya membicarakan persoalan air yang macet, banjir yang meluap ke bahu jalan, sawah yang gagal panen, pemilu yang sebentar lagi tiba, kasus pembunuhan jesica-mirna, koruptor yang tertangkap basah, pejabat yang melakukan pungli, mahasiswa yang menuntut kasus kejahatan HAM, beralih ke bahasan terkait aksi itu. Aksi tersebut seakan menjadi magnet baru di awal november ini.

Mengingat ramainya obrolan terkait aksi tersebut, perlu kiranya kita menepi bersama sunyi dan merenungkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Pergi camping bersama keluarga atau teman ke pantai atau gunung yang lebih sepi dan udaranya menyegarkan, menjadi pilihan. Di tempat itu kita bisa menghilangkan penat, mempererat persaudaraan, belajar memahami orang lain, belajar kesederhanaan, menghargai perbedaan, menikmati perjalanan, kebersamaan, suasana alam dan bermain bersama.

Daripada menyebar ujaran kebencian, menebar virus berbau SARA, merusak ketertiban dan fasilitas umum, membenci satu sama lain, memperluas pertikaian dan keberpisahan, dan terlebih lagi merongrong kedaulatan negara. Di satu sisi kita bisa puas dengan perlakuan kita, namun di sisi lain bisa mengganggu orang lain. Bukankah kita juga tidak senang diperlakukan seperti itu.

Hal ini penulis sampaikan karena di beberapa media sosial (akronim: medsos) sudah ada yang menghujat Ahok habis-habisan. Pihak lain yang pro Ahok mendukungnya habis-habisan pula. Pengguna medsos seakan terpecah ke dalam dua kubu yang entah diinginkan secara sadar apa tidak, tapi itulah yang terjadi. Sehingga gesekan antara keduanya masih terus terjadi dan boleh jadi berdampak ke orang lain di luar kubu itu.

Namun penulis membayangkan kalau ada keterkaitan dengan isu-isu lain yang lebih serius, boleh dikatakan ini bukanlah masalah sepele. Namun jika tidak ada hubungannya dengan yang lain, ini bisa segera diselesaikan oleh pihak yang menuntut dan yang dituntut dengan cara damai atau jalan hukum, tanpa mengikut sertakan masyarakat luas. Karena kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan sendiri atau golongannya.

Penulis berharap apapun yang terjadi sebelum dan sesudah aksi tersebut, tidak membuat kita kian anarkis, arogan, tidak adil, merasa paling hebat dan benar, terpecah belah, tidak suka berdialog, saling menjatuhkan, suka diadu domba dan mencari kambing hitam serta berbalik arah menjauhi norma dan ajaran yang selama ini kita yakini masing-masing. Aksi tersebut disadari atau tidak, akan mengukir sejarah di negeri ini. Sejarah yang kita buat dan saksikan sendiri, apa pun itu. Entah hari ini, esok hari atau lusa nanti.

"Mari kita sama-sama untuk tidak berhenti mengintrospeksi diri, belajar lagi, dan kembali"